Berita Ponorogo
Emak-emak di Ponorogo Manfaatkan Waktu Luang Tanam Hidroponik dan Hasil Panen Ludes Terjual
Sayuran yang ditanam para ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Patih Lima Hijau Ponorogo ini menggunakan sistem tanam hidroponik
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Fatkhul Alami
Penulis: Sofyan Arif Candra | Editor: Fatkhul Alami
SURYA.co.id | PONOROGO - Puluhan ibu-ibu di Jalan Parang Menang V, Kelurah Patihan Wetan, Kecamatan Babadan, Ponorogo memanfaatkan waktu dan lahan kosong yang ada di pekarangan rumahnya untuk ditanami sayuran.
Sayuran yang ditanam para ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Patih Lima Hijau Ponorogo ini menggunakan sistem tanam hidroponik.
Dengan kegiatan barunya ini, ibu-ibu di Patihan Wetan bisa menghemat biaya belanja sayur.
Selain itu mereka lebih yakin sayuran yang dikonsumsinya lebih aman lantaran mereka sendiri yang menanam, merawat, hingga memanennya.
Selain di pekarangan masing-masing, emak-emak ini juga punya kebun bersama untuk mengembangkan KWT Patih Lima Hijau.
Anggota KWT Patih Lima Hijau, Farida (36) mengatakan jenis sayuran yang ditanam macam-macam.
Mulai dari kangkung, bayam merah, selada, selada merah, brokoli, Sawi pakcoy, cabai, dan tanaman lainnya.
Untuk hasil panennya mereka menjualnya melalui media sosial terutama WhatsApp.
"Kalau untuk pemasarannya kita baru ke teman-teman. Jadi tiga hari atau dua hari sebelum panen ibu-ibu posting pasang status WhatsApp atau menyebar pesan di grup kalau mau panen, bagi yang minat bisa langsung pesan," kata Farida, Minggu (31/10/2021).
Farida bersyukur hasil panen ibu-ibu KWT selalu habis terjual dan tak jarang sudah ada yang pesan untuk masa panen berikutnya.
"Soalnya mereka lebih yakin kalau sayuran kita aman, tidak pakai pestisida, dan lebih segar. Setelah petik kita cuci langsung bisa diantar sampai rumah user (pelanggan)," lanjutnya.
Sehingga walaupun lebih mahal sedikit dibandingkan harga pasaran, konsumen tetap merasa puas.
Dari usaha bersama ini, rata-rata uang yang berputar di KWT Patih Lima Hijau mencapai Rp 700 ribu per bulannya.
Sebagian uang tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan masa tanam selanjutnya, terutama Rockwool untuk media tanam serta nutrisi pengganti pupuk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/emak-emak-di-ponorogo-manfaatkan-waktu-luang-tanam-hidroponik-dan-hasil-panen-ludes-terjual.jpg)