Pelajar Di Semarang Tewas Ditembak

4 Kejanggalan Kasus Polisi Tembak Mati Pelajar di Semarang, Mengapa Orangtua Korban Menutup Diri?

Terungkap sejumlah kejanggalan kasus polisi tembak mati pelajar SMK di Semarang. Mengapa orangtua korban kompak diam?

Editor: Musahadah
kolase tribun jateng
Lokasi tempat pelajar SMK ditembak polisi Polrestabes Semarang hingga tewas. Klaim Kapolrestabes Semarang soal korban anggota gangster dibantah satpam. 

"Kalau korban tergabung gangster kami tidak tahu. Namun, rekam jejak mereka (korban) itu baik dan berprestasi." 

"Jadi dihubungkan ke gangster kesimpulan kami ya tidak," terang staf kesiswaan SMK N 4 Semarang, Nanang Agus B.

3. Keluarga korban menutup diri

Tiga keluarga korban penembakan pelajar SMK N 4 Semarang oleh Aipda RZ anggota Satresnarkoba Polrestabes Semarang memilih menutup diri.

Tribun menemui tiga keluarga ini. Namun, mereka memilih menutup pintu.

Keluarga korban tewas GRO (17) ketika didatangi di kediamannya di Kembangarum, Semarang Barat langsung meminta untuk meninggalkan lokasi ketika Tribun berupaya melakukan konfirmasi, Senin (25/11/2024) sekira pukul 11.00 WIB. 

Alasan keluarga ini, masih berkabung. Mereka mengaku akan memberikan keterangan selepas berduka. 

Sehari kemudian, Tribun mendatangi rumah dua korban selamat masing-masing AD  (17) dan SA (16).

SA tinggal di Kecamatan Tugu bersama kedua orangtuanya. Keluarga SA enggan menemui. Alasan keluarga, SA masih trauma berat soal kasus ini.

"SA ini jarang keluar malam. Makanya kami kaget dengan adanya kasus ini," kata ketua RT, Aris Widarto.

Tribun kemudian mendatangi rumah AD di wilayah Ngaliyan. Tribun sempat bertemu AD dalam proses pra rekontruksi, Selasa (26/11/2024) pagi.

Siang harinya, AD ternyata belum di rumah. Dia masih di kantor polisi.  ketika menyambangi rumah AD, nenek korban menolak diwawancarai.

Para tetangga menyebut, AD tinggal di Semarang bersama neneknya. Sedangkan orangtuanya di Magelang. "AD ini anak baik. Jadi kami kaget adanya kejadian ini," tutur Ketua RT, M Wakimin.

Tertutupnya para keluarga korban membuat sejumlah pihak kesulitan untuk memberikan bantuan hukum.

"Kami mau membantu tapi para keluarga korban belum membuka diri," kata Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Penyambung Titipan Rakyat (LBH Petir) Jawa Tengah Zainal Abidin.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved