Jumat, 1 Mei 2026

Virus Corona di Surabaya

Pakar Psikologi Bagi Tips agar Mudah Beradaptasi di Masa Transisi New Normal

Dr. Jimmy memberikan tips agar masyarakat dapat lebih mudah beradaptasi di masa transisi new normal.

Tayang:
Penulis: Zainal Arif | Editor: Parmin
foto: dok pribadi
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Ciputra, Dr. Jimmy Ellya Kurniawan, M.Si., Psikolog. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sudah hampir 3 bulan masyarakat mengkarantina diri di rumah. Selama itu pula sebagaian masyarakat mungkin telah menemukan hobi atau pekerjaan baru.

Namun, tak sedikit pula dalam keadaan kehilangan arah maupun tujuan.

Terkait hal ini, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Ciputra, Dr. Jimmy Ellya Kurniawan, M.Si., Psikolog (47) menyebut masyarakat kini tengah memasuki tahap Movement (membangun kebiasaan-kebiasaan baru).

Tetapi, sebagian masih Unfrezzing (mencairkan kebiasaan-kebiasaan lama) karena dinilai belum bisa menerima keadaan new normal.

Meski begitu, adapula sebagian masyarakat yang senang dengan masa transisi new normal ini, karena dirasa membantu mereka untuk dapat bertahan hidup.

"Sekalipun tetap harus menjalani berbagai protokol kesehatan, namun perubahan di masa transisi new normal ini lebih dapat diterima, sehingga akan lebih cepat untuk melewati tahap unfreezing dan movement, ketimbang situasi karantina yang merugikan bagi mereka," ujar Dr. Jimmy, Rabu (17/6/2020).

Masyarakat harus tetap beradaptasi dengan baik, terutama dalam perubahan yang sangat cepat di masa pandemi Covid-19 ini.

Dr. Jimmy memberikan tips agar masyarakat dapat lebih mudah beradaptasi di masa transisi new normal.

Pertama, masyarakat harus dapat memahami bahwa kesehatan dan perekonomian harus sama-sama dipertahankan.

"Untuk itu harus ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menstabilkan kedua aspek kehidupan tersebut," kata pria asal semarang tersebut.

Kedua, masyarakat harus memiliki paradigma yang benar, dengan cara membaca berita atau informasi dari sumber yang dapat dipercaya.

Pasalnya dari kesalahan informasi, dapat terbentuk suatu keyakinan yang salah, sehingga cara pandang seseorang juga ikut salah.

"Seperti masyarakat yang menganggap Covid-19 itu hanya merupakan konspirasi, atau anggapan bahwa covid-19 bisa hilang jika terkena panas matahari. Ini contoh cara pandang yang salah dan belum terbukti secara ilmiah yang diakui WHO," ungkapnya.

Hal itu pula yang mendorong masyarakat untuk menolak mematuhi protokol kesehatan dalam kehidupan new normal.

"Ini bisa menjadi penghalang bagi perubahan pola perilaku sehat, terutama jika itu padangan yang salah yang dimiliki oleh tokoh-tokoh yang berpengaruh bagi masyarakat sekitarnya," tutur Dr Jimmy.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved