Senin, 27 April 2026

Waspada Istidraj, Jebakan Azab Berbalut Kenikmatan

Tidak ada perintah untuk berkejaran jadi pemimpin, jadi presiden, atau jadi wakil presiden atau jadi anggota legislatif!

Editor: irwan sy
Istimewa
Pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak Jombang, A Halim Mahfudz. 

SURYA.co.id - Sejatinya Allah menciptakan makhlukNya dengan tujuan sederhana saja; makhluk yang bernama manusia dan jin ini hanya punya tugas untuk senantiasa menyembah Gusti Allah, menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.

Itu saja!

Tidak ada perintah untuk berkejaran jadi pemimpin, jadi presiden, atau jadi wakil presiden atau jadi anggota legislatif!

Berangkat dari penciptaan manusia yang sederhana ini, harusnya pelaksanaan penciptaan ini sederhana juga, tidak perlu neko-neko.

Sembahlah Gusti Allah Yang Maha Kuasa, dan Allah akan membalas ibadah itu dengan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan saking nikmat, penuh keabadian, dan berkah.

Manusia sering lupa bahwa perintah ibadah kepada Allah ini dari awal diiringi dengan ancaman bahwa;

“Aku akan menguji mereka dengan tanggung jawab, kemudian Aku memberi pahala kepada mereka atas amal mereka, jika yang mereka kerjakan baik maka mereka akan baik, dan jika yang mereka kerjakan buruk maka mereka akan mendapatkan yang buruk.”

Dalam menjalankan penciptaan Allah di dunia ini, makhluk manusia dan jin sendirilah yang membuat hidup menjadi ribet dan makin lama makin penuh keinginan dan kebutuhan.

Harapan manusia dan jin kemudian berbunga-bunga dan variatif.

Allah Maha Suci membekali manusia dan jin dengan nafsu yang membuat kebutuhan dan harapan makin kuat berkembang, kadang liar dan sering berani bahkan nabrak aturan!

Untuk hidup dan survival, para manusia butuh makan, minum, pakaian, butuh teman untuk berbagi dan strategi dan senjata untuk survival.

Untuk makan dan minum, manusia lama-kelamaan terbukti tidak cukup makan nasi dan lauk seperti rawon, pecel hingga gado-gado.

Seiring dengan globalisasi makanan, manusia ingin variasi makanan, asupan tambahan, dan mencicipi makanan yang beda dan unik seperti pizza, steak, macaroni hingga mie ramen!

Makin paham manausia tentang rahmat dan nikmat di bumi yang tak terbatas dan gratis ini, makin berkembang pula nafsu manusia dan jin.

Manusia membuat sistem ekonomi, sistem sosial, sistem hukum bahkan sistem demokrasi dan berkekuasaan.

Manusia menyusun aturan dan undang-undang, tapi manusia pula yang langgar etika dan tatakrama.

Tak ketinggalan adalah perilaku jin dan setan terkutuk. Jin kafir alias setan menggoda manusia, godaan mereka seakan itu pilihan terbaik agar manusia lupa pada perintah diciptakan di dunia.

Sering manusia tidak penyadari tipu daya setan!

Saking eloknya godaan, manusia sering salah anggap godaan setan itulah jalan harus mereka tempuh.

Setan menjadikan bahan godaan mereka seperti adu domba, fitnah atau memerangi orang-orang beriman sebagai pilihan.

Diriwayatkan dalam salah satu cerita Perang Badar, setan menyerupakan dirinya menjadi seseorang dari pasukan kafir kemudian berkata kepada orang-orang kafir: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang melawan kalian pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindung kalian”.

Namun, ketika kedua pasukan muslim dan kafir telah saling berhadapan, setan itu melihat pasukan muslim yang didampingi dan didukung para malaikat, mereka berkelebat ke belakang, mundur, ketakukan dan menghilang.

Di lain pihak, Allah SWT melimpahkan rizki, kebahagiaan, dan kenikmatan dunia lainnya kepada setiap orang yang Dia kehendaki. Tetapi firman Allah; Kami akan memberi mereka harta, anak-anak dan kenikmatan-kenikmatan sebagai tipu daya bagi umat manusia sehingga mereka tidak menyadari bahwa semua itu adalah justru menjadi sebab kebinasaan mereka.

Inilah istidaj!

Manusia bisa terperosok ke dalam istidraj! Istidraj adalah kubangan kenikmatan yang diberikan kepada seseorang yang jarang beribadah dan sering melakukan maksiat tetapi hidupnya terus dilimpahi kenikmatan.

Contoh istidraj dapat berupa kenikmatan dunia seperti harta, pengaruh, kekuasaan, dan kedudukan.

Kenikmatan tersebut sering membuat manusia terlena dan lupa bahwa semuanya ada batasannya dan semuanya titipan Allah SWT.

Allah menguji Firaun dengan istidraj hingga dia tidak pernah sakit selama 400 tahun!

Ada istidraj melanggar aturan, menginjak etik, merusak tatakrama, menabrak hukum, tetapi semua pelanggaran berlalu bak angin semilir, tak tertangani oleh manusia tapi ada dalam catatan Allah.

Allah menangguhkan dan memanjangkan umur mereka agar semakin berdosa.

Tetapi; “Sesungguhnya balasanKu kuat dan keras!” Namun manusia tidak merasakan hal itu dan mengira penundaan itu adalah penghormatan dan pemuliaan bagi mereka di atas orang-orang beriman. Dan karena mereka selalu membuat makar dan tipu daya, sehingga Allah memperlakukan mereka seperti yang biasa mereka lakukan.

Kenikmatan tersebut bisa jadi peringatan akan azab Allah apabila diberikan kepada orang yang sering melalaikan ibadah dan merasa tenang dalam maksiatnya.

Apalagi jika istidraj ditambah nafsu, tamak dan hasut.

Mengabaikan aturan dan undang-undang, menipu rakyat dan merasa tidak ada yang bisa menghentikan dirinya!

Kebatilan, meskipun semakin luas penyebarannya, namun ia akan ditarik secara berangsur-angsur kepada kebinasaan: "Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui".

Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), “dari arah yang tidak mereka ketahui.” Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta, anak, kekuasaan dan pengaruh. Kami memberi mereka keleluasaan dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudaratkan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah atas mereka dan balasan tipu daya Allah pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.

A Halim Mahfudz

Pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak Jombang

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved