Berita Lamongan
Eks Kombatan Lamongan Sebut Banyak Embrio Terorisme, Ajak Ormas Bantu Meredam Pemikiran Ekstrem
Disinggung soal peringatan 20 tahun bom Bali, Ali Fauzi mengungkapkan sebagai keluarga pelaku meminta maaf
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Terorisme sudah menjadi isu kurang populer belakangan ini, tetapi bukan berarti sudah mati. Bahkan bibit atau embrio terorisme tetap ada sampai sekarang sehingga perlu peran aktif dan kerjasama semua pihak untuk memberantas bibit itu sebelum berkembang menjadi besar.
Hal itu diungkapkan mantan pentolan JI (Jamaah Islamiyah) dan kombatan, Ali Fauzi usai menjadi narasumber dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka kegiatan kontra radikal dengan tema 'Terorisme adalah Musuh Kita Bersama' di Pendopo Lokatantra Lamongan, Rabu (12/10/2022).
Tidak terpaku pada kekhawatiran atas tetap adanya embrio terorisme itu, Ali Fauzi lantas menegaskan bahwa yang terpenting adalah mematikan embrio itu. Ia lantas berharap pada ormas-ormas seperti NU, Muhammadiyah, serta MUI agar bahu-membahu dengan TNI-Polri untuk meredukasi dan meredam pemikiran-pemikiran ekstrem, khususnya di wilayah Lamongan.
Tak lupa Ali Fauzi menegaskan bahwa peran ulama, tokoh agama dalam menggandeng masyarakat untuk menekan pemikiran ekstrem itu masih kurang. "Peran ulama atau tokoh agama dalam menggandeng masyarakat, saya melihat masih kurang," tegas sang mantan teroris ini.
"Maka dari itu NU, Muhammadiyah maupun organisasi yang lainnya agar turut serta dalam mereduksi pemikiran-pemikiran ekstrem khususnya di wilayah Lamongan ini, " ia menambahkan.
Bahkan ia mengakui bahwa masyaralat tetap boleh berharap pada MUI dan ormas NU atau Muhammadiyah untuk saling bahu membahu bersama TNI-Polri mengurangi gerakan pemikiran ekstrem. "Harapan besar saya, MUI Lamongan, Muhammadiyah, NU, bahu-membahu dengan TNI-Polri untuk mereduksi itu, " ujar Ali Fauzi.
Sejauh mana pergerakan embrio terorisme itu, mantan instruktur merakit bom ini membeberkan, gerakan mereka sudah berkurang, tetapi masih eksis. Selain itu rekrutmen masih berjalan dan kampanye-kampanye juga masih ada.
Tentunya dengan perubahan pola, karena banyak di antara mereka yang ditangkap, akhirnya pola mereka berubah, lebih kembali ke pola awal, yaitu pola sembunyi-sembunyi dan pola memutus mata rantai yang sudah sebagian ditangkap. "Jadi yang sudah ditangkap, yang sudah (masuk) NKRI, (maka rantai) itu terputus," kata Manzi, panggilan pendiri Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) ini.
Karena adanya kenyataan di atas, maka YLP terus istiqamah menyuarakan perdamaian, mengajak yang sudah terkapar maupun yang sudah terpapar untuk terus cinta Indonesia. Juga mengajak saling menghormati dan saling toleransi. "Itu telah kita tularkan kepada mereka dalam pengajian, termasuk dalam edukasi-edukasi yang kita buat, " paparnya.
Ali Fauzi juga merespons dekatnya masa pileg dan pilpres, di mana ia berharap agar para mantan napiter ikut serta dalam demokrasi lima tahunan tersebut. "Tentu harapan saya mereka ikut serta meramaikan demokrasi ini dan mengambil haknya sebagai warga negara yang baik," ujar Ali Fauzi.
Ia juga berpesan kepada mereka yang masih di alam pemikiran ekstrem agar tidak menyia-nyiakan saluran demokrasi ini. "Dan saya pesan kepada mereka, jangan golput. Pilih saja wakil rakyat atau bupati yang sesuai dengan pilihan mereka," terangnya.
Disinggung soal peringatan 20 tahun bom Bali, Ali Fauzi mengungkapkan, pada peringatan bom Bali yang ke-20, ia sebagai keluarga pelaku meminta maaf. "Saya sebagai keluarga pelaku, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan kawan-kawan saya korban bom, tetap semangat untuk kampanye damai, " ujar Ali Fauzi yang menetap di tanah kelahirannya di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro.
Selain itu, ia berharap tidak ada lagi muncul pelaku bom di bumi pertiwi ini. "Harapan besar saya, jangan sampai ada korban bom dan jangan sampai ada pelaku bom di Indonesia," pungkasnya.
Sementara Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi menambahkan, perlu diberikan suatu pemahaman kepada masyarakat terutama generasi muda, tentang bagaimana bahaya radikalise yang bisa menuju ke aksi terorisme, dan merupakan ancaman bagi NKRI
Banyak dicontohkan narasumber bagaimana paham radikalisme memasuki komunitas dan generasi,
sehingga perlu waspada dan diantisipasi sejak dini. "Dengan kegiatan ini (FGD) kita diberikan sebuah kesadaran bahwa kegiatan ini penting untuk dilakukan, " kata Kaji Yes.
Dan tidak hanya di momen FGD saja, tetapi bisa dilakukan oleh tokoh masyarakat, tokoh birokrasi, para ulama dan semua pihak, yang masih cinta persatuan dan kesatuan di NKRI. ****