Gerhana Bulan Sebagian
3 Mitos Ibu Hamil saat Gerhana Bulan, Ini Pandangan dan Penjelasan dalam Islam
Di Indonesia, tak sedikit bermunculan mitos ibu hamil saat terjadi gerhana bulan. Ini pandangan dan penjelasan dalam Islam
Penulis: Arum Puspita | Editor: Iksan Fauzi
SURYA.CO.ID - Di Indonesia, tak sedikit bermunculan mitos ibu hamil saat terjadi gerhana bulan.
Tiga mitos yang paling sering muncul adalah tidak boleh melihat gerhana bulan, tidak boleh keluar rumah, hingga kepercayaan adanya raksasa Batara Kala.
Sekedar info, hari ini (19/11/2021) diprediksi akan terjadi gerhana bulan sebagian yang dapat dilihat hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Jelang fenomena tersebut, mitos ibu hamil saat gerhana bulan pun kembali ramai diperbincangan.
Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan ibu hamil saat gerhana bulan dalam Islam?
Mengutip ceramah Buya Yahya yang diunggah akun YouTube Al-Bahjah TV, berjudul Mitos Gerhana Pada Ibu Hamil - Buya Yahya Menjawab, terdapat penjelasan soal tuntunan Islam saat gerhana.
Buya Yahya dalam ceramahnya menjelaskan mitos tersebut tidaklah benar.
Serupa yang terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Saat sayyidina Ibrahim putra Nabi Muhammad wafat, terjadilah gerhana. Orang-orang mengira terjadinya gerhana karena putra nabi wafat.
Nabi saat itu juga menjelaskan bahwa terjadinya gerhana bukan karena putranya Ibrahim wafat, melainkan karena tanda-tanda kebesaran Allah.
"Sholatlah. Kalau anda menemukan gerhana, maka sholat gerhana. Sholat gerhana itu bisa sholat gerhana dengan 4 rukuk yang panjang dengan ayat yang panjang di masjid," ceramah Buya Yahya.
Kalau pun tidak bisa melaksanakan sholat jamaah, sholat gerhana bisa dilakukan sendiri
"Kalau pun tidak, anda seperti sholat biasa saja, seperti sholat subuh, sholat dua rakaat. Kalau anda tidak bisa jamaah, dua rakaat saja niatkan sholat khusuf, selesai. Memang utamanya 2 kali rukuk kan, kalau anda ribet cukup dua rakaat," jelas Buya Yahya melanjutkan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ilustrasi-mitos-ibu-hamil-saat-gerhana-bulan.jpg)