SURYA Kampus
Dulu Sering Diejek dan Dibedakan hingga Sakit Hati, Gadis Tunarungu Kini Berhasil Lulus dari UGM
Dulu sering diejek dan dibeda-bedakan hingga sakit hati, seorang gadis Tunarungu kini berhasil lulus dari UGM.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Putra Dewangga Candra Seta
SURYA.co.id - Dulu sering diejek dan dibeda-bedakan hingga sakit hati, seorang gadis Tunarungu kini berhasil lulus dari UGM.
Dia adalah Nikita Nur Hijriyati
Nikita merupakan penyandang disabilitas Hard of Hearing dan minor cerebral palsy yang bersyukur usai berhasil lulus dari program studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan UGM.
"Saya bersyukur bisa lulus dan diwisuda dari Program Studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan. Alhamdulilah," katanya dikutip dari rilis di laman resmi UGM.
Nikita menjalani pendidikan yang tidak selalu mulus.
Baca juga: Perjuangan Gayuh Penyandang Bipolar Jadi Wisudawan Berprestasi UGM, Dulu Kuliah Sambil Rawat Jalan
Diketahui ia sudah menyandang minor celebral palsy sejak lahir.
Ia hampir tidak bisa berjalan, namun takdir berkata berbeda dan Nikita mampu berjalan secara normal pada umur 2 tahun.
Sejak saat itu tidak ada masalah dengan pendengarannya hingga akhirnya jatuh sakit saat berada di tingkat Sekolah Dasar (SD).
Karena penyakit itulah pendengarannya mulai mengalami gangguan. Nikita selalu bersekolah di sekolah umum dan tidak pernah di sekolah luar biasa karena keputusan orangtua.
Keadaan yang dialaminya membuat Nikita kerap mendapat diskriminasi baik dari teman atau guru.
Semangatnya yang tidak pernah padam membuat alumni SMP IT Az-Zahra Sragen itu bisa masuk ke sekolah favorit di kotanya yakni SMA 1 Sragen.
Namun, ia hanya menempuh pendidikan di sana selama dua semester karena mengaku tidak betah dengan perlakuan teman-teman dan guru.
"Kendalanya saya didiskriminasi, dan sama teman pernah diejek juga. Karena tidak bisa berolahraga, saya selalu ada tugas tambahan untuk pelajaran olahraga.
Untuk teori saya bisa, dan sempat masuk SMA 1 Sragen selama setahun. Tetapi kemudian pindah karena tidak betah dengan perlakuan teman dan guru," jelasnya.
Tidak berhenti di sana, saat kelas XI SMA ia kembali mengalami kejadian yang tidak mengenakan.
Bagaimana tidak, putri Suripto ini dikeluarkan dari kelas ekonomi saat ulangan harian.
Hal ini dikarenakan guru pengampu tidak tahu bila dirinya tidak bisa mendengar dan menulis cepat.
Kejadian ini begitu melukainya dan membuatnya sempat membenci pelajaran ekonomi.
Baca juga: Sosok Fahmi Anak Pedalaman Ambon Diterima S2 di 43 Kampus Luar Negeri, Dulu Lulusan Sasindo UGM
Walaupun ada kebencian pada mata pelajaran tertentu, Nikita mengaku menyukai pelajaran geografi namun dia kuliah pada prodi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan UGM.
Ketika berkuliah, kebencian itu memudar hingga akhirnya berhasil menyelesaikan studi.
"Sempat saya benci mata pelajaran ekonomi. Namun seiring setelah kuliah, saya menjadi suka ekonomi. Terima kasih untuk Kak Jesita Mapres FEB angkatan 2016 telah membuat saya sadar bahwa ilmu ekonomi ini amat luar biasa," ungkapnya.
Menurut Nikita, UGM sudah cukup mampu memberikan layanan yang dibutuhkan mahasiswa disabilitas.
Sebagai penyandang hard of hearing, selama berkuliah ia mengandalkan lip reading atau membaca gerak bibir untuk menangkap materi.
Meskipun begitu, ia bersyukur karena dosen memperlakukannya dengan baik.
Selalu ada jalan untuk memudahkan perkuliahan terutama dalam hal praktikum atau tugas-tugas presentasi.
"Para dosen baik, dan memaklumi tulisan tangan saya buruk karena tidak bisa menulis rapi," akunya.
Momen Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi yang paling berbekas dalam masa kuliah Nikita.
Kala itu ia ditunjuk menjadi koordinator mahasiswa tingkat sub-unit (kormasit) meskipun KKN dilaksanakan secara daring.
Selain itu, ia juga sosok yang aktif berkegiatan di UK Peduli Difabel UGM.
Bersama teman-temannya yang telah dianggap sebagai keluarga sendiri, mereka memperjuangkan pendirian Unit Layanan Disabilitas.
Nikita berhasil lulus dari UGM dengan IPK 3,37.
Kini ia berharap bisa mendapat pekerjaan yang layak, melanjutkan pendidikan S2 dengan pembiayaan LPDP dan bisa terus berkontribusi untuk masyarakat terutama dalam memperjuangkan hak disabilitas.
Untuk UGM sendiri, ia berharap ke depannya ada kerja sama antara kampus dengan pihak lain untuk penyediaan lapangan kerja lulusan disabilitas.
Hal ini mungkin akan segera terwujud melalui Unit Layanan Disabilitas yang sebentar lagi segera diresmikan.
"Saya berharap nantinya ada semacam kerja sama antara kampus dengan pemerintah, perusahaan, organisasi terkait penyediaan lapangan kerja untuk fresh graduate disabilitas," pungkasnya.
Sebelumnya, ada juga sosok pengidap bipolar yang berhasil menjadi wisudawan terbaik Fakultas Psikologi UGM tahun 2023.
Ia adalah Mlathi Anggayuh Jati, atau yang lebih akrab disapa Gayuh.
Gayuh berhasil membuktikan, bahwa kondisi yang harus menjalani rawat jalan tak menghalanginya untuk berprestasi.
Dilansir dari laman UGM, Gayuh mengaku didiagnosis mengidap gangguan bipolar pada 2020 lalu.
Kondisi tersebut membuat Gayuh harus membagi waktu antara kuliah dan menjalani serangkaian pengobatan di rumah sakit.
Tentu bukan hal mudah untuk Gayuh.
”Sejak awal tahun 2020, saya mendapatkan diagnosis gangguan bipolar dan harus mengikuti serangkaian terapi pengobatan dengan psikiater dan psikolog,” ujarnya.
Ia seringkali merasa kesulitan untuk mengelola diri dan membagi waktu untuk kuliah.
Beberapa kali ia harus mengikuti kelas online dari rumah sakit karena sedang menunggu antrian obat.
Tak jarang pula, Gayuh juga harus mengerjakan tugas kuliah dan tugas-tugas lain saat menunggu antrian periksa dokter.
Sesi diskusi, kerja kelompok, ataupun pengerjaan tugas dan persiapan lomba tetap diikutinya, bahkan ketika sedang menjalani rawat inap di rumah sakit.
Meskipun terlihat memaksakan diri, bagi Gayuh, pertarungan ini dilihatnya sebagai sebuah cara untuk tetap termotivasi dan tetap melangkah walaupun kondisinya sedang tidak optimal.
Sejak awal, Gayuh berusaha terbuka kepada orang-orang di sekelilingnya mengenai kondisi sakit yang dialaminya dan berusaha untuk mengkomunikasikan keluhan sakitnya sebaik mungkin.
Seperti pada saat kondisi kesehatannya sedang tidak baik, Galuh membiasakan untuk menceritakan hal ini kepada orang tua dan teman-teman terdekatnya.
”Saya berusaha memberikan kabar kepada dosen ataupun teman-teman lain yang sedang memiliki kegiatan bersama dengan saya, baik dalam rumpun akademik maupun nonakademik,” ungkap wisudawan dengan IPK 3.91 ini.
Tak hanya memberi kabar, Gayuh juga berusaha memberikan solusi dan berani untuk menerima konsekuensi karena ketidakhadirannya.
Menurutnya, dukungan dari orang-orang di sekelilingnya inilah yang semakin memantapkan langkah perempuan yang memiliki motto ”Ketuklah Semua Pintu-pintu Kesempatan di Depanmu” ini untuk terus bersemangat melanjutkan studi sampai selesai.
”Bersyukur, orang- orang di sekeliling saya sangat suport,” ungkapnya.
Selain keluarga dan teman-teman, para dosen dan pengajar di Fakultas Psikologi pun sangat mendukung.
Beberapa kali Gayuh mendapatkan fasilitas konseling dari fakultas dan mendapatkan saran dari dosen-dosen mengenai cara mengelola kegiatan akademik dan kondisi mentalnya.
Perempuan yang bercita-cita terjun di dunia pendidikan inklusi ini selama kuliah sudah aktif berkegiatan di Divisi Pendidikan dan Kompetensi ini menuturkan belajar psikologi itu seperti mempelajari diri sendiri.
Tak heran jika banyak anggapan, mahasiswa psikologi itu belajar sembari rawat jalan. Ia sangat bersemangat saat mendapat materi baru di perkuliahan.
”Saya merasa antusias setiap ada materi baru karena materi tersebut bisa direfleksikan ke dalam kehidupan saya sendiri dan menjelaskan banyak hal yang terjadi di sekeliling saya.
Sesederhana mengetahui bagaimana saya mengingat suatu peristiwa, bagaimana saya mengenal bahasa, bagaimana saya memproses emosi, dan bagaimana saya membuat keputusan, bisa dijelaskan lewat materi-materi di psikologi” terangnya.
Selain aktif di kegiatan organisasi, Galuh pun sempat ikut magang, maupun menjadi relawan dan bahkan mengambil pekerjaan di beberapa tempat di luar perkuliahan.
Organisasi yang paling lama ia ikuti adalah Kakak Asuh.
Sementara itu, Gayuh juga pernah mencoba menjadi podcaster untuk Podcast Campus UGM dan berkesempatan menjadi Wardah Beauty Campus Ambassador di UGM pada tahun 2021.
Masih ingin menempa dirinya dengan berbagai pengalaman, Gayuh juga mulai mengikuti kegiatan-kegiatan magang dalam program Lingkaran Youth Community Development Program, sembari menjadi asisten psikolog di RSJD Dr. Amino Gondohutomo, dan menjadi customer experience intern di Lazada Indonesia.
Meskipun memiliki segudang kegiatan, Gayuh tetap terampil membagi waktu dan mengelola diri hingga bisa lulus sebagai wisudawan terbaik dengan predikat pujian.
Saat ditanya tentang daya juang perempuan dalam meraih pendidikan, dengan mantap Gayuh menjawab bahwa daya juang perempuan dalam meraih pendidikan luar biasa hebat dan tidak perlu diragukan lagi perjuangannya.
”Di sekeliling saya, saya banyak menemui perempuan-perempuan kuat yang bisa tetap menjaga semangat belajarnya dengan segala tanggung jawab lain yang harus dihadapinya, seperti mengurus anak dan keluarga,” terang Gayuh.
Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D., mengatakan capaian prestasi akademik yang diraih oleh Galuh membuktikan besarnya daya juang perempuan dalam meraih pendidikan.
”Saya mengapresiasi para wisudawan perempuan yang berhasil mencapai tangga pendidikan yang lebih tinggi yaitu jenjang pendidikan Sarjana dan Diploma IV ini.
Saya yakin setiap wisudawan perempuan memiliki cerita perjuangannya masing-masing dalam meraih Pendidikan, ” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Dulu-Sering-Diejek-dan-Dibedakan-hingga-Sakit-Hati-Gadis-Tunarungu-Kini-Berhasil-Lulus-dari-UGM.jpg)