Berita Viral

Imbas Siswa Gelar Perpisahan Sekolah di Diskotek: Ternyata Diprotes Wali Murid, Ini Kata Pengamat

Kasus viral siswa gelar acara perpisahan sekolah di tempat hiburan malam kini malah berbuntut panjang. Ternyata diprotes sebagian wali murid.

kolase instagram
PERPISAHAN SEKOLAH VIRAL - Kolase tangkap layar video viral acara perpisahan sekolah di Kalsel digelar di tempat hiburan malam atau diskotek. 

SURYA.co.id - Kasus viral siswa gelar acara perpisahan sekolah di tempat hiburan malam alias diskotek kini malah berbuntut panjang.

Terungkap ternyata acara perpisahan sekolah tersebut sempat diprotes oleh sebagai wali murid.

Fenomena ini juga memicu tanggapan dari Pengamat pendidikan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Reja Pahlevi.

Diketahui, sebuah acara perpisahan siswa dari sebuah sekolah negeri di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, menuai sorotan publik setelah diketahui berlangsung di sebuah tempat hiburan malam.

Diprotes Wali Murid

Peristiwa ini ternyata menyulut pro dan kontra di kalangan masyarakat, terutama orang tua siswa.

Acara perpisahan tersebut digelar di Hexagon, Banjarmasin. Meskipun diselenggarakan pada pagi hingga siang hari, lokasi ini memicu kecaman dari sebagian orang tua siswa.

Mereka merasa lokasi tersebut tidak layak untuk sebuah acara yang seharusnya menjadi momen penting dalam perjalanan pendidikan anak-anak mereka.

Salah satunya adalah Jamhuri, orang tua siswa asal Desa Pemakuan, Kecamatan Sungai Tabuk. Ia memilih untuk tidak mengizinkan anaknya mengikuti kegiatan perpisahan tersebut.

“Saya tidak mengizinkan anak saya ikut karena tempatnya. Kalau soal biaya, kami masih bisa mengusahakan. Tapi saya minta anak saya tidak ikut karena tempatnya tidak pantas,” ujar Jamhuri pada Sabtu (10/5/2025), melansir dari Banjarmasin Post.

Ia mengaku telah meminta anaknya untuk menyampaikan penolakan tersebut kepada panitia.

Baca juga: Alasan Siswa Gelar Perpisahan Sekolah di Diskotek, Kepala Sekolah Tahu Acara Digelar Siang Hari

Diketahui, biaya partisipasi untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan perpisahan sebesar Rp350.000 per siswa.

Jamhuri menegaskan, dirinya siap jika keputusan tersebut berdampak pada pengambilan dokumen kelulusan anaknya.

“Kalau nanti ada keperluan pengambilan rapor atau ijazah, saya akan datang langsung ke sekolah,” tegasnya.

Peristiwa ini semakin memperlihatkan adanya ketegangan antara tradisi perpisahan yang semakin mewah dan regulasi yang telah diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved