Breaking News:

Berita Mancanegara

Ratusan Guru Pilih Mundur Ketimbang Kembali ke Sekolah

Keprihatinan utama mereka adalah, sekolah-sekolah ternyata belum mampu menerapkan social distancing.

Penulis: Deddy Sukma
Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID/DOK/ILUSTRASI
Orangtua dan anak mengikuti kegiatan belajar jarak jauh atau online pada masa pembelajaran di tengah pandemi Covid-19. 

SURYA.CO.ID, SALT LAKE CITY – Pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar (KBM) ketika wabah Coroba (Covid-19) belum dipastikan berakhir memang dilematis. Ada yang mati-matian menentang, bahkan ratusan guru di Negara Bagian Utah, AS, memilih mundur atau bahkan mengajukan pensiun dini ketimbang harus kembali mengajar di sekolah.

Lebih dari 1.000 guru di negara bagian itu sudah menyatakan kecemasannya kalau harus kembali mengajar di sekolah saat pandemi.

Dilansir laman ksltv.com di Salt Lake City, Jumat (28/7/2020) lalu, para pendidik di Utah menyatakan bahwa keprihatinan utama mereka adalah, sekolah-sekolah ternyata belum mampu menerapkan social distancing.

Selain itu, penegakkan protokol kebersihan sebagai salah satu cara mencegah penularan Covid-19, juga tidak memadai. “Angka penularan terlalu tinggi, dan kami tidak siap. Sekolah-sekolah kita sebenarnya belum siap dibuka kembali," tegas Katie Nelson, salah seorang guru.

Nelson bahkan sempat melakukan survey pada sesama guru untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka kalau harus kembali mengajar. Survey itu mendapat respons lebih dari 1.000 guru hanya dalam dua hari.

Hasilnya, 70 persen responden menyatakan 'tidak setuju' dengan pernyataan 'merasa aman.' Para pengurus di serikat guru pun mengetahui ada guru-guru yang menolak untuk kembali ke sekolah.

“Jumlah respondennya mengejutkan hanya dalam hitungan pekan. Para guru itu sangat cemas, apakah bisa menjauhkan anak-anak selama berada di dalam kelas," kata Michael McDonough dari Perhimpunan Pendidikan Granite.

Survey dari Nelson menunjukkan bahwa 61 persen guru tidak yakin bahwa pihak sekolah bisa menyediakan sarana sanitasi dan kebersihan. Seperti sarana cuci tangan, pembersih ruangan, cairan disinfektan dll.

"Karena semua kebutuhan itu sudah terjual habis, dan kita tidak bisa membelinya sendiri. Bagaimana kita bisa menyediakan semua sarana di dalam gedung sekolah sebesar itu?" ujar Nelson.

Di Distrik Sekolah Granite, pihak berwenang mencoba memberi pengertian kepada para guru yang ingin mengundurkan diri atau cuti, meski deadline dari peringatan para guru itu sudah lewat.

“Saya perkirakan banyak guru yang menerima tawaran itu. Dan akan sangat sulit menempatkan staf pengajar kembali di kelas-kelas. Karena itu kita akan kekurangan sangat banyak guru," keluh McDonough.

Sampai saat ini sudah banyak guru yang mengajukan permintaan mengajar secara online atau daring, tetapi pihak sekolah tidak tahu berapa banyak posisi yang dibutuhkan sampai ada orangtua yang mendaftarkan siswa baru. *

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved