Senin, 20 April 2026

Berita Surabaya

Pemkot Datangi Rumah Ny Santi Marisa, Warga Surabaya yang Gadai HP dan KK

Pemkot Surabaya menelusuri dan mendatangi rumah Ny Santi Marisa di Jalan Gresikan, Pacar Kembang, Tambaksari, yang belakangan ini viral.

Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: irwan sy
surya.co.id/nuraini faiq
Ny Santi Marisa, warga Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, bersama anaknya menangis di Fraksi PDIP DPRD mengadukan kondisinya yang menggadaikan apa saja, termasuk KTP demi bisa makan, Senin (15/2/2021). 

Reporter : Yusron Naufal Putra

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemkot Surabaya menelusuri dan mendatangi rumah Ny Santi Marisa di Jalan Gresikan, Pacar Kembang, Tambaksari, yang belakangan ini viral.

Baca juga: Kisah Pilu Warga Surabaya terdampak Pandemi, Ny Santi Terpaksa Gadaikan HP hingga KTP demi Makan 

Kabag Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara, mengatakan keluarga Santi Marisa tinggal di rumah warisan orangtuanya dan bukan kontrak.

"Kondisi rumahnya layak huni," kata Febri, dalam keterangan tertulis yang diterima TribunJatim.com (grup SURYA.co.id)

Di dalam rumah tersebut, Santi tinggal bersama suami dan dua anaknya.

Santi merupakan ibu rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan sehari Rp 100 ribu.

Menurut Febri, keluarga Santi sudah mendapatkan bantuan berupa Bantuan Sosial Tunai atau BST.

Bahkan, BST itu sudah didapatkannya sejak awal hingga saat ini.

Ny Santi juga menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS). 

“Saudari Santi Marisa memang tidak masuk dalam MBR, tapi suaminya yang bernama Ahmad Toha yang merupakan kepala rumah tangga sudah terdaftar dalam MBR, sehingga mendapatkan BST itu," terang Febri.

"Kalau sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat berupa BST, pasti tidak akan mendapatkan bantuan dari Pemkot, karena tidak boleh double,” sambungnya.

Baca juga: Akhirnya Ayus Sabyan Buka Suara Soal Perselingkuhan dengan Nissa Sabyan, Minta Maaf ke Istri

Baca juga: Kabar Terbaru Kampung Miliarder Tuban Kini Digeruduk Sales, TNI-Polri Juga Siaga 24 Jam Nonstop

Sementara itu, Ketua RT 03 Kelurahan Ploso, Kecamatan Tambaksari, Ribut Selamet, mengatakan warganya tersebut memang sudah mendapatkan bantuan BST. 

“Kami di RT juga ada catatan di buku RT tentang siapa saja warga yang mendapatkan bantuan dari pemerintah, dan keluarga tersebut mendapatkan BST mulai awal hingga sekarang,” ucap Ribut Selamet.

Sebelumnya diberitakan, tangis Santi Marisa (33) pecah di ruang Fraksi PDIP DPRD Kota Surabaya, Senin (15/2/2021).

Ibu dua anak itu tak bisa menahan sedih atas kondisi yang menimpa dirinya bersama keluarga.

Dampak pandemi corona benar-benar menghimpit keluarga pekerja serabutan ini pada situasi sangat sulit.

Betapa tidak, untuk sekadar makan, keluarga Santi harus menggadaikan apa saja yang dia miliki.

"HP saya gadaikan Rp 350.000. KK dan KTP juga," ucap Santi menahan tangis.

Santi harus melakukannya lantaran tidak ada l

Baca juga: Biodata Uya Kuya yang Kena Hoax Meninggal, Uang Terkuras Karena Covid-19 Tapi Bisnisnya Melimpah

Baca juga: Update Penerimaan CPNS 2021: Kuota Pemerintah Pusat Butuh 41.500 Orang, Berikut Jadwal Lengkapnya

agi yang bisa buat makan sehari-hari.

Suaminya, biasa bekerja serabutan jadi kuli proyek.

Selama pandemi tidak ada lagi pekerjaan.

Curhat ke Dewan

Tangis Ny Santi Marisa (33) pecah ruangan Fraksi PDIP DPRD Kota Surabaya, Senin (15/2/2021). 

Ibu dua anak warga Donorejo, Kecamatan Simokerto, ini tak bisa menahan sedih atas kondisi yang menimpa dirinya bersama keluarga.

Dampak pandemi corona benar-benar menghimpit keluarga pekerja serabutan ini pada situasi sangat sulit. 

Betapa tidak , untuk sekadar makan, keluarga Santi harus menggadaikan apa saja yang dia miliki.

"HP saya gadikan Rp 350.000. KK dan KTP juga," ucap Santi menahan tangis.

Santi harus melakukannya lantaran tidak ada lagi yang bisa buat makan sehari-hari.

Suaminya, Toha Mustofa, biasa bekerja serabutan jadi kuli proyek.

Selama pandemi tidak adalagi pekerjaan. 

Kehadiran Santi di ruang fraksi itu mengejutkan Achmad Hidayat, tenaga ahli Fraksi PDIP.

Achmad yang juga Wakil Sekertaris DPC PDIP Surabaya ini bisa merasakan kesedihan warga yang tiap hari tinggal di Jl Gresikan, Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari ini.

Sambil menyertakan dua anaknya yang masih usia SD dan TK, Santi tidak henti-hentinya sesenggukan.

Dia mengaku sudah tidak punya apa-apa lagi. HP satu-satunya yang juga untuk media daring sekolah anaknya terpaksa digadaikan untuk makan. 

Sudah ada beberapa bulan ini suami Santi tidak lagi bisa menafkahi dirinya bersama dua anaknya.

"Gurunya menanyakan kenapa Cantika (anak pertama) tidak mengerjakan tugas hingga sebulan lebih. Saya sedih dan malu. Soalnya HP saya gadaikan dan belum bisa kami tebus," ucap Santi lirih. 

Anak pertamanya itu sekolah di SDN Kapasan V. Santi berniat meminjam HP tetangga tapi harus masuk grup sekolah.

Saat ini, Santi makin bingung karena untuk makan saja susah. Tak ada lagi jasa kuli bangunan untuk suaminya. 

Hampir semua barang-barang di rumahnya habis digadaikan.

Tidak hanya HP, sejumlah pakaian sampai kartu keluarga (KK) pun sudah masuk pegadaian.

Anaknya yang masih duduk di kelas II SD pun ikut bingung.

Sebab, sebentar lagi akan dilaksanakan ujian kenaikan kelas.

“Kalau sampai tidak naik kelas bagaimana. Saya tidak tega, kasihan," lanjut Santi.

Sementara adiknya Nesya Anindita, anak keduanya hendak masuk TK.

Santi mengaku sedih melihat teman-teman Nesya, adik Cantika, yang sudah persiapan masuk TK.

Anak keduanya itu kadang bengong.

Keluarga Santi saat ini memang sudah tercatat sebagai masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Artinya berhak atas bantuan sosial tunai (BST).

Namun, bantuan langsung Rp 300 ribu per bulan yang sudah diterima selama ini habis hanya untuk makan. 

Karena tidak tahu harus mengadu ke siapa, Santi memutuskan untuk menghubungi Baktiono, anggota Fraksi PDI Perjuangan yang juga Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya.

Baktiono adalah anggota dewan dari Dapil Tambaksari. 

Baktiono yang masih reses mengarahkan Santi ke Fraksi PDIP di gedung dewan.

Achmad mengatakan akan ditampung dan ditindaklanjuti.

Pihaknya juga akan membantu mengomunikasikan masalah tersebut ke Pemerintah Kota agar mendapat intervensi kebijakan.

Untuk sementara, fraksi baru bisa membantu menebus HP yang telah digadaikan.

Sebab, itu penting untuk sarana anaknya sekolah virtual di masa pandemi Covid-19 ini. 

"Ada baiknya perangkat kelurahan, Kasi Kesra atau Pak RT setempat lebih tanggap dan paham pemetaan warganya yang rentan permasalahan sosial," kata Achmad. 

Baktiono juga mendesak agar sekolah juga lebih proaktif dan selalu mengecek kondisi siswa bersama keluarganya.

"Harus dimasukkan mitra warga atau intervensi bantuan sekolah kepada keluarga Santi ini," kata Baktiono.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved