Breaking News:

EFEK Viral Tabung Oksigen Palsu di Tulungagung Buat Polda Jatim Turun Tangan, Begini Cek Keasliannya

Efek viral temuan tabung oksigen palsu di Tulungagung, Polda Jatim langsung turun tangan. 

Penulis: Samsul Arifin | Editor: Musahadah
surya/david yohanes
Pembudidaya ikan koi menemukan tabung oksigen palsu di Tulungagung. Foto kanan: tabung oksigen yang asli. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Efek viral temuan tabung oksigen palsu di Tulungagung, Polda Jatim langsung turun tangan. 

Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Farman mengaku saat ini pihaknya sedang mendalami kasus ini.

Ia mengatakan temuan tabung oksigen ini khusus untuk ikan koi bukan untuk manusia. 

“Kejadian yang ada di Tulungagung ini bukan untuk kepentingan pasien melainkan untuk ikan koi,” jelasnya saat dikonfirmasi, Kamis, (22/7/2021). 

Sementara itu, kepolisian juga sudah mengamankan tabung oksigen yang dipakai dan diduga palsu. 

Selanjutnya tabung-tabung oksigen tersebut akan diteliti di laboratorium untuk mengetahui secara pasti apa isinya. 

Baca juga: Biaya Pemulasaraan Jenazah Covid-19 di Kabupaten Ponorogo Kini Ditanggung Pemkab

Heboh oksigen palsu itu mula kali disampaikan Alipin, anggota kelompok peternak Sol Koi di Tulungagung. 

Ketua Kelompok pembudidaya ikan hias koi, Sol Koi di  Dusun Leksono, Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol ini menemukan gas di dalam tabung ini diduga diisi dengan kompresor udara, sehingga hanya berisi udara bisa bukan oksigen murni.

Alipin, mengatakan  tabung berwarna hitam berisi oksigen palsu itu didapat oleh temannya.

“Kami sekarang kebingungan mencari oksigen. Kebetulan ada  yang dapat, katanya dari Pacitan,” terang Alipin, Selasa (20/7/2021).

Satu tabung diminta oleh Sol Koi karena akan digunakan untuk mengirim ikan.

Dua lainnya dipinjam untuk dipakai seseorang yang sedang sakit.

Gas dari tabung berwarna hitam itu sempat dimasukkan kantong plastik yang di dalamnya diisi ikan koi.

Namun ternyata, berselang 15 menit kemudian ikan di dalam kantong plastik itu megap-megap hampir mati.

Padahal jika menggunakan oksigen asli, ikan di dalam kantong plastik bisa bertahan selama 24 jam.

Gas di dalam plastik itu lalu dibuang, dan diganti dengan gas lain dari tabung berwarna putih.

“Kami isi dengan gas dari tabung cadangan. Hasilnya ikannya jadi segar lagi, tapi ada yang sudah parah akhirnya mati,” tutur Alipin.

Untuk menguji keaslian oksigen di dalam tabung itu, Alipin dan kawan-kawan membuat percobaan sederhana.

Gas dari tabung oksigen berwarna putih dimasukkan ke dalam plastik kantong ikan.

Plastik berisi gas itu lalu disulut menggunakan bara api rokok.

Sebentar kemudian muncul api dan membakar kantong plastik itu, meski plastik dalam kondisi basah.

“Gas yang ada di tabung putih berarti asli. Karena saat disulut dengan rokok dia langsung menyala,” ungkapnya.

Sebagai pembanding, gas dari tabung berwarna hitam juga dimasukkan kantong plastik.

Namun saat kantong itu disulut dengan rokok yang menyala, tidak terjadi apa-apa.

Plastik itu hanya berlubang tanpa menimbulkan kebakaran.

“Berarti yang tabung hitam ini berisi udara biasa saja. Makanya dipakai untuk kantong ikan, ikannya cepat mati,” katanya.

Mengetahui oksigen yang didapat itu palsu, Alipin segera memberi tahu temannya.

Sebab dia khawatir dua tabung lainnya terlanjur diberikan kepada orang yang sakit.

Beruntung gas di dalam tabung itu belum diberikan.

“Coba kalau digunakan pada orang sakit, kan bisa mengakibatkan meninggal dunia,” keluh Alipin.

Polres Tulungagung Bergerak

Ketua Kelompol SOl Koi, Alipin mengisi kantong plastik dari tabung oksigen yang diduga palsu, Selasa (20/7/2021).
Ketua Kelompol SOl Koi, Alipin mengisi kantong plastik dari tabung oksigen yang diduga palsu, Selasa (20/7/2021). (surya/david yohanes)

Terpisah, Kepala Unit Tindak Pidana Khusus Satreskrim Polres Tulungagung, Iptu Didik Riyanto saat dikonfirmasi Rabu (21/7/2021), mengaku sudah mendapat laporan masalah itu.

“Kami baru dapat informasi. Padi ini kami rapatkan,”ujar Didik melalui sambungan telepon.

Didik mengaku akan menindaklanjuti informasi itu dengan melihat langsung tabung oksigen yang diduga palsu.

Selain itu pihaknya juga berharap bisa mengumpulkan bahan keterangan dari warga yang menyimpan tabung itu.

Jika memang mengarah pada upaya penipuan, maka kasus ini bisa dinaikkan ke ranah pidana.

“Makanya kami perlu mencari bahan keterangan untuk dijadikan dasar. Jika arahnya ada unsur pidana, bisa ditingkatkan,” ucapnya.

Saat ini oksigen adalah salah satu barang yang diawasi peredarannya dengan ketat.

Untuk memudahkan pengawasan, Didik membuatkan grup Whatsapp untuk para pihak terkait ketersediaan oksigen.

Setiap hari empat kali Didik menerima laporan ketersediaan oksigen dari distributor.

“Ada dua distributor, yaitu Merak Muda dan Samator. Setiap pagi, siang, sore dan malam ketersediaan oksigen terus dilaporkan,” ungkapnya.

Selama Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat stok oksigen masih aman.

Ketersediaan masih terjaga sementara harga juga tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Ketersediaan oksigen saat ini dikhususkan untuk keperluan medis.

“Industri tetap bisa mendapatkan oksigen, namun harus dengan surat pengantar dari desa. Meski stok yang ada diutamakan untuk keperluan medis,” ujar Didik.

Selain dua distributor, ada tiga agen yang melayani isi ulang oksigen di Tulungagung.

Tiga agen ini ada di Kecamatan Ngunut, Kecamatan Tulungagung dan Kecamatan Kauman.

Cara Cek Keasliannya

Ikan koi yang dipelihara warga di Tulungagung yang beralih dari budidaya ikan patin, Jumat (7/5/2021).
Ikan koi yang dipelihara warga di Tulungagung yang beralih dari budidaya ikan patin, Jumat (7/5/2021). (SURYA.CO.ID/David Yohanes)

Para pembudidaya ikan hias tengah mengalami kesulitan mendapatkan oksigen.

Gas O2 ini digunakan untuk mengirim ikan hias ke berbagai kota.

Kesulitan terjadi sejak dua minggu lalu, saat terjadi ledakan kasus Covid-19.

Oksigen lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan medis.

Jika biasanya isi ulang tabung kecil hanya Rp 25.000, kini mencapai Rp 100.000.

Itu pun tidak semua bisa melakukan isi ulang, jika tidak mendapat surat pengantar.

“Yang dilayani isi ulang juga hanya untuk pasien. Kalau ada sisa baru untuk yang lain,” ucap Alipin.

Kini dengan beredarnya oksigen palsu, Alipin meminta masyarakat waspada.

Untuk mamastikan keasliannya bisa melakukan tes sederhana dengan kantong plastik.

Atau bisa juga dengan mencium langsung gas yang keluar dari dalam tabung.

“Kalau oksigen murni kan rasanya segar, terasa lebih dingin. Kalau yang palsu terasa seperti angin biasa saja,” ungkapnya.

Selain itu tabung gas oksigen murni terasa lebih dingin.

Sedangkan tabung yang berisi udara biasa terasa hangat saat diraba. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved