Berita Lamongan
Batik Daliwangun Khas Lamongan Selatan, Angkat Motif Flora dan Fauna
Batik Daliwangun mengusung sejarah dan segala hal yang berkaitan dengan Desa Daliwangun.
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Titis Jati Permata
"Kita sistemnya masih custom, jadi pemasaran kita lewat media sosial atau online," kata Basuki.
Karena diproduksi dengan penuh ketelitian dan mengutamakan kualitas, dan tingkat kerumitannya juga tinggi, maka wajar batik karyanya itu dijual dengan harga mahal.
Sasarannya menengah ke atas, karena memang custom.
Pembeli pun kebanyakan dari luar daerah, seperti dari Ternate, Semarang, dan lain-lain.
"Dalam sebulan, rata-rata saya bisa menghasilkan 4 potong kain batik, yang masing-masing harganya Rp 450 ribu," ujarnya.
Batik Daliwangun belum bisa diproduksi dalam jumlah banyak, karena sejauh ini Batik Daliwangun baru dikerjakan Basuki seorang diri.
Pihaknya akan menyaring ibu-ibu yang punya minat dan bakat untuk ditarik jadi pengrajin yang bisa mencanting.
Untuk menguji sejauh mana kemampuan calon pekerja, akan dilakukan Basuki sendiri.
Ia mempunyai kompeten untuk itu karena ia adalah alumni Jurusan Seni Rupa Murni Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.
Basuki juga memiliki harapan ke depan akan menjadikan Lamongan wilayah selatan sebagai sentra batik, seperti yang ada di Sendang Duwur, Kecamatan Paciran.
amun untuk mewujudkan cita-citanya itu, Basuki berharap pemerintah bisa memberikan pendampingan dan bantuan berupa alat dan bahan batik, yang bisa digunakan dalam pelatihan, khususnya kepada ibu-ibu warga Desa Daliwangun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/batik-daliwangun-kecamatan-sugio-lamongan-yang-mulai.jpg)