KKB Papua
Anggota Komisi I DPR Tak Tinggal Diam KKB Papua Semakin Brutal, Ungkap Ide ini untuk Menumpasnya
Anggota Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno tak tinggal diam melihat KKB Papua semakin brutal. Ungkap Ide ini untuk Menumpasnya.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id - Anggota Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno tak tinggal diam melihat KKB Papua semakin brutal.
Dave pun mengusulkan ide supaya KKB Papua bisa teratasi, yakni mendirikan markas militer permanen di Papua
Menurut Dave, satuan tugas (satgas) keamanan yang bersifat sementara tidak efektif meredam kebrutalan KKB Papua.
“Saya terus mendorong untuk dibentuknya markas-markas militer yang bersifat permanen, pembentukan Kodam baru, Kodim dan Koramil,” tutur Dave dalam diskusi bertajuk KKB Papua Kembali Berulah Di Mana Kehadiran Negara di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Seperti dilansir dari Kompas.com dalam artikel 'Anggota Komisi I Usul Pemerintah Dirikan Markas Militer Baru untuk Selesaikan Konflik di Papua'.
Ia menilai, keberadaan satgas keamanan yang memiliki masa tugas rata-rata 6 bulan sampai 1 tahun tak bisa melakukan pendekatan kultural dan emosional secara optimal.
Maka, Dave mengusulkan agar markas militer permanen segera dibentuk di berbagai wilayah Papua.
“Sehingga (dapat) menjalin komunikasi intens dengan warga setempat, terbentuk ikatan batin, sehingga saling memperkuat dan terus membangun kecintaan pada NKRI kedepannya,” paparnya.
Di sisi lain, Dave berpandangan upaya pemerintah membentuk provinsi baru di Papua mesti didukung.
Sebab, pemekaran wilayah bertujuan untuk pemerataan pembangunan di wilayah tersebut.
“Ini penting untuk terus kita dukung, agar penyerataan pembangunan terus berjalan, penyerataan akses pendidikan berjalan (dengan) membentuk sekolah-sekolah baru,” katanya.
“Sekolah-sekolah vokasional sehingga ada masyarakat Papua yang ready untuk langsung masuk ke dunia kerja,” jelas dia.
Dave menuturkan, upaya ini penting untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan kesenjangan di Papua yang menjadi salah satu penyebab konflik keamanan.
Pasalnya, lanjut dia, seperempat warga di provinsi Papua dan Papua Barat hidup dalam kemiskinan dan tingkat literasi yang rendah.
“Inilah salah satu alasan kenapa masih terjadi konflik-konflik yang mengakibatkan pertempuran atau pembunuhan,” pungkasnya.