Kamis, 7 Mei 2026

Gerakan Cabut Paku Warnai Peringatan HUT ke-57 SMAK Tulungagung

Dengan teliti mereka mencari setiap paku yang menancap di batang pohon yang ada di tepi jalan protokol ini.

Tayang:
Penulis: David Yohanes | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/david yohannes
Siswa SMAK St Thomas Aquino Tulungagung mencabut paku yang tertancap di pohon tepi Jalan WR Supratman, Pasar Wage Tulungagung. 

Salah satu alumni SMAK Tulungagung adalah Gatut Sunu Wibowo, calon bupati yang mendapat suara terbanyak pada Pilkada 2024 lalu.

Winarto mengaku mendukung komitmen sosial dan kepedulian lingkungan hidup dari pemimpin baru di bawah Gatut Sunu.

“Bersama-sama kita menjadikan Tulungagung bersih, Tulungagung cemerlang, dan tempat buat budaya klasik kegotongroyongan,” tambahnya.

Menurut Ketua Panitia sekaligus Wakil Forum Komunitas Hijau (FKH) Tulungagung, Hariyadi, ada 375 siswa yang terlibat dalam kegiatan.

SMAK Tulungagung telah menjadi bagian dari jaringan sekolah Adiwiyata Mandiri yang punya komitmen menjaga lingkungan.

Gerakan cabut paku ini bagian dari komitmen pemeliharaan, penanaman dan pembibitan pohon

“Gerakan cabut paku jarang dilakukan dan banyak yang tidak peduli. Masyarakat juga tidak peduli,” ucap Hariyadi.

Jika pohon dipaku maka jaringan kulit akan rusak sehingga rawan terjadi infeksi hama, mati kemudian tumbang.

Paku juga menyebabkan jaringan dalam pohon juga rusak.

Karena itu pohon tidak boleh dipaku, hanya boleh diikat  misalnya untuk kepentingan pemasangan materi iklan.

“Saat musim politik kami didebat karena ada yang menolak pencabutan paku, mereka meminta regulasi. Padahal regulasinya sudah jelas,” tegas Hariyadi.

BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved