Berita Lumajang

Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku Disebut Lambat, Begini Reaksi Wabup Lumajang Indah Amperawati

Jumlah hewan ternak yang terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lumajang sudah tembus 3.000 ekor lebih.

Penulis: Tony Hermawan | Editor: irwan sy
Pemkab Lumajang
Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati. 

Berita Lumajang

SURYA.co.id | LUMAJANG - Jumlah hewan ternak yang terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lumajang terus bertambah banyak.

Kabarnya kasus ini sekarang sudah tembus 3.000 ekor lebih. 

Wabah ini sekarang menjadi sorotan, terutama bagi mereka para peternak dan pedagang daging sapi.

Sebab, jika kasus PMK masih tinggi, aktivitas pasar hewan se-Lumajang terus ditutup. 

Kondisi ini tentu saja membuat banyak peternak kecewa dan sebut penanganannya lambat.

Tak jarang dari mereka mengeluh penanganan medis dari Dinas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian dianggap lelet.

Menyikapi keluhan itu, Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati membeberkan,minimnya tenaga kesehatan menjadi kendala dalam menangani PMK, sehingga penanganan untuk ternak yang sakit sering kali menjadi terlambat.

"Petugas kami sangat terbatas jumlahnya. Kami akan gabung petugas lain yang nanti akan dikawal oleh dokter hewan," ujarnya.

Wanita yang karib disapa Bunda Indah ini menyebut, selain terbatasnya dokter hewan, belum turunnya vaksin dan juga menjadi kendala dalam mengatasi penularan PMK, sehingga dokter hewan belum bisa secara maksimal mencegah penularan PMK.

Oleh karena itu, biasanya, dokter hewan ketika terjun ke peternak-peternak biasanya akan mensosialisasikan cara alternatif mencegah penularan PMK.

Ramuan empon-empon seperti kunyit, jahe, kencur, temulawak dan bawang putih, dipercaya bisa menangkal penularan PMK.

Bunda Indah berharap para peternak bersabar menghadapi musibah ini.

Terlebih, di balik merebaknya PMK, ada sekelompok orang yang justru memanfaatkan keadaan.

Mereka menakuti-nakuti peternak wabah PMK bisa menyebabkan sapi mati.

Sekelompok orang tersebut bisa membeli sapi dengan harga murah.

"Padahal, jika ditangani secara benar wabah ini bisa disembuhkan," pungkasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved