Berita Pamekasan
Pengusaha Tahu-Tempe Pamekasan Megap-Megap, Harga Kedelai tahu-Tahu Sudah Rp 11.000 per KG
Hal senada diungkapkan Feri Hariyanto, produsen tempe merek Pak Heri di Jalan Purba Pamekasan, yang berdiri sejak 1995 lalu
Penulis: Muchsin | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, PAMEKASAN – Belum dipastikan apakah bakal ada operasi kedelai murah seperti minyak goreng, tetapi para pelaku usaha tempe dan tahu di Pamekasan sekarang sudah nyaris kehabisan nafas. Itu gara-gara harga kedelai yang ternyata sudah dua pekan terakhir mengalami kenaikan, dan kini sudah menyentuh Rp 11.000 per KG.
Kenaikan harga kedelai yang memang diimpor dari Amerika ini, sebenarnya sudah dirasakan produsen tahu dan tempe sejak 2021 lalu. Akibatnya makanan rakyat berbahan baku dari Amerika itu pun berubah ukuran.
Sejumlah produsen tempe dan tahu di Pamekasan pun kelimpungan. Agar produksinya tetap bertahan dan tidak merugi, mereka terpaksa menyiasati dengan sedikit mengurangi ukuran tempe dan tahu produksinya.
Sebelumnya harga kedelai masih Rp 7.500 – Rp 8.000 per KG sekitar setengah bulan lalu. Setelah itu tanpa pemberitahuan pemerintah, harga kedelai terus melonjak menjadi Rp 10.000 – Rp 11.000 per KG.
Ny Rohtina, produsen tahu UD Nuri di Desa Teja Timur, Kecamatan Kota Pamekasan mengungkapkan, harga kedelai sekarang merupakan yang tertinggi sepanjang masa. Ia mengakumemiliki 7 karyawan dan setiap hari memproduksi tahu 4 kuintal.
"Ketika harga kedelai terus beranjak naik, maka satu-satunya cara yang dilakukan agar tetap berproduksi dan tidak sampai memangkas jumlah karyawannya, saya mengurangi sedikit ukuran tahu," kata Rohtina kepada SURYA, Selasa (15/2/2022).
Seperti sudah kesepakatan, produksi tahu di Pamekasan dijual per papan dengan harga Rp 27.000 untuk pelanggan tetap dan Rp 28.000 untuk bukan pelanggan per papan. Setiap papan ini di mana bahan tahu dibentangkan, bisa dipotong menjadi 30 bagian hingga 45 bagian, tergantung permintaan pemesan.
Menurut Rohtina, produksi tahu miliknya selama ini dilempar ke sejumlah pasar tradisional di Pamekasan, dikirim ke pondok pesantren, pedagang tahu keliling menggunakan sepeda motor untuk dijual lagi ke kampung-kampung dan dikirim ke Sampang.
“Kami tidak berani menaikkan harga jual tahu produksi kami. Jadi kami hanya mengurangi sedikit ukuran tahunya saja. Semua pelanggan sudah mengerti dengan mahalnya harga kedelai. Kami berharap suatu saat harga kedelai ini turun. Karena kenaikan ini benar-benar membuat kami pusing dengan keuntungan yang tidak seberapa,” keluhnya.
Hal senada diungkapkan Feri Hariyanto, produsen tempe merek Pak Heri di Jalan Purba Pamekasan, yang berdiri sejak 1995 lalu. Kenaikan kedelai sekarang, kata Feri, juga memukul produsen tempe dan kondisi ini merata dialami produsen tempe lainnya.
Feri mengungkapkan, setiap harinya ia memproduksi 4 kuintal tempe. Dan tempe buatannya dijual ke Pasar 17 Agustus, Pasar Kolpajung dan ke pasar di kawasan Kecamatan Larangan.
Harganya beragam, tergantung besar kecilnya ukuran tempe. Harganya mulai dari kisaran Rp 3.000 per kotak, Rp 4.000 hingga Rp 15.000 per kotak.
Feri mengatakan, meski harga kedelai sudah naik dengan kejam, ia mematok harga tempe seperti sebelumnya. Namun hanya mengurangi isinya.
“Yang paling banyak diminati konsumen adalah tempe yang harga Rp 4.000. Kalau tempe yang kami jual dengan harga Rp 15.000 per potong, biasanya peminatnya dari kalangan warung makan,” papar Feri. ****