Berita Lumajang
Bupati Lumajang Thoriqul Haq Sebut Jual dan Potong Sapi Harus Ada Rekomendasi Dokter Hewan
Peternak di Lumajang dibayang-bayangi risiko fatal penularan penyakit mulut dan kuku (PMK).
Penulis: Tony Hermawan | Editor: irwan sy
Berita Lumajang
SURYA.co.id | LUMAJANG - Peternak di Lumajang dibayang-bayangi risiko fatal penularan penyakit mulut dan kuku (PMK).
Sebagaian peternak yang mendapati sapinya bergejala PMK memilih memotongnya sapi lebih cepat.
Mereka khawatir jika sapinya mati, akan menanggung kerugian besar.
Memang dalam dua minggu terakhir, jumlah sapi yang terpapar bikin geleng-geleng kepala.
Data terbaru Dinas Pertanian ada 494 ekor sapi yang terjangkit wabah PMK.
Dari ratusan sapi itu dikabarkan ada 9 ekor yang tak bisa diobati. Sembilan ekor sapi itu dilaporkan mati.
Kabar kematian sapi ini tentu saja langsung tersebar di kalangan peternak.
Apalagi dengan rumor PMK bisa mengakibatkan sapi mati mendadak, cukup banyak peternak memilih solusi alternatif.
Sapi dalam kondisi sakit sengaja disembelih lebih cepat.
Peternak takut jika sapi mati mendadak malah tidak bisa dijual.
Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengaku prihatin pilihan peternak terlalu gegabah menyembelih sapi yang terjangkit PMK.
Menurutnya virus ini bisa diobati. Caranya, jika peternak mendapati sapinya terpapar PMK harus segera melaporkan ke perangkat desa.
Dengan begitu, peternak bisa mendapat obat antibiotik yang bisa diberikan ke sapi.
"Ojo kesusu (jangan gegabah) membuat keputusan menjual atau memotong sapi. Jual atau potong sapi harus ada rekomendasi dokter hewan," kata Thoriq.