Ibadah Haji 2023

Minimalisir Hilang dan Tersesat, Gelang dan Kartu Identitas Jemaah Haji Harus Selalu Dibawa

Pencarian terhadap Idun Rohim Zen, 87 jemaah haji Indonesia yang hilang terus dilakukan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

surya.co.id/galih lintartika
Salah satu petugas PPIH Arab Saudi membantu mendorong jemaah haji asal Makassar yang kehilangan rombongan dan kursi rodanya kembali ke hotelnya dari pelataran Masjid Nabawi. 

Saat mereka layak maka akan dipulangkan diantar oleh teman-teman dari Konsulat Jenderal RI melalui staf teknis urusan haji atau Kantor Urusan Haji (KUH).

"Jadi usaha pencarian terus terus dilakukan dari berbagai sisi. rumah sakit juga tempat-tempat penyimpanan jenazah yang kita terus mencari," ucapnya.

Apabila nanti ada pernyataan resmi dari pihak Arab Saudi, kata Zaenal, pihaknya akan menyampaikan kepada keluarga dan masyarakat.

"Kita juga ada konsulat, itukan berhubungan dengan pemerintah Arab Saudi. kita juga membangun jaringan," tambah Zaenal.

Selama operasional haji, memang banyak jemaah yang hilang dan tersesat terpisah dari rombongannya.

Salah satu faktornya adalah kesadaran membawa identitas pribadi.

Dari pengalaman SURYA.co.id yang juga menjadi bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2023 banyak jemaah yang melanggar aturan.

Aturan yang dilanggar adalah, tidak tertibnya membawa identitas pribadi jemaah. Kesadaran jemaah untuk membawa identitas masih minim sekali.

Mayoritas, jemaah sering melupakan identitas diri. Padahal itu berbentuk gelang yang seharusnya melekat di tangan kanan atau kiri jemaah.

Di dalam gelang itu, tertera nomor paspor, nama jemaah, kloter dan asal negara.

Sangat lengkap untuk mendeteksi keberadaan rombongan jemaah yang tersesat.

Selain itu, ada juga kartu. Mayoritas jemaah tidak membawa kartu yang diberi Kementerian Agama. Di dalamnya juga berisikan informasi yang lengkap.

Bahkan, di kartu itu juga dilengkapi dengan scan barcode. Yang itu terkoneksi dengan aplikasi haji pintar. Ketika di scan akan muncul informasi jemaah.

Lengkap dengan nomor telpon ketua rombongannya atau ketua kloternya. Dua identitas itu harus melekat di tubuh jemaah selama operasional haji.

Fungsinya, ketika jemaah ini tersesat dan terpisah dari rombongan, mereka tidak perlu panik , dan cukup datangi petugas haji yang sudah tersebar di beberapa titik.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved