Berita Kediri
Peneliti Ecoton : Air Sungai Brantas Kota Kediri Telah Tercemar Microplastik
Microplastik juga ditemukan dari hasil ekspedisi dan penelitian Ecoton pada 23 sungai besar lainnya di Indonesia.
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.CO.ID, KEDIRI - Sungai Brantas yang melintas di tengah Kota Kediri dari hasil ekspedisi dan penelitian Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) airnya telah tercemar microplastik.
Microplastik juga ditemukan dari hasil ekspedisi dan penelitian Ecoton pada 23 sungai besar lainnya di Indonesia.
"Microplastik kami temukan di Sungai Brantas di Kediri dan hilir sungai juga mengandung microplastik," ungkap Prigi Arisandi, Peneliti Ecoton saat nonton bareng film dokumenter Ekspedisi 3 Sungai dan Diskusi Sampah Sachet Tak Seindah Sunset di Cafe Segoro, Kota Kediri, Minggu (9/1/2022) malam.
Dijelaskan, sumber dari microplastik berasal dari tumpukan sampah plastik.
Apalagi setiap tahun Indonesia menghasilkan sekitar 8 juta ton sampah plastik.
Namun dari jumlah tersebut yang mampu diolah baru sekitar 3 juta ton.
Sehingga masih ada sekitar 5 juta ton yang tidak terkelola.
Akibatnya sampah mengakibatkan pencemaran microplastik seperti ditemukan di Sungai Brantas.
Baca juga: Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah, Guru TK dan PAUD di Surabaya Bahagia Campur Haru
"Kami mendorong agar ada perlakuan terhadap sampah kita. Masyarakat di Kediri dan Jawa Timur harus bertanggung jawab terhadap sampah yang kita buang," jelasnya.
Karena sampah yang dibuang menghasilkan microplastik.
"Indonesia kawasan tropis, sampah plastik mudah terpapar matahari sehingga menjadi microplastik," jelasnya.
Apalagi air Sungai Brantas di hilir sungai juga diolah menjadi bahan baku PDAM Surabaya.
"Di Kediri kami menemukan 20 spesies jenis ikan khas Sungai Brantas yang terancam punah akibat pencemaran microplastik," ungkapnya.
Prigi mengajak masyarakat untuk mengelola dan menjaga sampah agar tidak mencemari Sungai Brantas sehingga dapat melestarikan 20 spesies ikan.
Sementara kepada aparat pemerintah diharapkan untuk menyediakan infrastruktur pengolahan sampah di setiap desa dan kelurahan.
"Setiap desa harus punya tempat pembuangan sampah (TPS) dan dimunculkan kelompok masyarakat yang aktif melakukan pemantauan dan mendorong pengurangan plastik sekali pakai," jelasnya.
Prigi Arisandi menyebutkan saat ini masyarakat telah menjadi ketergantungan pada bahan plastik seperti tas kresek, sedotan, sachet, sterofoam dan botol plastik sekali pakai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/di-cafe-segoro-kota-kediri-minggu-912022-malam.jpg)