Khofifah vs Risma dalam Pilkada Surabaya 2020, Siapa Pemenang dalam Adu Kuat Pengaruh?
Khofifah vs Risma dalam Pilkada Surabaya, siapa pemenang dalam adu kuat pengaruh?
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Tri Mulyono
Penulis: Sofyan Arif Candra I Editor: Tri Mulyono
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Khofifah vs Risma dalam Pilkada Surabaya, siapa pemenang dalam adu kuat pengaruh?
Judul berita di atas menjadi berita trending atau populer sejak Kamis (30/7/2020) setelah diunggah Kompas TV.
Adu kuat pengaruh Khofifah vs Risma juga menjadi bahasan seru dalam diskusi daring bertajuk NgoPi (Ngobrol Pintar) Forum Jokowi, dengan mengusung tema: Jurnalis Bicara Pilwali Surabaya Surabaya 2020, Rabu (29/7/2020).
Seperti diketahui, Pilkada Kota Surabaya 2020 bakal jadi ajang adu pengaruh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dengan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini atau Risma.
Pengaruh dua tokoh politik ini diprediksi berlanjut mulai dari serangkain ajang Pilkada Jawa Timur dan kembali memanas di pemilihan Wali Kota.
Khofifah tentu akan mendukung calon yang bisa bekerja sama dengan pemprov.
Salah satu nama yang santer disebut kini Machfud Arifin yang pernah menjadi Ketua Tim Kampanye Jokowi - Ma'ruf di Jawa Timur.
Apalagi Mantan Juru Bicara Khofifah, Zahrul Azhar Asad, santer disebut bakal menjadi bakal calon wakil wali kota berpasangan dengan Machfud Arifin.

Risma pun tak kalah.
Ia bakal merapat kepada calon yang diusung PDI Perjuangan.
Meski partainya belum mengeluarkkan nama, Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti, menjadi salah satu kandidat kuat peserta pilkada.
Sementara dari kalangan birokrat, ada Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota, Eri Cahyadi.
"Pengaruh bu Risma juga sangat kuat pada masyarakat kota Surabaya.
Tiap kebijakan bu Risma itu mendapat dukungan atau supportive yang cukup kuat di Surabaya.
Bu Khofifah sebagai ketua muslimah itu mendapat dukungan konkrit di akar rumput.
Terutama pada jejaring sosial keagamaan kader-kader muslimah," ujar Pengamat Politik Unair, Hary Fitrianto.
Machfud Arifin yang juga mantan Kapolda Jatim, bakal mengantongi dukungan 31 kursi di parlemen Kota Surabaya.
Sementara PDIP dapat mencalonkan pasangan sendiri tanpa koalisi karena memiliki 15 suara parleman.
Kepentingan koordinasi provinsi dengan kota serta keberlanjutan program jadi salah satu alasan pengaruh Khofifah dan Risma di Pilkada Surabaya.

Sarat kepentingan
Sementara itu, peneliti Surabaya Survei Center (SSC), Surokim Abdussalam menilai, baik Khofifah maupun Risma mempunyai kepentingan yang besar dalam Pilkada Surabaya 2020.
"Dua-duanya punya kepentingan yang kental. Risma ingin punya suksesor dengan apa yang sudah dia letakkan selama ini.
Dan Khofifah punya kepentingan agar koordinasi dengan pemkot tidak panas lagi," kata Surokim Abdussalam dalam diskusi daring bertajuk NgoPi (Ngobrol Pintar) Forum Jokowi, dengan mengusung tema: Jurnalis Bicara Pilwali Surabaya Surabaya 2020, Rabu (29/7/2020).
Acara yang dipandu Aven Januar dan Edward Dewaruci ini menghadirkan pembicara sejumlah jurnalis senior di Surabaya. Yakni, Manajer Editor Online TribunJatim Network Mujib Anwar, Kardono Jawa Pos, Antok BeritaJatim.com, Hidayat Memorandum, dan Trisnadi.
Lebih lanjut, Surokim Abdussalam menjelaskan, Khofifah ingin ada harmonisasi komunikasi antara Pemprov Jatim dengan Pemkot Surabaya yang selama ini tidak terjalin.
Namun begitu, untuk Khofifah menentukan dukungan bukanlah sesuatu yang mudah.
"Jika jagoannya Bu Khofifah yang sebenarnya tidak dapat rekom dari parpol maka Bu Khofifah akan lebih banyak mendukung calon yang beredar, dan potensi terbesar yaitu MA," lanjut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo, Madura ini.
Sedangkan Risma sendiri, lanjut Surokim Abdussalam, pasti akan mendukung calon yang mendapatkan rekomendasi PDI Perjuangan, karena ia adalah Ketua DPP Bidang Kebudayaan PDI Perjuangan.
"Kedua ibu ini tidak mungkin mendukung jagoan yang sama dan pasti dalam ceruk yang berbeda," lanjut Surokim Abdussalam.
Perbedaan jalur antara Khofifah dan Risma juga sudah terlihat mulai dari langkah politik seperti dukungan dalam Pilgub Jatim sebelumnya hingga peristiwa terakhir terkait penanganan virus Corona ( Covid-19 ).
"Hal-hal tersebut memberikan petunjuk bahwa langkah dan jalurnya berbeda," tambahnya.
Senada dengan Surokim Abdussalam, Manajer Digital Tribun Jatim Network, Mujib Anwar menambahkan, seringkali muncul ketidaksepahaman antara kedua kepala daerah tersebut.
"Saya kira momentum Pilkada Surabaya ini akan menjadi salah satu panggung antara calonnya Bu Risma atau yang dukung Bu Khofifah," kata Mujib.
Mujib menambahkan, kedua kepala daerah ini pasti akan memberikan dukungan kepada salah satu calon walaupun dukungan tersebut tidak tertulis.
Dukungan kedua kepala daerah ini menurut Mujib akan menjadi penentu dalam kontestasi Pilkada Surabaya 2020.
Karena Risma selain seorang petahana Wali Kota Surabaya juga menjabat sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan.
Sedangkan Khofifah selain gubernur Jawa Timur juga masih menjadi Ketum PP Muslimat NU.
"Kalau soal kriteria, orang Surabaya sudah melek politik dan rasional pendekatan yang dipilih calon akan berbeda dengan daerah lain yang lainnya di Jawa Timur," kata Mujib.
Warga Kota Pahlawan akan menempatkan kriteria jujur, punya kompetensi untuk mengelola kota Surabaya akan menjadi prioritas utama.
Selain itu, warga juga akan mempertimbangkan sosok yang bisa mengembangkan ekonomi serta lingkungan.
"Taman ini merupakan bagian dari lingkungan dan selama 10 tahun Bu Risma berhasil sehingga dinilai masyarakat berhasil memimpin Kota Surabaya," kata Mujib Anwar.
"Jadi kalau di Surabaya jualan politik identitas, saya rasa tidak akan laku," pungkasnya . (*)