Nasib SDN Berprestasi Yang Lahirkan Presiden Sekaliber SBY, Bakal Digabung Sekolah Lain di Pacitan

Selain karena berprestasi, ternyata karena SDN 1 Baleharjo merupakan sekolah masa kecil Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Penulis: Pramita Kusumaningrum | Editor: Deddy Humana
surya/Pramita Kusumaningrum (pramita)
SEKOLAH KEPALA NEGARA - Suasana SDN 1 Baleharjo di Kecamatan/Kabupaten Pacitan, yang menjadi salah satu sekolah yang akan digabung. SDN 1 Baleharjo merupakan sekolah masa kecil Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

SURYA.CO.ID, PACITAN - Penggabungan sekolah yang biasa disebut merger atau regrouping terjadi karena beberapa faktor.

Misalnya karena salah satu sekolah kekurangan anak didik atau pengajar, atau untuk memperbaiki kualitas belajar mengajar.

Kemungkinan juga karena efisiensi anggaran pendidikan. Rencana penggabungan SDN 1 Baleharjo dengan SDN Baleharjo 2 di Kabupaten Pacitan malah sempat menuai penolakan dari jajaran komite sekolah dan alumni.

Padahal kedua SDN itu termasuk dari 16 Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang akan digabung tahun ini.

Selain karena berprestasi, ternyata juga karena SDN 1 Baleharjo merupakan sekolah masa kecil Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Wajar kalau para wali murid melalui komite sekolah menyatakan keberatan atas rencana penggabungan itu.

“Ini sekolahnya bapak SBY, Belum lagi prestasi sekolahnya,” ungkap Ketua Komite SDN 1 Baleharjo, Mohtarom, Kamis (17/4/2025).

Mohtarom menjelaskan faktor lain juga menjadi pertimbangan para wali murid menolak rencana penggabungan sekolah itu.

“Regrouping akan berdampak secara ekonomi bagi para wali murid yang sebagian besar bekerja sebagai petani,” kata Mohtarom.

Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Pacitan, Wahyono mengaku bahwa ada penolakan atas rencana penggabungan SDN 1 Baleharjo dengan SDN 2 Baleharjo. 

“Memang dulu kita gulirkan wacana regrouping itu. Dan sebagian tokoh masyarakat serta alumni menolaknya,” kata Wahyono.

Kemudian ada konsultasi publik yang menghadirkan camat, lurah, tokoh masyarakat, alumni dan komite. “Konsultasi publik itu dihadirkan camat, lurah, tokoh masyarakat, alumni dan komite. Semua mendukung,” klaim Wahyono. 

Sehingga, kata Wahyono, penolakan atas rencana penggabungan itu hanya pada awalnya saja. Tetapi ia tidak menjelaskan alasan penggabungan sekolah masa kecil SBY itu.

“Jadi awalnya ada isu di mana sebagian orang menolak. Kami lakukan konsultasi, termasuk menyampaikan alasan pemerintah seperti meningkatkan mutu pendidikan,” pungkasnya. ****

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved