Berita Surabaya
Ditemukan 114 Kasus Suspect Hepatitis Akut di Jatim, Kadinkes: Waspada, Tapi Tetap Tenang
Untuk mencegah dan mengendalikan penularan hepatitis akut di Jatim, warga diimbau tidak berenang di kolam renang umum, tidak bermain di playground dan
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan secara resmi Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap kasus hepatitis akut yang tidak diketahui etiologinya (penyebabnya) pada tanggal 15 April 2022, jumlah laporan dari berbagai negara juga terus bertambah.
Di dunia, jumlah kasus hepatitis akut mencapai 169 kasus, tujuh belas anak atau sekitar 10 persen di antaranya memerlukan transplantasi hati dan 1 kasus dilaporkan meninggal.
Di Indonesia kewaspadaan meningkat, setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia, dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.
Sedangkan berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Jawa Timur, minggu I – minggu 17 Tahun 2022 (per 4 Mei 2022), telah ditemukan 114 kasus suspect hepatitis akut di 18 kabupaten/kota di Jawa Timur. Bahkan, di minggu ke-14 hingga minggu ke-17 jumlahnya cenderung mengalami kenaikan.
Sebagai catatan, data SKDR tersebut adalah kasus suspect hepatitis akut yang dilaporkan dengan usia secara umum (tidak spesifik ≤ 16 tahun).
Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Dinkes Jatim), Dr dr Erwin Astha Triyono SpPD KPTI mengimbau kepada seluruh masyarakat Jatim, khususnya kepada anak-anak dan orang tua untuk selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta protokol kesehatan secara disiplin.
"Untuk mencegah dan mengendalikan penularan hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya di Jawa Timur, kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati namun tetap tenang,"ujarnya.
Penerapan pencegahan dapat dilakukan dengan PHBS, seperti sering mencuci tangan pakai sabun, meminum air bersih yang matang, memastikan makanan dalam keadaan bersih dan matang penuh, menggunakan alat makan sendiri, memakai masker, menjaga jarak serta menghindari kontak dengan orang sakit.
"Selain itu, untuk sementara agar tidak berenang dulu di kolam renang umum, tidak bermain di playground serta hindari menyentuh hand railing, knop pintu, dinding dan lain-lain yang sering dipegang orang," imbau dokter Erwin.
Ia menjelaskan, bahwa gejala klinis yang ditemukan pada pasien hepatitis akut antara lain peningkatan enzim hati, sindrom hepatitis akut dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah).
Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.
Jika masyarakat menemui gejala tersebut pada anak, lanjut Erwin, segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar segera bisa dilakukan observasi dan tindakan.
Selain itu, ia juga mengimbau kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Jawa Timur untuk siap dan sigap dalam menangani pasien yang mengalami gejala hepatitis akut tersebut.
"Segera melapor ke Dirjen P2P Kemenkes RI melalui Dinkes Jatim jika menemukan kasus sesuai dengan gejala hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya, untuk dilakukan penyelidikan epidemiologi lebih lanjut," ujar Erwin.
Untuk mengendalikan penyebaran hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya ini, Dinkes Jatim telah melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota dan jejaring Dinas Kesehatan, rumah sakit dan puskesmas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/dr-erwin-ashta-triyono-2812022.jpg)