Di-PHK Karena Pandemi, Jadi Pengusaha Sukses Juga Karena Pandemi
Karena pandemi, Roby jadi korban PHK. Tapi karena itu pula, jalannya menjadi pengusaha sukses terbuka kian lebar.
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Eben Haezer Panca
Pandemi covid-19 mengubah kehidupan banyak orang. Termasuk Roby Priya (23), pemuda asal Kota Madiun. Karena pandemi, dia jadi korban PHK. Tapi karena itu pula, jalannya menjadi pengusaha sukses terbuka kian lebar.
SURYA, MADIUN - Roby baru 4 bulan belakangan menjalankan bisnis kuliner. Produk yang ia buat terbilang langka bagi banyak orang: keripik batang pohon pisang.
Produk itu ia beri merk ‘Master Kethebog’. Kethebog atau debog adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti batang pohon pisang.
Pria yang tinggal di Jalan Puspowarno, Kelurahan Sogaten Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun itu mengatakan, bisnis yang telah membuatnya menangguk puluhan juta Rupiah per bulan ini dimulai dari prahara. Pada Juli 2020 silam, bersama ratusan karyawan lain di sebuah pabrik, dia menjadi korban PHK. Perusahaan menempuh langkah ini dengan dalih kesulitan karena pandemi covid-19.
PHK itu dilakukan saat Roby sedang mempersiapkan pernikahan dengan Niswatul Khoiroh (22) yang direncanakan dilangsungkan Agustus 2020.
Singkat kata, Roby pun menikah meski berstatus pengangguran. Namun, belum juga dia mendapatkan pekerjaan, September 2020, giliran istrinya yang kehilangan pekerjaan di sebuah toko online. Praktis, pasutri ini hanya bertahan hidup dengan sisa tabungan yang tak seberapa.
Setelah di-PHK, Roby sebenarnya sempat berjualan bakso pentol. Namun karena terus merugi, usaha yang dimulai dengan modal Rp 150 ribu itu hanya berlangsung seminggu.
Di tengah situasi yang tidak menentu, Roby mengikuti pelatihan pengolahan debog pisang di Bojonegoro. Salah satu materi yang diajarkan adalah mengolah debog pisang menjadi keripik.
Bekal keterampilan itulah yang kemudian membuat Roby nekat memulai eksperimen usaha keripik debog pisang. Tabungan Rp 300 ribu milik dia dan istrinya, dikurasnya untuk membeli aneka bahan. Sementara, batang pohon pisang sebagai bahan baku utama, ditebangnya dari pekarangan rumah.
Roby butuh 3 kali percobaan untuk membuat keripik debog pisang yang bisa dikonsumsi dengan rasa yang tepat. Sayangnya, setelah berhasil menemukan resep terbaik, modalnya telah habis.
“Saya lalu pinjam ke orangtua, seratus ribu (Rupiah) buat modal,” ujar Roby, Rabu (20/1/2021).
Keripik debog pisang yang telah dibuat dan dibungkus plastik, lalu coba ia jual ke warung-warung. Sayangnya, tak ada yang berminat. Lagipula, banyak yang meragukan kualitas produknya karena Roby belum memiliki izin layaknya usaha rumahan lainnya.
Tak putus harapan, dia mencoba menawarkan dagangannya ini lewat Facebook.
“Akhirnya dari situlah ada yang mau beli. Sekarang sudah kirim kemana-mana. Juga sudah ngurus izinnya segala macam dan saya beri nama Master Kethebog,” tuturnya.
Saat ini, dalam sehari Roby membuat maksimal 50 kilogram keripik dengan berbagai kemasan ukuran. Keripik itu terjual kemana-mana, bahkan sampai Hongkong, Malaysia, dan Taiwan. Untuk membuat keripik, kini dia dibantu 6 pegawai. Sebagian dari pegawainya itu adalah temannya yang dulu turut dalam gerbong PHK.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/roby-priya-dan-niswatul-khoiroh-pengusaha-keripik-batang-pohon-pisang.jpg)