Rabu, 29 April 2026

Derita Petani Apel Kota Batu

Meski Merugi Akibat Penyakit Mata Ayam, Tetap Pertahankan Ikon Kota

Dampaknya, persoalan apel jadi kompleks mulai dari hulu hingga hilir, mulai tanaman apel hingga penjualannya.

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Deddy Humana
surya/benni indo
Kepala Dinas Pertanian Batu, Sugeng Pramono (baju hijau) memasukan buah apel yang terserang mata ayam ke dalam kubangan untuk disanitasi, Minggu (7/2/2021). 

SURYA.CO.ID, BATU – Buah apel selama ini identik dengan Kota Batu, kota sejuk di sisi Barat wilayah Malang. Bahkan ikon Kota Batu pun berbentuk buah apel yang legendaris, meski belakangan ini sejumlah petani apel di sana dihadapkan pilihan yang berat karena serangan penyakit mata ayam.

Penyakit mata ayam itu sudah bak pandemi di tengah pandemi Covid-19. Dampaknya, persoalan apel jadi kompleks mulai dari hulu hingga hilir, mulai tanaman apel hingga penjualannya.

Itu juga dirasakan Supiono, petani apel asal Desa Bulukerto. Ia bertahan bertani apel meskipun kondisinya terseok, terutama di saat penghujan seperti saat ini. ‘Pandemi’ mata ayam menyerang hampir sebagian besar petani apel, tak terkecuali lahan milik Supiono.

Sedangkan Supiono tidak ingin berpindah bertani buah yang lain. Baginya, bertani apel adalah warisan turun temurun dari leluhurnya dan harus dilestarikan. Di samping apel adalah ikon Kota Batu.

Saat musim penghujan, Supiono mengeluarkan banyak biaya untuk menjaga pohon apel tetap berbuah bagus. Celakanya, tingginya modal tidak sebanding dengan tingginya penjualan.

Supiono mengaku harga buah apel dari ladangnya bisa Rp 10.000 per KG karena bentuknya lebih besar dari kebanyakan buah. Sedangkan harga pasaran, harga masih di kisaran Rp 5.500 hingga 6.000 per KG.

“Kalau kami memakai bahan kimia yang mahal, per pohon dalam satu musim biayanya hampir Rp 500.000. Di ladang saya ada 300 pohon,” aku Supiono.

Dari 300 pohon yang ada, Supiono bisa mendapatkan 3 ton buah dalam kondisi normal. Hanya saja, sekarang kondisinya sudah tidak normal. “Kemarin hanya dapat 7 kuintal. Jadi rugi tetapi saya tetap menanam. Merugi tetapi masih ada sisa, buat menyekolahkan anak sudah cukup,” akunya.

Supiono mengaku tidak ingin bercocok tanam buah selain apel. Seolah dalam kondisi apapun, ia akan mempertahankan apelnya. Bahkan Supiono ingin mewariskan pengalaman bertani apelnya kepada buah hatinya.

“Memang kondisinya ekstrem saat ini. Insya Allah saya tidak ingin berpindah menanam buah lain karena itu warisan. Dulu orangtua saya mengajari cara pengalaman apel, saya juga berharap anak-anak saya meneruskan di pertanian apel,” ujar Supiono.

Hal senada juga dikatakan Hadi Utomo, petani apel asal Tulungrejo, Kota Batu. Ia belum berencana untuk berpindah ke lain buah. Karena itu ia sekuat tenaga mempertahankan lahan apel yang ia kelola.

Utomo memiliki lahan apel seluas 3.000 meter persegi yang di dalamnya,ada sekitar 300-an pohon apel. Ia mengakui memang mengalami kerugian saat ini, terutama ketika wabah mata ayam menyerang tiga tahun belakangan. “Penyakit mata ayam menyerang sejak tiga tahunan ini, sebelumnya kondisinya tidak separah ini,” paparnya.

Utomo sudah melakukan penyemprotan untuk menghindarkan mata ayam dari buah apelnya. Nyatanya, mata ayam tetap menyerang. Saat SURYA datang ke ladang milik Utomo bersama Kepala Dinas Pertanian Batu, Sugeng Pramono, banyak buah apel yang dipetik lalu dibenamkan.

Buah apel yang dipetik tersebut diserang mata ayam, sejenis bintik hitam di buah apel, yang beberapa di antaranya membuat buah membusuk. Di sisi lain, Utomo mengeluarkan biaya untuk menjaga buahnya tetap baik. Hanya saja ia tidak tahu berapa total biaya yang dikeluarkan.

“Biaya yang dikeluarkan tidak tentu, kalau di musim penghujan banyak. Sulit dihitung,” kata Utomo.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved