Berita Viral
Nasib Dokter Gigi SW yang Cabut Gigi Bungsu Wanita Ngawi hingga Berujung Kematian, Davin Siap Lapor
Dokter Gigi SW (inisial) yang menangani pencabutan gigi bungsu Nira Pranita Asih (31) hingga berujung fatal, menjadi sorotan. Begini nasibnya!
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Musahadah
SURYA.CO.ID, NGAWI - Begini lah nasib Dokter Gigi SW (inisial) yang menangani pencabutan gigi bungsu Nira Pranita Asih (31) hingga berujung fatal.
Seperti diketahui Nira Pranita Asih meninggal dunia empat bulan setelah mencabut gigi bungsu pada 28 Desember 2023 silam di Ngawi, Jawa Timur.
Kasus ini ramai setelah sang suami, Davin Ahmad Sofyan (28), mengunggah ceritanya di media sosial.
David menduga ada malapraktek di balik operasi pencabutan gigi bungsu yang dijalani sang istri.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Ngawi dr Yudono belum memastikan adanya dugaan malapraktik dalam kasus itu.
Baca juga: Update Kasus Wanita Wafat Usai Cabut Gigi Bungsu, Dinkes Ngawi Lakukan Upaya Ini
Yudono mengaku sudah memanggil pihak pihak terkait, untuk dimintai keterangan.
“Secara kronologi butuh beberapa informasi. Memang betul, pasien tersebut ditangani oleh inisial Dokter Gigi SW. Tapi itu masih belum lengkap karena belum menyampaikan secara detail,” ujar dr Yudono, Kamis (9/5/2024)
Dikatakan Yudono, bukan hanya Dokter Gigi SW yang memeriksa korban. Mengingat, korban beberapa kali pindah dari satu rumah sakit, ke rumah sakit lain.
“Karena berikutnya ada beberapa dokter yang menangani juga, dokter umum, termasuk di Rumah Sakit Dr Oen, di sana dirawat sekian lama. Maka dari itu kami harus mendapatkan informasi yang lengkap,” jelasnya.
“Kami juga memanggil dokter gigi dari organisasi profesi PDGI Kabupaten Ngawi, demi mendapat keterangan yang tidak sepotong potong,” imbuhnya.
Yudono membenarkan, jika status Dokter Gigi SW adalah dokter yang berdinas di RSUD Mantingan Ngawi.
Menurutnya, Dokter Gigi SW juga membuka klinik untuk praktik mandiri.
Mengenai klinik tempat praktik Dokter Gigi SW, Yudono menyebut sudah lama beroperasi dan tidak ada kendala secara administrasi.
“Akan kami gali informasi dari dokter dokter lain yang ikut menangani, harus kami kumpulkan secara detail karena ada hal seperti ini, masyarakat jadi takut pergi ke dokter gigi,” tuturnya
“Sebetulnya informasi seperti ini dikomunikasikan dengan baik, supaya masyarakat luas tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa dicabut gigi bungsu bisa mati. Akhirnya jadi takut dan tidak terselesaikan,” tuntas Yudono.
Di bagian lain, Davin Ahmad Sofyan (28), suami dari Nira, mengaku akan mencari keadilan terhadap nasib istrinya yang meninggal usai mencabut gigi graham bagian kiri belakang.
Ia mengaku akan menempuh jalur hukum karena menduga ada malapraktik.
"Tetap saya akan mencarikan keadilan untuk istri saya. Dia harus merasakan bagaimana pedihnya saya kehilangan istri saya. Saya akan maju ke ranah hukum sendiri,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Rabu (8/5/2024).
Davin mengaku sempat meminta penjelasan dari dokter gigi yang menangani pencabutan gigi istrinya.
Dokter tersebut menyatakan telah bekerja sesuai SOP dan tidak ingin bertanggung jawab.
“Dokter gigi tersebut menyatakan bahwa kalau dia telah melakukan sesuai SOP-nya. Dia tidak ingin bertanggung jawab atas segala apa yang terjadi atas istri saya,” imbuhnya.
Kronologi Kasus
Sebelumnya, Davin Ahmad Sofyan bercerita, istrinya meninggal dunia usai cabut gigi bungsu.
Awalnya, Nira memutuskan mencabut gigi bungsunya pada 28 Desember 2023 silam.
Namun, hingga April 2024, Nira tak kunjung sembuh usai mencabut gigi bungsunya.
“Istri saya memutuskan cabut gigi bungsu pada 28 Desember silam. Sebelumnya mengeluh pusing, kami mencoba konsultasi masalah tersebut ke Klinik Gigi Walikukun,” ujar Davin, Rabu (8/5/2024).
Pada hari yang sama, kata Davin, mereka mengikuti arahan dari dokter gigi untuk foto rontgen di RS Sarila Husada Sragen. Kemudian, hasilnya langsung dibawa kembali ke klinik tersebut.
“Dari foto rontgen gigi bungsu miring kiri dan terletak paling belakang. Sehingga keputusan dokter cabut gigi bungsu, kami ikuti rekomendasinya. Setelah gigi dicabut, dokter gigi bilang bahwa klinik libur sampai 3 Januari,” tutur Davin.
Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, lanjut Davin, pasca cabut gigi bungsu lalu periksa ke RS Sarila Husada Sragen.
Seiring berjalannya waktu, Nira mengalami pembengkakan di bagian gigi belakang pada 30 Desember silam.
“Kami lantas konsultasi ke RS Panti Waluyo Solo. Kami periksa selain bengkak, indikasi terjadi radang tenggorokan. Setelah itu rawat jalan, kami tinggal sementara di Solo pada 31 Desember,” papar Davin.
Selama rawat jalan, Davin melihat tidak ada perkembangan yang dirasakan oleh Nira. Hingga pada akhirnya, tanggal 1 Januari dibawa ke RS JIH Solo.
“Hasilnya sama, ada indikasi radang tenggorokan. Diberi vitamin untuk meringankan dan rawat jalan. Jadi fokus minum obat RS JIH Solo,” kata Davin
Menurutnya, obat dari RS JIH menunjukkan perkembangan positif. Alhasil pada tanggal 1 Januari kondisi Nira membaik, hingga diperbolehkan pulang ke Ngawi.
“Bengkak sudah membaik, tapi turun di bagian leher, sakit tidak bisa ngomong. Tanggal 3 Januari, kembali periksa ke dokter dan mengatakan infeksi,” terang Davin.
“Akhirnya opname. Dikasih antibiotik tidak mempan. Akhirnya kami bawa ke Klinik Jogorogo. Bengkak hilang muncul sesak nafas. Terus dirujuk ke RS Dr Oen Solo, infeksi menjalar ke pernafasan,” bebernya.

Kondisi Makin Parah
Ayah satu anak tersebut juga menceritakan, Nira memakai alat bantu pernafasan tanggal 4 Januari 2024.
Namun kondisi istrinya semakin parah.
“Infeksi leher sudah parah. Akhirnya operasi leher menghilangkan nanah-nanah yang timbul dari infeksi saluran pernafasan paru-paru,” beber Davin.
“Rongga paru mengeluarkan cairan nanah, Operasi WSD mengeluarkan cairan. Rongga paru dikasih selang, bolong hingga rongga paru kiri kanan,” sambungnya.
Davin menunggu hasil operasi seminggu. Setelah operasi dan selang dilepas, Nira masih sesak nafas, bahkan rongga paru terus menghasilkan nanah.
“Divonis operasi thorax awal Februari 2024, pembedahan selaput paru-paru bagian kanan, padahal yang infeksi kiri kanan. Setelah operasi dirawat di ICU, 2 minggu melepas ventilator,” ujarnya.
“Istri tidak bisa bernafas, kemudian dilakukan operasi bagian leher dilubangi atau trakeostomi, nafas lewat jalur leher. Setelah operasi, dipindahkan dari ICU,” papar Davin.
Beberapa hari kemudian, dokter membolehkan istrinya pulang ke rumah, dengan catatan punya alat pernafasan bantuan, kasur medis dan oksigen.
“Pada saat puasa kemarin, sempat lebaran di Ngawi. Dari leher yang dilubangi, tidak bisa ngomong selama 1 bulan. Makan lewat selang, susah berjalan,” ungkap Davin.
Kondisi membaik itu tidak bertahan lama, pada tanggal 20 April 2024, Nira mengalami penurunan drastis dan kembali dibawa ke RS Dr Oen Solo.
“Berat badan menurun jadi 27 kilogram. Kondisinya drop, kemudian meninggal saat dilakukan pertolongan pada 27 April 2024,” katanya.
Davin yang merasa dirugikan, membawa persoalannya ke meja hijau.
Selain merugi waktu, ia juga menghabiskan biaya berobat sebesar Rp 500 juta
“Karena selama saya cari, tidak ada respons yang ditunjukkan oleh dokter gigi yang merekomendasikan cabut gigi. Tidak ada niatan menengok atau menanyakan kondisi istri saya," pungkas Davin.
Ikuti Berita Menarik Lainnya di Google News SURYA.co.id
wafat usai cabut gigi
wanita di Ngawi wafat usai cabut gigi bungsu
Nira Pranita Asih
Dokter Gigi SW
Kepala Dinkes Ngawi dr Yudono
SURYA.co.id
surabaya.tribunnews.com
Sosok Asli Affan Driver Ojol yang Tewas Dilindas Rantis Brimob, Tak Neko-neko, Kebaikan Terkuak |
![]() |
---|
Jabatan Baru Ahmad Sahroni Usai Dicopot dari Komisi III DPR RI, Diduga Karena Ucapan Tolol |
![]() |
---|
Nasib 7 Anggota Brimob Terduga Penabrak Driver Ojol Affan Kurniawan, Terbukti Langgar Kode Etik |
![]() |
---|
Identitas dan Wajah 7 Brimob yang Jadi Tersangka Kematian Driver Ojol Dilindas Rantis |
![]() |
---|
Rekam Jejak Rusdi Masse Mappasessu yang Gantikan Ahmad Sahroni sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.