Berita Banyuwangi
Kampoeng Batara Banyuwangi, Berawal dari Rumah Literasi hingga Raih Banyak Prestasi
“Rumah Bambu” demikian warga setempat menyebut tempat yang menjadi amphiteater anak-anak rimba Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara), Kelurahan Papring
Penulis: Haorrahman | Editor: Fatkhul Alami
Penulis: Haorrohman | Editor: Fatkhul Alami
SURYA.co.id | BANYUWANGI - Di kaki gunung Raung, Banyuwangi terdapat sebuah rumah yang seluruhnya terbuat dari bambu. “Rumah Bambu” demikian warga setempat menyebut tempat yang menjadi amphiteater anak-anak rimba Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara), Kelurahan Papring, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi tersebut.
Di sinilah anak-anak rimba Kampoeng Batara mengaktualisasi diri, hingga kini meraih banyak prestasi. Disebut anak rimba, karena tiap musim tanam mereka akan berjaga di hutan agar tanaman mereka tidak dirusak babi hutan.
Kampung ini terletak sekitar 15 kilometer dari kota Banyuwangi, dan berada di ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut (DPL).
Berawal dari Rumah Literasi, Kampoeng Batara menjadi sarana pendidikan alternatif, yang akhirnya turut menggerek perekonomian warga dengan potensi utama mereka, bambu.
Minggu (31/11/2021) Kampoeng Batara memperingati enam tahun mereka lahir. Di amphiteater yang merupakan CSR Pertamina Tanjungwangi ini, mereka memperingati secara sederhana. Di tempat yang diresmikan 30 Maret 2021 itu, anak-anak di kampung ini menampilkan berbagai kesenian dengan alat musik tradisional.
Mereka menampilkan pagelaran seni Hikayat Bambu Papring 6, Merupakan refleksi dari perjalanan sekolah adat Kampoeng Batara selama enam tahun. Bambu dipilih karena sebagai cikal bakal nama kampung Papring.
"Keberadaan kerajinan bambu Papring yang kini terus dikembangkan sebagai upaya peningkatan ekonomi mengikuti pola pasar yang penuh tantangan," kata pendiri Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy.
Anak-anak Kampoeng Rimba sudah terbiasa dan tidak lagi canggung saat menampilkan berbagai kesenian tradisional seperti pencak silat, barong, tari, memainkan musik tradisi, dan lainnya. Bahkan satu anak bisa memainkan berbagai seni.
Seperti anak berusia 15 tahun, Erfan Efendi. Dia tidak canggung di hadapan lensa kamera. Bicaranya lancar tak terbata-bata. Dari matanya terlihat kepercayaan diri yang kuat. Di anak seusianya, dia terlihat matang dibanding anak pada umumnya yang cenderung kurang percaya diri karena banyak menatap layar handphone.
Fendi yang menjadi penabuh gendang setiap anak-anak Kampoeng Batara mentas, kini setelah baru saja lulus MTs, memilih fokus mengembangkan diri di bidang kesenian, dengan melanjutkan pendidikan di Jurusan Seni Tari SMK Banyuwangi.
“Dulu saya pemalu. Bertemu orang saya takut. Tapi setelah belajar di tempat ini, saya tak mau lagi malu,” kata Fendi.
Fendi tak lagi canggung saat tampil di hadapan banyak orang. Tidak seperti enam tahun lalu. Fendi merupakan salah satu anak yang turut andil merintis Kampoeng Batara bersama Widie.
Widie mengawali Kampoeng Batara bersama empat orang anak, termasuk di dalamnya Fendi. Itupun mereka semua keponakan Widie.
Awal berdirinya Kampoeng Batara karena saat itu Widie melihat anak putus sekolah di kampungnya. Tidak hanya satu anak, melainkan banyak anak di kampung ini yang putus sekolah dan memilih bekerja seperti buruh angkut, pekerja bangunan, dan lainnya. Banyak pemuda di kampung ini yang hanya lulusan SMP bahkan SD.
Menurut pria 42 tahun itu, masyarakat di kampungnya cukup bisa tanda tangan, membaca arah jalan, berhitung, sudah cukup. Dari situlah, Widie mulai melakukan langkah kecil dengan membuka taman baca di rumahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/rumah-bambu-kampoeng-batara-kelurahan-papring-kecamatan-kalipuro-banyuwangi.jpg)