Sabtu, 9 Mei 2026

Rekonstruksi Ferdy Sambo

UPDATE Rekonstruksi Ferdy Sambo di Rumah Dinas: Makan Waktu 7,5 Jam dan Bikin Ahli Forensik Emosi

Rekonstruksi pembunuhan Brigadir J yang dilakukan di rumah dinas Ferdy Sambo, Selasa (30/8/2022) selama 7,5 jam menghadirkan beberapa informasi baru.

Tayang:
Penulis: Akira Tandika Paramitaningtyas | Editor: Iksan Fauzi
Kompas.com/Kristianto Purnomo
Ferdy Sambo saat menjalani rekonstruksi bersama sang istri, Putri Candrawathi, Selasa (30/8/2022). 

Sementara, Ferdy Sambo berdiri di samping pemeran Bharada E. Dia memerintahkan anak buahnya itu menembakkan peluru ke arah Brigadir J.

Setelah ditembak, Brigadir J tewas dan tubuhnya tersungkur di depan kamar.

Ferdy Sambo lantas mengambil pistol jenis HS-19 milik Brigadir J yang diletakkan di pinggang Yosua.

Jenderal bintang dua tersebut lantas mengarahkan moncong pistol ke arah tembok dekat tangga dan melepaskan sejumlah tembakan.

Baca juga: FAKTA Rekonstruksi Ferdy Sambo di Rumah Dinas: Adegan Menyentuh dengan Putri dan Senyum Lepas Ajudan

3. Ahli forensik emosi

Melihat ini, ahli forensik emosi, Handoko Gani, berpendapat, Ferdy Sambo sejak awal terlihat sudah siap mengikuti proses rekonstruksi.

Menurut dia, ini wajar lantaran perwira tinggi Polri itu pernah bertugas di Reserse Kriminal sehingga terbiasa dengan proses olah TKP.

Handoko menilai, Ferdy Sambo memang terlihat lebih tenang. Namun, dia tak dapat memastikan apakah dalam reka ulang adegan tersebut Ferdy Sambo hanya mengikuti perintah demi perintah polisi, atau juga memberikan klarifikasi kejadian versi dirinya.

"Kalau sekadar hanya mengikuti saja, khawatirnya emosinya ini bukan emosi bawaan langsung yang dirasakan oleh Sambo," kata Handoko dalam tayangan Kompas TV, Selasa (30/8/2022).

"Tapi kalau memang beliau mengikuti emosi demi emosi, maka emosi yang dirasakan itu bisa jadi sama dengan emosi yang dulu dirasakan saat momen tersebut (penembakan Brigadir J) berlangsung," tuturnya.

Menurut Handoko, proses reka ulang adegan seharusnya membangkitkan memori peristiwa yang direkonstruksi.

Jika seseorang mengingat peristiwa-peristiwa berkesan, termasuk yang meninggalkan rasa sedih dan takut, maka emosi tersebut seharusnya tampak di wajah.

Oleh karenanya, Handoko mempertanyakan emosi Sambo.

"Makanya kita perlu tahu dulu apakah waktu instruksi itu diberikan, beliau (Sambo) memberikan koreksi atau tidak," ujarnya.

Ikuti Berita Lainnya di News Google SURYA.co.id

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved