Berita Pamekasan
Sebagian Ulama Pamekasan Cemas, Desak Wisata Kedai Bukit Bintang Ditutup
Selain lokasinya berdekatan lembaga-lembaga pendidikan Islam, KBB akan menjadi tempat bertemunya laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim.
Penulis: Muchsin | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, PAMEKASAN – Keindahan di ketinggian Dusun Beltok, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan Pamekasan memang menjanjikan dimanfaatkan sebagai tempat wisata baru.
Seperti tempat wisata Kedai Bukit Bintang (KBB) yang baru dua bulan ini dibangun, meski kemudian ada desakan dari kalangan ulama agar tempat itu ditutup.
KBB yang berlokasi di ketinggian itu, sempat buka beberapa hari tetapi sekarang menjadi sepi. Desakan penutupan itu dilayangkan sebagian ulama pengasuh pondok pesantren (ponpes) yang cemas keberadaan KBB itu akan lokasinya berdekatan dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Kapolsek Palengaan, Iptu Sri Sugiarto menyikapi permintaan ulama pengasuh ponpes menyangkut wisata KBB. "Kami masih koordinasi dengan Muspika Palengaan dan menunggu hasil musyarah dengan para kiai," kata Sugiarto, Selasa (22/9/2020).
Awalnya, desakan penutupan itu datang dari 12 ulama pengasuh ponpes di Kecamatan Palengaan dan Kecamatan Pegantenan. Para ulama mendesak ditutup melalui surat pernyataan yang ditujukan kepada beberapa instansi.
Yaitu kepada Kapolsek Palengaan dengan tembusan Camat Pelengaan, Koramil Palengaan dan Kepala Desa (Kades) Larangan Badung.
Isi surat pernyataan itu merupakan hasil musyawarah tokoh masyarakat dan pimpinan ponpes, yang digelar di Ponpes Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan. Pertemuan dihadiri 11 pengasuh ponpes dan telah dilakukan pengkajian mendalam.
Sebagai pengasuh ponpes yang berdekatan dengan lokasi wisata KBB, mereka memohon pihak berwenang, agar menutup lokasi wisata itu.
Selain karena lokasinya berdekatan dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam, para ulama cemas KBB akan menjadi tempat bertemunya laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, untuk swafoto bermesraan dan tindakan lain yang tidak sesuai kultur pesantren sebagai pusat pengembangan Islam.
Apalagi selama ini pemilik tempat wisata tidak bermusyawarah lebih dulu dengan tokoh masyarakat sekitar sebelum membangun tempat itu.
Keberadaan wisata itu menimbulkan keserahan pimpinan, pengurus ponpes, wali santri dan masyarakat sekitar, karena khawatir ada santri yang melanggar batas ke luar area pesantren. Karena itu demi mencegah tumbuh suburnya tempat wisata baru yang bertentangan dengan norma etika ponpes.
Pemilik wisata KBB, Saleh belum bisa dimintai konfirmasinya. Ketika SURYA datang ke lokasi, Saleh sedang bepergian ke kota. Beberapa kali ponselnya dihubungi tidak diangkat.
"Memang kami sudah mendengar kalau (KBB) diminta ditutup. Sebaiknya temui suami saya saja,” ujar istri Saleh.
Pantauan di lapangan, wisata KBB berlokasi hanya 100 meter dari jalan raya lalu melintasi jalan makadam menanjak dengan ketinggian sekitar 10 meter. Sehingga lokasi ini mirip tempat makan minum, namun didukung indahnya pemandangan sekitar.
Di lokasi terdapat beberapa meja dan kursi dengan payung peneduh dan warung beratap alang-alang. Serta sebuah tempat untuk swafoto, maksimal dua orang dengan logo bintang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/wisata-kedai-bukit-bintang-pamekasan.jpg)