Sosok Letda Dipa Dipura Anak Miing Bagito yang Jadi Prajurit Kopassus, ini Momen Saat Pembaretannya
Inilah sosok Letda Dipa Dipura, anak komedian senior Dedi Gumelar atau Miing Bagito yang kini jadi prajurit Kopassus.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Musahadah
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Musahadah
SURYA.co.id - Inilah sosok Letda Dipa Dipura, anak komedian senior Dedi Gumelar atau Miing Bagito yang kini jadi prajurit Kopassus.
Letda Dipa Dipura ikut dalam pembaretan Kopassus tahun 2008.
Sebenarnya dahulu Miing Bagito ingin menjadi tentara namun terkendala restu sang ibu.

Baca juga: Janji Jenderal Andika Perkasa kepada Prajuritnya yang Bertugas di Papua, KASAD: Laporkan ke Saya
Baca juga: Irjen Fadil Imran Dijagokan Jadi Kapolri & akan Naik Pangkat Menurut Komisi III DPR, Ini Biodatanya
Seperti dilansir dari Tribun Jabar dalam artikel 'Tak Ikuti Jejak Orang Tua, 4 Anak Artis ini Pilih jadi Tentara, Siapa Saja?'
Tapi impian itu kemudian diwujudkan oleh anaknya yang juga mempunyai darah militer dari sang kakek.
Video yang merekam momen saat Letda Dipa Pura lulus pembaretan Kopassus juga beredar luas di internet.
Salah satunya diunggah oleh Channel YouTube Flash News.
Dalam video tersebut tampak Miing Bagito bersama sang istri, Diah Mulyasari berusaha menyematkan pin di dada kiri Dipa Dipura.
Miing Bagito juga tak sanggup menahan rasa haru bercampur bangga melihat putranya berhasil menjadi prajurit Kopassus.
"Selamat, hebat kamu" kata Miing.
Diketahui juga pembaretan Kopassus saat itu melibatkan tentara Kamboja atau Cambodian Army.
Sebelumnya para tentara tersebut telah mengikuti berbagai latihan. Hingga akhirnya ikut terjun dalam seleksi Kopassus, untuk pertama kalinya.
Berikut video selengkapnya.
Baca juga: Biodata Komjen Pol Petrus Golose Kepala BNN yang Baru Naik Pangkat, Moncer di Densus 88 dan Reserse
Baca juga: Profil dan Sosok Naftali Tipagau Petinggi KNPB yang Memasok Senjata KKB Papua, ini Sepak Terjangnya
Latihan prajurit Kopassus
Sebagai pasukan khusus, tentunya latihan prajurit Kopassus agak 'berbeda' dan memang dilatih secara khusus di beberapa bidang tertentu.
Latihan prajurit Kopassus sempat diceritakan oleh mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo dalam bukunya yang berjudul 'Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan'
Dalam buku biografinya, Pramono Edhie Wibowo yang juga pernah bertugas di krops baret merah itu menceritakan latihan terberat prajurit Kopassus sudah menanti saat sampai di Cilacap.
Ini merupakan latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut, calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut.
Di sini, materi latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet.
Para prajurit Kopassus harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.
“Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai hell week atau minggu neraka. Yang paling berat, materi latihan ‘pelolosan’ dan ‘kamp tawanan’,” tulis Pramono dalam bukunya

Dalam latihan itu, para calon prajurit Kopassus dilepas tanpa bekal pada pagi hari, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu.
Selama “pelolosan”, calon prajurit Kopassus harus menghindari segala macam rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar.
Dalam pelolosan itu, kalau ada prajurit yang tertangkap maka berarti itu merupakan 'neraka' baginya karena dia akan diinterogasi seperti dalam perang.
Para pelatih yang berperan sebagai musuh akan menyiksa prajurit malang itu untuk mendapatkan informasi.
Dalam kondisi seperti itu, para prajurit Kopassus harus mampu mengatasi penderitaan, tidak boleh membocorkan informasi yang dimilikinya.
Untuk siswa yang tidak tertangkap bukan berarti mereka lolos dari neraka.
Pada akhirnya, mereka pun harus kembali ke kamp untuk menjalani siksaan.
Selama tiga hari pra prajurit Kopassus menjalani latihan di kamp tawanan.
Dalam kamp tawanan ini semua prajurit Kopassus akan menjalani siksaan fisik yang nyaris mendekati daya tahan manusia.
“Dalam Konvensi Jenewa, tawanan perang dilarang disiksa. Namun, para calon prajurit Komando itu dilatih untuk menghadapi hal terburuk di medan operasi. Sehingga bila suatu saat seorang prajurit komando di perlakukan tidak manusiawi oleh musuh yang melanggar konvensi Jenewa, mereka sudah siap menghadapinya,” tulis Pramono Edhie.
Beratnya persyaratan untuk menjadi prajurit kopassus dapat dilihat dari standar calon untuk bisa mengikuti pelatihan.
Nilai standar fisik untuk prajurit nonkomando adalah 61, namun harus mengikuti tes prajurit komando, nilainya minimal harus 70.
Begitu juga kemampuan menembak dan berenang nonstop sejauh 2000 meter.
“Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando.
Peserta yang gagal akan dikembalikan ke kesatuan Awal untuk kembali bertugas sebagai Prajurit biasa,” tutup mantan Danjen Kopassus ini.(*)