Jumat, 10 April 2026

Pilwali Surabaya 2020

Machfud Arifin Hidupkan Kembali Langgar Bersejarah KH Hasan Gipo

Langgar Gipo adalah satu dari ratusan bangunan yang pernah menjadi saksi sejarah Kota Surabaya.

Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Parmin
Foto: istimewa
Langgar Gipo setelah direnovasi Machfud Arifin. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Langgar Gipo adalah satu dari ratusan bangunan yang pernah menjadi saksi sejarah Kota Surabaya.

Langgar ini pernah menjadi tempat pemberangkatan jemaah haji asal Surabaya.

Langgar ini menjadi tempat Presiden pertama atau yang saat ini dikenal Ketua Dewan Tanfiziyah pertama Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH. Hasan Gipo, untuk mengaji dan melakukan kegiatan masyarakat.

Tempat bersejarah ini sudah dijadikan bangunan warisan budaya. Sayangnya, hingga saat ini Langgar Gipo mati, luput dari perhatian pembangunan yang diagungkan pemerintah Kota Surabaya.

“Sejak tahun 2018 sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya bahkan sudah disurvei juga tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya,” kata Keluarga/Ahli Waris Sagipoddin, Abdul Wahid Zein di Surabaya, Senin (10/8/2020).

Bahkan para ahli waris harus saling bahu membahu mencari bantuan kepada lembaga masyarakat dan tokoh untuk berupaya menghidupkan kembali langgar Gipo.

Machfud Arifin mengamati Langgar Gipo sebelum direnovasi.
Machfud Arifin mengamati Langgar Gipo sebelum direnovasi. (Foto: istimewa)

Kondisinya miris, bangunan dua lantai ini tampak rapuh dan kumuh. Jauh dari kesan bangunan bersejarah.

“Ahli waris akhirnya berjuang mengharapkan dari para tokoh dan komunitas pemerhati sejarah untuk pemugaran,” ungkap Zein yang juga Ketua Umum (Ketum) Ikatan Keluarga Sagipoddin (IKSA).

Lantai yang seharusnya bisa menjadi alas duduk tampak tidak bisa dipakai lantaran rusak dimakan zaman.

Sumur yang menjadi sumber mata air pun tidak terpakai. Tangga yang dibangun pada tahun 1700-an masih tampak orisinil konsep keluarga Sagipodin namun terlihat tampak rapuh.

Namun, sejak Idul Adha 1441 Hijriah kemarin, Langgar Gipo tampak kembali cantik.

Kondisi rumah ibadah berarsitektur kolonial yang dulu memprihatinkan tak mendapat perhatian pemerintah kini tampak kembali hidup.

Pilar-pilar yang tampak berkarat kembali berwarna. Jendela-jendela langgar kembali berfungsi.

Terlihat ada revitalisasi yang dilakukan. Namun tentu, pemugaran tetap menjaga khas sejarah Langgar Gipo.

Zein mengatakan, pemugaran Langgar Gipo bukan dilakukan pemerintah kota. Perbaikan rumah ibadah bersejarah ini disebut ahli waris atas inisiasi Machfud Arifin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved