Senin, 27 April 2026

Harlah Nahdlatul Ulama

Harlah Nahdlatul Ulama 2025 Menurut Kalender Hijriyah dan Sejarah Singkatnya

Hari Lahir atau Harlah Nahdaltul Ulama (NU) adalah 16 Rajab 1344 H, bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
kompas.com
Nahdlatul Ulama (NU) 

SURYA.co.id - Hari Lahir atau Harlah Nahdaltul Ulama (NU) adalah 16 Rajab 1344 H, bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M.

Menurut Kalender Hijriyah Kementerian Agama (Kemenag), 16 Rajab 1446 H jatuh pada 16 Januari 2025.

Ada banyak cara memperingati Harlah Nadlatul Ulama. Masyarakat Nahdliyin biasa meramaikannya dengan tahlilan, pengajian, serta berbagai acara keagamaan lainnya. Sebagai pengingat, berikut sejarah singkat berdirinya Nahdlatul Ulama atau NU.

Sejarah singkat Nahdlatul Ulama (NU)

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia oleh sejumlah ulama yang berasal dari kalangan pesantren.

KH. Hasyim Asy'ari adalah tokoh utama dalam pendirian NU, dan menjadi pemimpin pertama organisasi ini.

Para ulama pesantren mendirikan organisasi NU di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah di Kertopaten, Jombang, Jawa Timur.

Saat mendirikan NU, para kiai juga berdiskusi mengenai nama organisasi yang akan digunakan.

Meskipun ada usulan nama "Nuhudlul Ulama" yang berarti kebangkitan ulama, KH Mas Alwi Abdul Aziz kemudian mengusulkan nama "Nahdlatul Ulama."

Alasan di balik nama tersebut adalah bahwa "Nahdlatul" berarti kebangkitan yang telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.

Dengan demikian, NU bukanlah sebuah hasil yang tiba-tiba, melainkan kelanjutan dari perjuangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang memiliki sanad keilmuan dan perjuangan yang sama dengan ulama-ulama sebelumnya.

Pendirian NU melibatkan sejumlah tokoh ulama, antara lain:

  1. KH Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang, Jawa Timur)
  2. KH Abdul Wahab Chasbullah (Tambakberas, Jombang, Jawa Timur)
  3. KH Bishri Syansuri (Jombang, Jawa Timur)
  4. KH Asnawi (Kudus, Jawa Tengah)
  5. KH Nawawi (Pasuruan, Jawa Timur)
  6. KH Ridwan (Semarang, Jawa Tengah)
  7. KH Maksum (Lasem, Jawa Tengah)
  8. KH Nahrawi (Malang, Jawa Tengah)
  9. H. Ndoro Munthaha (Bangkalan, Madura)
  10. KH Abdul Hamid Faqih (Sedayu, Gresik, Jawa Timur)
  11. KH Abdul Halim Leuwimunding (Cirebon, Jawa Barat)
  12. KH Ridwan Abdullah (Jawa Timur)
  13. KH Mas Alwi (Jawa Timur)
  14. KH Abdullah Ubaid dari (Surabaya, Jawa Timur)
  15. Syekh Ahmad Ghana’im Al Misri (Mesir)

Selain itu, beberapa ulama lainnya yang juga hadir pada saat itu tidak tercatat namanya.

Substansi pendirian NU tidak terlepas dari ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma’ ulama terdahulu.

Mengutip Gramedia, menurut K.H. Mustofa Bisri, NU memiliki tiga substansi utama:

  • Syariat Islam: sesuai dengan ajaran dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali).
  • Perspektif tauhid (ketuhanan): mengikuti ajaran Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi.
  • Dasar-dasar tasawuf: mengikuti ajaran Imam Abu Qosim Al-Junaidi.
    Berdirinya NU juga mencerminkan integrasi ide-ide Sunni yang berkembang, memilih pendapat yang dianggap benar, seperti pandangan Hasan al-Bashri terkait Qodariyah yang kemudian dipandang sebagai bagian dari Ahlussunnah wal Jama'ah.
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved