Senin, 1 Juni 2026

Berita Kota Surabaya

Danone Indonesia Bagikan Pengalaman Cegah Stunting, Harus Ada Perbaikan 3 Hal Ini

Terdapat tiga hal dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih

Tayang:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Deddy Humana
danone
Kegiatan pencegahan stunting yang digelar Danone Indonesia dengan melibatkan sekolah. 

SURYA.CO.ID, KOTA SURABAYA - Danone Indonesia terus mempertegas komitmennya mendukung Pemerintah dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan angka stunting di Indonesia. Hal tersebut penting dilakukan mengingat penanganan stunting memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari sektor swasta.

Untuk itu, dalam hal penanganan stunting, Danone Indonesia memiliki gerakan bernama ‘Bersama Cegah Stunting’ yang dikembangkan bersama multi stakeholder dan telah menjangkau lebih dari 4,5 juta penerima manfaat.

Melalui kegiatan tersebut, Danone Indonesia ingin berbagi pengalaman praktik baik dalam upaya pencegahan stunting yang berfokus pada 3 pendekatan yaitu Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi.

Kunjungan yang dilakukan diantaranya di daerah Wonosobo, yaitu TANGKAS (Tanggap Gizi dan Kesehatan Anak Stunting) dan WASH (Water Access Sanitation and Hygiene/ Akses Air Bersih dan Sanitasi Higiene) di Desa Tlogomulyo, Wonosobo.

Ahli Gizi dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) – Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi., mengatakan, permasalahan stunting tidaklah berdiri sendiri, sebab lingkungan terdekat anak merupakan faktor yang turut memberi pengaruh besar pada persoalan stunting di Indonesia.

"Terdapat berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan stunting antara lain, kurang memperhatikan status gizi ibu selama kehamilan, praktik menyusui atau ASI tidak eksklusif selama enam bulan pertama, praktik pemberian makan pendamping (MPASI) yang tidak tepat, pemantauan tumbuh kembang anak yang tidak rutin," kata Prof Sri Anna, Senin (21/11/2022).

Selain itu, status sosial ekonomi rumah tangga, ketahanan pangan keluarga, minimnya akses air bersih, buruknya fasilitas sanitasi, dan kurangnya kebersihan lingkungan juga menjadi penyebab stunting.

"Oleh karena itu, anak-anak yang lahir dan tumbuh dari lingkungan rumah dengan perawatan yang tidak bersih, sanitasi dan persediaan air yang tidak memadai, alokasi pangan dalam rumah yang tidak tepat, dan pendidikan pengasuhan anak yang rendah sangat berpotensi kuat mengalami masalah stunting," jelas Prof Sri Anna.

Permasalahan stunting harus menjadi perhatian semua, karena bisa berdampak terhadap perkembangan kognitif anak sehingga tumbuh kembangnya tidak optimal dan dapat mengalami penurunan IQ.

Selain itu, stunting juga dapat berdampak buruk bagi negara di masa depan. Dalam hitung-hitungan ekonomi, potensi kerugian ekonomi dari permasalahan gagal tumbuh ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi negara sebesar 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun, atau sekitar Rp 500 triliun per tahun, dengan asumsi PDB Indonesia tahun 2021 sebesar Rp 16.970 triliun.

Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan, anak yang mengalami kondisi stunting berpeluang mendapatkan penghasilan 20 persen lebih rendah dibandingkan anak yang tidak mengalami stunting ketika dewasa nanti.

Untuk itu, angka prevalensi stunting di Indonesia masih harus terus ditekan agar bisa mencapai target menjadi 14 persen pada 2024, sesuai dengan yang telah ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Hal tersebut penting dilakukan dan dukung semua pihak dengan pendekatan terpadu yang melibatkan semua elemen dan pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, akademisi atau perguruan tinggi, sektor swasta, masyarakat atau kelompok komunitas, serta media.

Lebih lanjut Prof Anna mengatakan, stunting sebenarnya merupakan permasalahan kesehatan yang dapat dicegah, bahkan sejak sebelum kelahiran anak, berfokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan atau periode emas.

"Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih," terangnya.

Pola makan yang baik perlu diperhatikan seperti pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan kemudian dilanjutkan dengan MPASI yang bernutrisi dan adekuat.

Orang tua juga diharapkan menerapkan pola asuh yang baik dengan membawa anaknya secara rutin ke Posyandu untuk memantau tumbuh kembangnya, memenuhi kebutuhan air bersih, serta meningkatkan fasilitas sanitasi dan menjaga kebersihan lingkungan.

"Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi inisiatif dan kolaborasi yang dilakukan pihak swasta seperti yang telah dilakukan Danone Indonesia, karena sangat relevan dalam upaya untuk peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat setempat dengan memperhatikan tiga area fokus yaitu Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi," papar Prof Sri Anna.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBPPPA) Wonosobo, dan Bunda PAUD Wonosobo, Dyah Retno Afif Nurhidayat mengatakan, tantangan mengatasi permasalahan stunting, terutama di wilayah Jawa Tengah adalah kurangnya pemahaman masyarakat terkait pola hidup sehat. Khususnya mereka yang berada di daerah pedesaan.
Maka dari itu, pencegahan stunting tidak akan berjalan efektif tanpa kolaborasi multipihak yang dilakukan antara pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hingga sektor swasta seperti Danone Indonesia untuk mengedukasi dan mendukung terwujudnya pencegahan dan penurunan angka stunting di wilayah ini.

"Kami melihat, upaya yang dilakukan Danone Indonesia selama ini senantiasa dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan agenda pemerintah, terutama dalam hal kondisi kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat," ungkap Dyah.

Intervensi yang dilakukan Danone Indonesia melalui inisiatif program-programnya sangat diapresiasi, karena dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat sekitar dalam upaya pencegahan stunting, serta dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

Sustainable Development Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo menyampaikan bahwa upaya pencegahan stunting sejalan dengan visi keberlanjutan Perusahaan ‘One Planet, One Health’ .

“Di Danone, kami bertujuan membawa kesehatan melalui produk nutrisi, hidrasi, hingga program berkelanjutan ke sebanyak mungkin masyarakat Indonesia. Bersama Cegah Stunting merupakan integrasi program-program pencegahan stunting nasional yang menyasar edukasi gizi dan pola hidup sehat di keluarga maupun sekolah, seperti Isi Piringku, GESID (Generasi Sehat Indonesia), AMIR (Ayo Minum Air), Warung Anak Sehat (WAS), Bunda Mengajar, TANGKAS, WASH dan Aksi Cegah Stunting (ACS)," beber Karyanto.

Pihaknya menjalankan berbagai program tersebut melalui kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, organisasi profesi dan LSM.
Berbagai inisiatif tersebut dilakukan dengan menerapkan tiga area fokus yaitu Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi. "Hal tersebut dilakukan karena kami melihat permasalahan stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama terkait pola makan, pola asuh dan sanitasi yang kurang baik," paparnya.

Untuk itu, perlu adanya upaya intervensi dan edukasi untuk mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan. Sebagai produsen produk nutrisi sehat, Danone juga memastikan bahwa seluruh produk yang diproduksi di Indonesia untuk masyarakat Indonesia merupakan produk yang aman dengan kualitas tertinggi dan berbasis ilmiah.

Kedepannya, Danone Indonesia akan terus berkolaborasi dengan keahlian yang dimiliki untuk mendukung Pemerintah dalam upaya pencegahan stunting.

“Pengalaman praktik baik pencegahan stunting yang kami lakukan di Wonosobo ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkolaborasi mendukung upaya dalam memastikan anak Indonesia mendapatkan nutrisi seimbang yang berkualitas serta menjaga perilaku hidup bersih dan sehat guna mewujudkan terciptanya generasi yang berkualitas untuk masa depan Indonesia yang lebih maju,” pungkas Karyanto. ****

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved