Kamis, 23 April 2026

Berita Blitar

Warga Blitar Ini Kenyang Jadi Langganan Banjir, Akibat Rumah Lebih Rendah dari Jembatan

"Ditambah bangunan rumahnya lebih rendah dibandingkan jembatan sehingga jadi langganan banjir setiap terjadi hujan deras," ungkapnya.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
surya/imam taufiq
Air Sungai Wulungsewu meluap ke jalan dan memasuki rumah warga di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Minggu (10/4/2022) lalu. 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Banjir luapan Sungai Wulungsewu diDesa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Minggu (10/4/2022) lalu tidak hanya membanjiri jalanan, tetapi juga meluber masuk ke rumah warga.

Banjir besar itu mendapat perhatian Adib Zamhari, anggota Komisi III DPRD Kabupaten Blitar yang langsung mendatangi rumah korban, Senin (11/4/2022) siang. Korbannya yang didatangi adalah milik Sugeng (49), warga setempat.

Di rumah korban, anggota dewan dari PKB ini lega karena tak ada korban luka meski air sungai masuk dengan deras ke dalam rumah Sugeng.

"Yang penting, tidak ada korban. Itu yang utama. Soal kejadian itu, saat kami datangi lokasi, dan langsung menghubungi dinas PU agar mendatangkan alat berat untuk mengeruk lumpur sungai yang bercampur material pepohonan," ujar anggota dewan yang rumahnya di Kecamatan Talun itu.

Menurut Adib, pendangkalan pada dasar sungai harus segera dikeruk. Sebab kondisinya sudah memprihatinkan karena bukan hanya lumpurnya menebal namun juga banyak bongkahan kayu yang tersangkut di jembatan Desa Krisik itu.

Bahkan yang mempihatinkan, saat hujan deras, air sungai yang meluap berbau busuk karena banyak kotoran sapi yang terbawa arus. Karena banyak material kayu yang tersangkut di bawah jembatan, maka airnya bukan lewat di bawah jembatan selebar 8 meter namun di atasnya.

Akhirnya, air sungai meluber ke mana-mana, termasuk masuk ke rumah Sugeng. Memang, di antara rumah warga lainnya, rumah sugeng paling ujung dan paling dekat dengan jembatan sungai itu.

"Ditambah bangunan rumahnya lebih rendah dibandingkan jembatan sehingga jadi langganan banjir setiap terjadi hujan deras," ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Hari Budi Setiawan selaku Kades Krisik mengatakan, memang sudah lama terjadi pendangkalan sungai itu. Namun karena dibutuhkan alat berat untuk mengeruk lumpur, maka pihak desa tidak mampu menyediakan. "Kami berterima kasih kepada anggota dewan, yang punya kepedulian seperti itu," ujar Hari.

Desa Krisik dikenal sebagai penghasil susu sapi karena masyarakatnya banyak yang menjadi pengusaha sapi perah. Karena itu ke depannya, dewan berharap agar sistem pembuangan kotoran sapi dibangun secara permanen, agar kotoran sapi tidak sampai mencemari sungai. *****

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved