Berita Surabaya
Puluhan Elemen Masyarakat Jatim Tegaskan KomitmenPpada NKRI, Pancasila dan Kebhinnekaan Indonesia
25 elemen masyarakat di Jatim berkumpul di Rumah Pergerakan Mawar, Kota Surabaya, untuk memperingati Hari Penegakan Kedaulatan Negara.
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, SURABAYA - 25 elemen masyarakat di Jatim berkumpul di Rumah Pergerakan Mawar, Kota Surabaya, untuk memperingati Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang jatuh pada tanggal 1 Maret 2022.
Mereka terdiri dari Roemah Bhinneka, Gusdurian Jatim, Jaringan Islam Anti Diskriminasi, Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KAPT), Alumni SMA-SMK Surabaya Bersatu, Forum Alumni Jatim, Jogoboyo, Gema Indonesia, Rumah Belajar, Roemah Bhinneka Moeda.
Kemudian Wanita Katolik RI, Formagam, Teman Jokowi, Masyarakat BAHA'I, Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), Jatim, Gerakan Pemuda Marhaen Jatim, Perhimpunan INTI Jatim, Sekolah Rakyat Kejawan, Rumah Swadesi Keputih, Ksatria Airlangga, Forum Budaya Surabaya, Walubi, Madura Nusantara, Patriot Garuda, dan PSMTI Sidoarjo,
Mereka mengadakan diskusi Kebhinnekaan NKRI serta membuat pernyataan sikap. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Diskusi dibuka oleh Edward Dewaruci, Ketua KAPT Jawa Timur.
Roni Mustamu, perwakilan PIKI mengawali diskusi dengan mengetengahkan kondisi sosial yang ada. Menurutnya, ini adalah cobaan, agar terlena dan larut dalam konflik serta pertikaian yang muncul.
"Ada yang berharap konflik semacam ini akan makin runcing dan menyebar dan nanti ketentraman dan kedamaian di Indonesia akan hilang. Apakah ini karena pilpres, tidak. Data tidak menunjukkan karena itu. Ini adalah bagian dari upaya memecah belah bangsa," ujarnya, Rabu (2/3/2022)
Dirinya menilai, soal berlatih mengembangkan kepekaan sosial tidak perlu dimasalahkan, terutama masalah privat keyakinan, adat istiadat serta agama dan negara tidak usah masuk, membuat repot masyarakat yang sudah pandai memilah.
"Melalui momentum ini, semoga kita ingat kembali, kenapa republik ini didirikan, dan jangan sampai mengurangi apa yang sudah istimewa dari republik ini," ucapnya.
Gatot Santoso, Ketua INTI Jatim mengutarakan, mungkin sekarang tidak banyak yang mengenali peringatan hari tersebut. Namun, yang utama harus menyelamatkan anak bangsa sebagai upaya mengamankan bangsa lewat pendidikan moral dan pendidikan karakter.
"Walaupun mendapatkan hambatan dari politik identitas. Ini keprihatinan saya. Banyak orang mabok agama, tapi mendapatkan tempat dan kesempatan serta bertindak makin tidak terkendali. Dari dulu kita ini beriman, tapi sekarang ini terganggu dari wacana yang berkembang," bebernya.
Acara juga ditutup dengan pembacaan sikap bersama yang dipimpin oleh Edward Dewaruci, diikuti dan dilantangkan bersama oleh seluruh peserta perwakilan 25 elemen masyarakat yang ada.