Rabu, 22 April 2026

Pilkada Surabaya

Gus Hans Kunjungi Langgar Bung Karno Kecil Hingga Makam Perancang Logo NU, ini Tujuannya

HM Zahrul Azhar Asumta As'ad atau Gus Hans melakukan serangkaian kunjungan ke tempat bersejarah di Surabaya. Di antaranya langgar bung Karno kecil

surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
Bakal calon Wakil Wali Kota Surabaya, HM Zahrul Azhar Asumta As'ad (kiri) berkunjung ke Langgar Dukuh Kayu (disebut tempat ngaji Bung Karno kecil), di Surabaya, Selasa (25/8/2020).  

SURYA.co.id, SURABAYA - Bakal calon Wakil Wali Kota Surabaya, HM Zahrul Azhar Asumta As'ad atau Gus Hans melakukan serangkaian kunjungan ke tempat bersejarah di Surabaya, Selasa (25/8/2020).

Menurut Gus Hans, kunjungan tersebut untuk menelusuri jejak para tokoh nasionalis-religius di Kota Pahlawan.

Ketiga tempat tersebut antara lain makam KH Ridwan Abdullah (perancang logo Nahdlatul Ulama), Langgar Dukuh Kayu (disebut tempat ngaji Bung Karno kecil), hingga makam KH Sayid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon (Pemberi nama Nahdlatul Ulama). Seluruhnya berada di Surabaya.

"Masing-masing tempat memiliki karakter berbeda-beda," kata Gus Hans ketika ditemui di sela kunjungan tersebut.

Kiai Ridwan, dikenal sebagai Ulama yang memiliki nilai seni yang tinggi. "Lahirnya logo NU yang dipakai hingga hari ini juga karena hasil karya Seniman yang juga Kiai NU," kata Gus Hans yang juga Dewan Penasihat PW GP Ansor Jatim ini.

"Artinya, sentuhan seni maupun rohani memang sangat perlu untuk masyarakat Surabaya. Sangat disayangkan kalau pemerintah kota Surabaya tidak mempedulikan Seniman," katanya.

Kedua, Langgar Dukuh Kayu yang dikenal sebagai simbol pemersatu masyarakat Surabaya. "Mushola ini punjernya kampung yang ada di Surabaya," kata Gus Hans.

"Setahu saya, kampung ini dahulunya didiami milik Pribumi yang bersebelahan dengan kampung pecinan, sebelahnya lagi kampung Arab atau dikenal Ampel. Di bagian utara ada Perkantoran Batavia. Bangunan milik VOC yang saat ini dijadikan sebagai kantor PTPN 10," jelas Gus Hans.

Langgar yang dibangun di 1893 tersebut juga dikenal tempat Bung Karno kecil belajar ngaji. Dalam kunjungan tersebut, Gus Hans  sempat melihat koleksi peninggalan masa lalu di Langgar ini hingga berziarah ke Makam Mbah Pitono, guru ngaji Bung Karno.

Tempat ketiga adalah Makam Kiai Mas Alwi yang merupakan seorang ilmuwan Islam dikenal mempelajari  Pembaharuan Islam” (Renaissance).

"Beliau adalah representasi Kiai yang out of the box," katanya.

"Ketika para ulama belajar di Mesir, Kiai Mas Alwi belajar ke Eropa. Beliau ingin melihat perspektif Islam dari sudut pandang lain," katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Gus Hans ingin merangkum menjadi satu komitmen bersama bahwa Surabaya memiliki banyak pahlawan dengan nasionalisme dan berwawasan luas. "Tidak pantas orang hidup di Surabaya ketika masih berpikiran rasis, membedakan suku dan bangsa," katanya.

Pun apabila dipercaya memimpin Surabaya sebagai Bakal Calon Wakil Wali Kota, ia akan memasukkan unsur budaya dalam pengembangan manusia. "Kita punya Indamargi (Industri Dagang, Maritim, dan pendidikan). Ke depan, kita tambahi dengan budaya," katanya.

"Culture ini penting dan bagian dari memperkuat nasionalis kita. Hal ini adalah icon saksi perjuangan Bung Karno," terangnya. 

--

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved