Berita Surabaya

Libur Imlek, Young Buddhist Association Gelar Kajian Lintas Agama

Young Buddhist Association menggelar kajian bertema “Kemanusiaan Penuh Perempuan” Perspektif Agama Islam dan Buddha

Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Cak Sur
Istimewa
Young Buddhist Association bersama studiagama.id menggelar kajian lintas agama pada rangkaian Tahun Baru Imlek secara virtual, Selasa (24/1/2023). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Young Buddhist Association bersama studiagama.id menggelar kajian lintas agama pada rangkaian Tahun Baru Imlek. Bertema “Kemanusiaan Penuh Perempuan” Perspektif Agama Islam dan Buddha, kajian ini menghadirkan sejumlah pembicara.

Disiarkan melalui Instagram, ada dua narasumber yang menjadi pembicara. Masing-masing perwakilan agama Islam dan Buddha.

Yakni, Attasilani Gunanandini sebagai Ketua Atthasilani Theravada Indonesia (Astinda) dari agama Buddha. Serta, Dr Nur Rofiah yang merupakan Pengurus Majelis Musyawarah KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) dari agama Islam.

Founder @studiagama.id, Tri Indah Annisa menjadi moderator. Melalui akun @youngbuddhistassociation dan dua akun lainnya, acara disaksikan sekitar 700 pengguna Instagram.

Wakil Ketua Young Buddhist Association, Limanyono Tanto berharap acara ini bisa menyambung silaturahim antar pemeluknya agama. Tujuan akhirnya agar tercipta moderasi dan tenggang rasa antar umat beragama.

"Nah, dari situlah kami berharap rasa persaudaraan dan rasa saling menjaga sebagai saudara antar sesama manusia bisa tercipta di tengah momen Imlek ini," katanya dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (24/1/2023).

Imlek itu merupakan tradisi kumpul dan saling bertukar kebahagiaan.

"Semua agama sepakat untuk menghargai seorang perempuan dan pada hakikatnya ada persamaan dan satu semangat yang sama untuk dapat membawa kebahagiaan bagi kaum perempuan," katanya.

Pada kesempatan itu, Tokoh Agama Buddha Attasilani Gunanandini berharap dapat menyadarkan semua perempuan dan dapat mengambil pelajaran.

Menurutnya, memang ada perbedaan secara bilogis antara perempuan dan laki-laki.

Namun, perempuan telah diangkat statusnya oleh sang Buddha dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan spiritual.

"Perempuan memiliki kemampuan intelektual dan spiritual yang sama dengan laki-laki," ujarnya.

"Pada saat sekarang ini pun, Buddhis sendiri memberikan keleluasaan terhadap peran, potensi, dan pilihan berkarya. Perempuan diposisikan sebagai manusia seutuhnya dalam konteks ajaran Buddha," imbuhnya.

Tokoh agama Islam, Dr Nur Rofiah juga menjelaskan agama Islam sudah menegaskan bahwa perempuan itu adalah manusia.

Artinya, tindakan apapun yang tidak manusiawi kepada perempuan itu bertentangan dengan agama.

Karenanya, perempuan itu tidak boleh dianggap sebagai hamba laki-laki, karena di hadapan Tuhan, antara laki-laki dan perempuan itu sama, yaitu sama-sama hamba Tuhan.

"Nah, Islam itu arti generiknya pasrah total kepada Tuhan. Keislaman kita adalah proses terus menerus untuk membuktikan kepasrahan total hanya kepada Tuhan dengan berbuat kepada semua penciptaan-Nya, termasuk kepada seorang perempuan," tegasnya.

Terpenting, ada kesadaran diri sendiri untuk berperan aktif menjadi versi diri yang terbaik.

"Akhirnya, aku manfaat, maka aku ada. Mudah-mudahan semua perempuan di Indonesia mendapatkan kemanusiaan yang seutuhnya," katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved