Berita Surabaya
Rayakan Hari Magrove Dunia, Karbon Biru Tanam 1.000 Bibit Bakau di Pesisir Surabaya
Komunitas Karbon Biru merayakan Hari Mangrove Dunia pada 26 Juli dengan menggelar kegiatan penanaman 1.000 bibit bakau di kawasan pesisir Surabaya.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Komunitas Karbon Biru merayakan Hari Mangrove Dunia pada 26 Juli dengan menggelar kegiatan penanaman bibit bakau, Selasa (26/7/2022).
Kegiatan ini dilakukan di tambak kawasan pesisir pantai timur Surabaya (pamurbaya) yang ada di Wonorejo.
Founder Karbon Biru, Yulia Ratnasari mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye utama mereka, yaitu #MembirukanIndonesia.
"Dibikin aksi nyata dan unik agar semakin banyak yang menoleh, tahu dan ikut peduli dengan gerakan bahwa mangrove itu sangat penting untuk karbon biru. Yaitu jumlah emisi dan gas rumah kaca yang dapat diserap, disimpan dan dilepaskan oleh ekosistem pesisir dan lautan," jelas Yulia, di sela kegiatan penanaman yang diikuti lebih dari 10 sukarela komunitas Karbon Biru.
Pada kegiatan di pamurbaya Wonorejo itu, Karbon Biru menyiapkan 1.000 bibit mangrove untuk ditanam. Bibit tersebut didapat dari hasil donasi yang digalang Karbon Biru dari sukarelawan dan kampanye yang disampaikan lewat media sosial.
Menurut Yulia, dirinya mentargetkan bisa mengumpulkan donasi bibit mangrove sebanyak 10.000 pohon dalam tiga tahun ke depan.
Alumnus S1 Universitas Surabaya (Ubaya) itu juga mengungkapkan, dirinya saat ini sedang kuliah S2 di Leiden, Belanda, dengan beasiswa dari Erasmus Mundus.
Saat di kuliah di Leiden tersebut, Yulia menemukan bila mangrove Indonesia itu sangat dikenal dan penting dalam memberikan kontribusi karbon biru dunia.
"Dan di sana ada tanaman mangrove dari pesisir Indonesia yang menjadi bahan penelitian lengkap dengan tanah serta mini ekosistemnya," cerita Yulia.
Ternyata, mangrove merupakan bagian dari paru-paru dunia dan Indonesia punya posisi penting untuk menjaga, bahkan mengembangkannya.
Pohon mangrove atau yang juga disebut bakau itu, dapat menyimpan hingga 10 kali lipat karbon dibanding pohon biasa. Sehingga penyerapan emisi karbondioksida oleh hutan mangrove lebih efektif dibanding hutan hujan atau hutan gambut.
"Laju perubahan iklim oleh emisi karbondioksida yang membuat bumi makin hangat, dapat direm dengan hutan mangrove Indonesia yang luasnya setara 23 persen hutan mangrove dunia," beber Yulia.
Karena itu, Yulia tidak sendiri, program ini juga dilakukan secara internasional dengan menggandeng teman-temannya dari Brazil, Mexico dan Pakistan.
Di Indonesia, Yulia menggandeng anak-anak muda, Maria Setianie, Nikita Zeptiany dan Eleonora Linawati untuk memperluas kegiatannya. Tidak hanya di pamurbaya saja, tapi juga ke berbagai daerah yang dikenal sebagai kawasan hutan mangrove.
"Di pesisir Bali Selatan, di pesisir Demak, Jawa Tengah dan lainnya," tambah Yulia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Karbon-Biru-tanam-bibit-mangrove-di-Wonorejo-Surabaya.jpg)