Jumat, 8 Mei 2026

Berita Surabaya

Bicara Toleransi, Young Buddhist Association Indonesia Gelar Kajian Lintas Agama

Ketua Young Buddhist Association Indonesia, Limanyono Tanto, menjelaskan tujuan acara ini.

Tayang:
surya.co.id/bobby kolloway
Young Buddhist Association Indonesia (YBAI) menggelar kajian lintas agama secara daring 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Young Buddhist Association Indonesia (YBAI) menggelar kajian lintas agama.

Bekerjasama dengan studiagama.id, kajian ini membahas moderasi beragama dalam pandangan agama-agama: apakah moderasi beragama bertentangan dengan ajaran agama?

Berlangsung secara daring (online), sejumlah tokoh agama hadir. Di antaranya, tokoh dari agama Buddha, Kristen, dan juga Hindu.

Ketua Young Buddhist Association Indonesia, Limanyono Tanto, menjelaskan tujuan acara ini.

Hal ini selaras dengan tujuan YBAI yang terbuka, inklusif dan rendah hati untuk mendukung segala aktivitas yang berformat moderasi beragama.

"Dengan moderasi beragama, kita mampu menyebarkan ajaran agama Buddha serta memperkokoh silaturahmi dengan saudara-saudari kita antar umat bergama di Indonesia,” kata Limanyono saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (11/7/2023).

Pekerja seni dan duta cerita dari The Habibie Center, William Umboh, memandu jalannya diskusi tersebut.

Pada kesempatan itu, Tokoh agama Buddha Bhikkhu Dhammasubho Mahathera menyampaikan pendapatnya tentang moderasi agama versi agama Buddha.

Buddha mengajarkan majjhima patipada yang merupakan jalan tengah atau Middle Way.

Jalan tengah itu terdiri dari delapan unsur, pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar.

“Itulah jalan tengah. Nah, delapan unsur benar itu menurut Sidharta benar untuk diri sendiri, benar untuk orang lain, dan benar untuk lingkungan, sehingga dengan pengertian benar itu maka tidak ada lagi pertentangan dalam segala hal,” kata Bhikku Dhammasubho dalam diskusi yang berlangsung Sabtu (8/7/2023) tersebut.

Pendeta Aryanto Nugroho menjelaskan makna toleransi oleh umat Kristen.

"Yesus Kristus menunjukkan bahwa relasi keberagamaan dengan Allah-nya tidak perlu memutus hubungan dengan sesama manusia," kata Pendeta Aryanto.

Ketua Acarya Media Nusantara, KA. Widiantara menyampaikan hal senada dalam agama Hindu.

Menurutnya , pemaparan Bhikku dan Pendeta memiliki nilai yang nyaris sama secara substansi, meskipun istilahnya berbeda.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved