Berita Surabaya
Mulai Kamis, 42 RS dan 8 Klinik di Surabaya Beri Layanan Gratis; Pelayanan Cepat Hanya 15 Menit
warga Surabaya bisa menggunakan KTP untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis di masing-masing tempat tersebut.
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pembukaan pelayanan kesehatan gratis yang cukup dengan membawa KTP, akan diberlakukan mulai Kamis (1/4/2021). Dan Pemkot Surabaya yang menggagas pelayanan bermodal KTP itu, juga mengefektifkan pelayanan hanya sekitar 15 menit saja.
Pelayanan kesehatan gratis itu mengintegrasikan data kependudukan dengan BPJS Kesehatan. "Mulai 1 April, masyarakat Surabaya yang ingin berobat ke rumah sakit cukup menunjukkan KTP," kata Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, Rabu (31/3/202).
Selain seluruh Puskesmas, ada sekitar 42 rumah sakit dan 8 klinik di Surabaya yang telah bermitra dengan BPJS. Dengan kata lain, warga Surabaya bisa menggunakan KTP untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis di masing-masing tempat tersebut.
Pelayanan itu menyempurnakan sistem pengobatan selama ini. Sebelumnya, masyarakat harus menyertakan surat keterangan miskin untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis.
"Sekarang ketika tidak terdaftar di BPJS, tidak perlu menggunakan surat keterangan miskin. Itu tidak diperlukan lagi, sudah terpenuhi semua. Kita tinggal jalan," tegas Cak Eri.
"Jadi bagi masyarakat belum punya BPJS, silakan datang saja (ke Puskesmas) ketika sakit. Setelah memberi KTP (Surabaya) secara otomatis dicover sama BPJS," jelasnya.
Bagi warga MBR, iuran keanggotaan BPJS kelas 3 akan menjadi tanggungan pemerintah Kota. "Memang uangnya masyarakat, kalau bayar pajak ya dikembalikan untuk kepentingan masyarakat. Masyarakat harus menikmati," jelasnya.
Selain bebas biaya, waktu pengobatan juga dipangkas. Dari pendaftaran sampai menerima obat ditargetkan cuma membutuhkan waktu 15 menit. "Pelayanan di Puskesmas, satu orang ketika datang, 15 menit sudah mendapatkan obat. Kecuali ada tindakan, misalnya jahit luka tau cabut gigi, itu bisa lebih lama," tegasnya.
Proses layanan ini akan mengintegrasikan dengan sistem digital. Rekam jejak warga akan diketahui cukup dengan identitas kependudukan atau KTP. "Kalau data sudah jelas. Jadi setelah masuk, pemeriksaan, ter-record, langsung mengambil obat di apoteknya," katanya.
Bukan hanya dari sisi teknologi, jumlah etugas yang memberi pelayanan juga akan diperbanyak. Bahkan Cak Eri menyebut bahwa sejumlah universitas akan ambil bagian dengan menyumbangkan petugas kesehatan.
"Untuk pelayanan berobat 15 menit diperlukan penambahan tenaga. Kami sudah bekerja sama dengan Unair, serta perguruan tinggi yang lainnya. Setelah kami koordinasikan, mereka antusias memberikan tenaga kesehatan. Bahkan ada dokter muda bisa praktik di sana," terangnya.
Kolaborasi ini diyakini akan mewujudkan pelayanan kesehatan semakin baik. Dikatakan Cak Eri, ketika semua berkolaborasi dan bersinergi maka masalah bisa cepat diselesaikan.
Dan perguruan tinggi di Surabaya harus merasa memiliki Surabaya. "Mereka akan memberikannya untuk Surabaya dan demi masyarakat," katanya.
Masyarakat pun diharapkan proaktif untuk melaporkan setiap pelayanan kesehatan yang tak sesuai dengan instruksi pemerintah kota. Pihaknya tak memungkiri akan ada sejumlah evaluasi dalam program tersebut.
"Saya berharap pada masyarakat Surabaya, kalau ada pelayanan atau tidak tindakan tetapi lebih dari 15 menit, bisa menyampaikan laporan kepada pemkot. Karena pelayanan publik di Surabaya harus lebih baik untuk masyarakat," katanya.
"Kami butuh semua masyarakat untuk mengoreksi bersama. Terutama apabila ada kejadian yang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan nanti," tutupnya. ***