G30SPKI

6 FAKTA Jenderal Ahmad Yani Korban G30S/PKI: Kesayangan Soekarno, Berani Menentang Partai Komunis

Berikut rangkuman fakta tentang Jenderal Ahmad Yani, salah satu korban Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI.

tribunnews/istimewa
Jenderal Ahmad Yani dan Monumen Pancasila Sakti. Simak Berikut rangkuman fakta tentang Jenderal Ahmad Yani, salah satu korban Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI. 

SURYA.co.id - Berikut rangkuman fakta tentang Jenderal Ahmad Yani, salah satu korban Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI.

Jenderal Ahmad Yani merupakan salah satu petinggi TNI AD yang menjadi kesayangan Presiden Soekarno.

Dia juga merupakan yang paling berani menentang keinginan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Saat menjadi Menteri atau Panglima Angkatan Darat pada 1962, dirinya menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani.

Itulah yang membuat Jenderal Ahmad Yani masuk dalam daftar jenderal yang harus dihabisi oleh PKI.

Berikut rangkuman fakta tentangnya melansir dari Kompas.com dalam artikel 'Jenderal Ahmad Yani, Kesayangan Sukarno'.

1. Masa kecil

Ahmad Yani lahir pada 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo. Ayahnya bernama Sarjo bin Suharyo dan ibunya, Murtini.

Kemudian pada 1927, mereka merantau ke Bogor karena sang ayah bekerja untuk seorang jenderal Belanda.

Achamd Yani kecil mengawali sekolahnya di HIS (setingkat SD) di Bogor dan selesai pada 1935. Dirinya kemudian melanjutkan sekolah ke MULO di Bogor dan lulus pada 1938.

Selanjutnya masuk ke AMS di Jakarta. Di AMS, Yani hanya bersekolah hingga kelas dua.

Di sana, Yani harus mengikuti program wajib militer yang dicanangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Dia mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang dan dilanjutkan di Bogor.

Dari situlah, Yani mengawali karirnya di dunia militer dengan pangkat sersan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved