Berita Banyuwangi

Dokter di Banyuwangi Ciptakan Kartu Nama dari Limbah Pertanian, Dilengkapi Fitur Augmented Reality

Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi, kartu nama dari limbah pertanian yang dilengkapi dengan fitur augmented reality.

Penulis: Haorrahman | Editor: Cak Sur
Istimewa
dr Ananta Naufak Habibi Sp.OT. memperlihatkan Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi yang dibuat dari limbah pertanian dan dilengkapi dengan fitur augmented reality. 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI -  Di Banyuwangi terdapat komunitas yang membuat kertas dari limbah. Salah satu produknya adalah Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi, kartu nama dari limbah pertanian yang dilengkapi dengan fitur augmented reality.

Kartu nama merupakan salah satu aksesoris yang dibutuhkan untuk meningkatkan performa bisnis. Biasanya terbuat dari kertas berisi profil diri dan perusahaan yang menjadi simbol profesionalisme.

Kartu nama digunakan untuk dibagi-bagikan pada rekan kerja, konsumen atau partner bisnis. Di Banyuwangi terdapat komunitas yang fokus pada kepedulian lingkungan, mereka membuat kartu nama dari bahan limbah pertanian.

Kelompok ini bernama Sang Paper Glenmore, berasal dari Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, yang digawangi oleh dokter spesialis bedah tulang dr Ananta Naufak Habibi Sp.OT.

Salah satu produk dari Sang Paper ini adalah Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi, kartu nama yang terdapat barcode dan terkoneksi dengan halaman media sosial sang pemilik kartu.

Tidak hanya itu, Padyang Smart Card ini juga dilengkapi dengan fitur augmented reality yang membuat kartu nama tersebut terlihat lebih interaktif.

"Cukup scan kartu nama dengan smartphone, akan langsung terhubung dengan profil media sosial Anda. Tampilannya juga lebih interaktif karena kartu ini dilengkapi dengan fitur augmented reality," kata dr Ananta.

Tampilan fitur augmented reality Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi
Tampilan fitur augmented reality Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi (Istimewa)

Dokter yang praktik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan Banyuwangi tersebut mengatakan, ide pembuatan kartu nama ini untuk mengurangi konsumsi kertas di Indonesia yang dibilang masih sangat tinggi.

Menurut dr Ananta, untuk membuat 1 rim berisi 500 lembar kertas dibutuhkan satu pohon berusia 5 sampai 10 tahun. Tingkat konsumsi kertas di Indonesia per-orang sekitar 27 kg/tahun, atau mencapai sekitar 13 pohon per orang dalam setahun.

Dari situlah dr Ananta membuat Sang Paper Glenmore, yang memproduksi kertas dari limbah pertanian yakni batang pohon pisang dan padi yang sudah dipanen.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved