Berita Lumajang

Dahsyatnya Banjir Lahar di Lumajang Setelah 43 Tahun Terakhir, Kikis Jalan Hingga Rusak 11 Rumah

Patria mengkonfirmasi tidak ada korban jiwa pada banjir semalam. Semua warga terdampak banjir saat ini berada di tempat aman

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Deddy Humana
surya/erwin wicaksono (erwin)
Banjir lahar dingin Semeru kembali menerjang sebagian jalan di Dusun Rojobalen, Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Rabu (24/4/2024) lalu. 

SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Dua kejadian banjir melanda wilayah Kabupaten Lumajang secara hampir bersamaan, Rabu (24/4/2024) lalu. Tetapi yang mengerikan adalah terjangan banjir lahar dingin dari Gunung Semeru yang berdampak besar pada kerusakan infrastruktur terutama di Dusun Rojobalen, Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro.

Banjir lahar dingin Semeru itu menerjang, Rabu (25/4/2024) malam. Akibatnya, salah satu bagian jalan sepanjang 200 meter di Dusun Rojobalen tergerus habis diterjang material banjir bercampur bebatuan.

Di seberang jalan, tampak tanggul yang difungsikan untuk membendung air pun jebol akibat tidak kuat menahan debit air beserta bebatuan yang menghujam bertubi-tubi.

Akibatnya, akses jalan menuju beberapa desa sempat terhenti. Selain itu ganasnya banjir lahar dingin Gunung Semeru merusak 11 rumah yang berada di dekat sungai.

Juminah, salah warga terdampak banjir mengatakan, sekitar pukul 14.30 WIB hujan dengan intensitas sedang pelahan menjadi deras. Hingga akhirnya pada malam hari air semakin tinggi dan memporak-porandakan jalan desa.

"Aliran air awalnya biasa saja. Namun menjelang petang hingga malam air semakin menjadi. Suaranya begitu keras saat menghantam tanggul dan ternyata merusak jalan," ujar Juminah di lokasi kejadian, Kamis (25/4/2024).

Perempuan yang sehari-hari bekerja sèbagai buruh tani tersebut bercerita jika banjir turut merusak rumah sanak keluarganya. Tampak bagian samping rumah tergerus air lantaran begitu dekat dengan longsoran jalan.

Juminah tidak bisa membayangkan betapa besarnya banjir lahar dingin Semeru saat ini. Ia merasakan jika banjir yang menerjang baru-baru ini merupakan yang paling parah. Ia mengingat, bencana kali ini lebih parah daripada peristiwa banjir tahun 1981 atau 43 tahun silam.

"Ini yang terparah selama kami tinggal di sini. Dulu sungai masih dalam dan kini sungai dangkal karena pasir. Jadi air juga cepat meluap," kenangnya.

Sementara Kepala BPBD Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi menegaskan, pihaknya berfokus melakukan normalisasi di aliran sungai agar aliran air semakin lancar. Pantauan di lokasi, akses jalan yang tergerus pasir dan bebatuan besar mulai dibersihkan agar dapat terlewati.

"Selama beberapa hari ke depan kami tetap menerjunkan alat berat di lokasi. Ada beberapa bagian yang perlu dinormalisasi agar air tak semakin merembet ke permukiman warga," kata Patria.

Patria mengkonfirmasi tidak ada korban jiwa pada banjir semalam. Semua warga terdampak banjir saat ini berada di tempat aman.

"Saat ini kondisi memang masih darurat bencana alam. Untuk keparahannya memang tidak jauh berbeda dengan banjir lahar dingin beberapa tahun terakhir," paparnya.

Di sisi lain, Patria menginstruksikan kepada jajarannya agar terus meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, potensi banjir lahar dingin masih dikhawatirkan terjadi kembali.

"Potensi masih tinggi mengingat cuaca di Lumajang belum membaik hingga saat ini hampir setiap hari mendung. Sementara itu Gunung Semeru juga masih berstatus level III Siaga," pesan Patria.

Sebelumnya di hari yang sama banjir juga terjadi di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, akibat terhambat ranting-ranting dan berbagai jenis sampah di pinggir sungai Menjangan. Aliran air menyempit dan meluber hingga ke permukiman warga di dua dusun. *****

 

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved