Jumat, 24 April 2026

Berita Tulungagung

Sosok Dokter Karneni yang Namanya Disematkan di RSUD Campurdarat Tulungagung

Rumah sakit Tipe D ini diberi nama RSUD dr Karneni Campurdarat, yang ada di Jalan Raya Campurdarat, Desa/Kecamatan Campurdarat.

Penulis: David Yohanes | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/david yohannes
Dokter Karneni yang turut berjasa merintis layanan kesehatan publik di Tulungagung (kiri) dan proses pembangunan RSUD Campurdarat Tulungagung beberapa waktu lalu. 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo meresmikan rumah sakit baru, RSUD Campurdarat, Senin (20/2/2023).

Rumah sakit Tipe D ini diberi nama RSUD dr Karneni Campurdarat, yang ada di Jalan Raya Campurdarat, Desa/Kecamatan Campurdarat.

Nama dr Karneni dipilih karena dianggap turut berjasa merintis layanan kesehatan publik di Tulungagung.

Dalam peresmian ini, keluarga almarhum dr Karneni yang diwakili adik bungsunya, dr Sri Amin Dariyati sempat hadir ikut prosesi peresmian.

Bahkan dr Sri Amin Dariyati sempat menarik kain selubung yang menutupi foto dr Karneni, yang menghiasi salah satu Lorong rumah sakit ini.

Menurut dr Sri Amin, dr Karneni adalah saudara nomor tiga dari Sembilan bersaudara.

“Hubungan saya dengan Mas Karneni seperti ayah dan anak, karena begitu jauhnya usia kami,” ucap dr Sri Amin berkisah.

Dokter Sri Amin mengaku mendapat kisah dari ayahnya, jika kakaknya itu sekolah dokter di Universitas Indonesia (UI).

Saat itu Sri Amin belum tahu apa-apa karena dirinya belum sekolah.

Saat Karneni lulus dari sekolah kedokteran di UI, Indonesia tengah konfrontasi perebutan Irian Barat, sekarang Papua, sekitar tahun 1960-an.

“Saya lupa tahunnya berapa, tapi saat sedang panas-panasnya perebutan Irian Barat dari Belanda,” kenangnya.

Para mahasiswa kedokteran UI saat itu dipersiapkan untuk dikirim ke Irian Barat, termasuk dr Karneni.

Saat itu dr Karneni sudah mendapat pelatihan militer dan sudah ada pembekalan.

Namun di saat akan dikirim, dr Karneni jatuh sakit sehingga batal bertugas di Irian Barat.

“Mungkin itu jalannya, Mas Karneni batal dikirim ke Irian Barat. Dia lalu dikirim ke Tulungagung,” kenang dr Sri Amin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved