17 (Pitulasan) ke 77: Pitulungan, Pituduh, Pitutur

Pitu iku pituduh (:petunjuk). Pitu iku Pitulungan (:pertolongan). Pitu iku pitutur (:wejangan). Ungkapan lama dalam bahasa Jawa ini tentu sudah menjad

Editor: Adrianus Adhi
Pramuka Kota Mojokerto
Supriyadi Karima Saiful, Ka Kwarcab Pramuka Kota Mojokerto. 

Oleh : Supriyadi Karima Saiful
Ka Kwarcab Pramuka Kota Mojokerto

SURYA.CO.ID - Pitu iku pituduh (:petunjuk). Pitu iku Pitulungan (:pertolongan). Pitu iku pitutur (:wejangan). Ungkapan lama dalam bahasa Jawa ini tentu sudah menjadi pemahaman masyarakat Jawa di luar kepala.

Banyak orang sangat suka terhadap ungkapan ini, karena mungkin kedalaman maknanya. Dan yang pasti, angka tujuh ini dalam tradisi maupun filosofi Jawa dianggap “keramat”.

Dalam nalar pemikiran tradisional orang Jawa, pemaknaan atas angka bukanlah hal asing, bahkan telah menjadi modus penting dalam penciptaan makna.

Tawaran pemaknaan atas angka “tujuh” ini bukan semata sebagai “othak-othik-gathuk”, yang terkesan hanya mencocok-cocokan rima bunyi, sekenanya, arbriter, dan seolah hanya bersifat “main-main”. Jauh dari itu.

Angka “7” telah diberi makna dan “kekeramatan” tertentu, yang oleh karenanya banyak simbolisasi dan makna atas angka ini disematkan padanya: tentang penciptaan alam semesta.

Suatu misal, yang konon dicipta dalam 7 hari; atau juga terkait simbolisasi langit berlapis tujuh (ber-sap tujuh) untuk menujuk sistem lapisan langit dan jagad kita; atau ada istilah “sapta petala langit” (tujuh lapis langit yang menyelubungi jagad kita).; atau jumlah hari kita yang juga menunjuk angka tujuh.

Lantas adakah simbolisasi dan makna atas angka ini dengan usia negara Indonesia yg ke-77? Adakah makna dan kekeramatan tertentu yg bisa disematkan atasnya? Adakah keterkaitan “pituduh”, “pitulungan” dan “pitutur” dengan Hari Ulang Tahun bangsa Indonesia yg ber-angka “pitu” (:77) ini?

Bagi penulis, umur Indonesia yang ber-angka 77 ini bukan saja menandai fase penting Indonesia dalam perjalanan usianya, melainkan juga fase “genting” Indonesia untuk merumuskan kembali arah tujuannya dalam menghadapi situasi global saat ini.

Di Ulang Tahun ke-77 NKRI ini, di masa hakekat dan nilai kepastian seperti berebut ingkar, kita butuh pitutur (:wejangan).

Seperti efek kartu domino, saat entah karena sebab apa kita dulu sepakat untuk saling terikat satu dengan yang lain dalam banyak hal, kita tiba-tiba menjadi rentan, kita butuh “pituduh” (:petunjuk).

Satu tetangga jatuh, hanya waktu sebagai jarak untuk menyaksikan tetangga yang lain turut runtuh. Setelah Sri Lanka, ada berbaris puluhan negara terancam bangkrut.

Dolar yang membumbung tinggi serta merta menjerat mereka dalam krisis hutang tak mungkin terbayar. Kita dan banyak negara lain butuh “pitulungan” (:pertolongan).

Saling tolong menolong (:“Pitulungan”) menjadikan masyarakat kita cukup tangguh dalam menghadapi krisis. Di tengah keterbatasan uluran tangan pemerintah dan intervensi anggaran negara, pituduh (:petunjuk) dan pitutur (:wejangan) dapat menjadi energi tersendiri dalam mengatasi berbagai krisis.

Masalah krisis pangan dan energi yang juga tengah melanda dunia saat ini adalah situasi yang “genting”. Sikap saling memberi “pertolongan” (;pitulungan) dalam kerangka kepedulian sesama dalam bentuk gotong royong semoga menjelma menjadi best practices, praktik terbaik, di alam nyata. Bukan kenyataan semu atau “virtual reality” di media sosial semata.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved