Smartwealth
Saat ini Waktu Tepat Membeli Reksa Dana Saham
Benar bahwa di tengah pandemi Virus Corona atau Covid-19 masih akan ada ketidakpastian dalam beberapa waktu ke depan
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id, Surabaya – Benar bahwa di tengah pandemi Virus Corona atau Covid-19 masih akan ada ketidakpastian dalam beberapa waktu ke depan. Namun, di sisi lain, saat ini adalah waktu tepat membeli reksa dana khususnya reksa dana saham. Mengapa demikian?
Head of Wealth Management&Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya mengungkapkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari awal tahun di level 6.299, saat ini di level 4900-an. Atau sudah turun sekitar 22% dan memiliki valuasi di level 14x atau dapat dikatakan murah dibandingkan dengan valuasi IHSG wajar berada di level 17-18x. “Sehingga saat ini merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan investor untuk menambah porsi investasi reksa dana saham,” ujarnya.
Ivan menjelaskan, jika dilihat dari analisa berbagai manajer investasi dan sekuritas, prediksi IHSG sampai dengan akhir tahun 2020 di level 5.000 hingga 5.500 atau ada potensi imbal hasil sampai dengan12% dari level saat ini.
Menurutnya, reksa dana dapat dibeli melalui APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana). Pilihlah APERD yang mendistribusikan jenis reksa dana yang lengkap dari Manajer Investasi terkemuka dan dapat ditransaksikan melalui digital. Itu untuk memudahkan investor bertransaksi dari mana saja dan kapan saja serta dengan minimum pembelian awal investasi yang terjangkau.
Untuk pemilihan produk, investor pemula yang masih minim pengetahuan dan pengalaman bisa mencoba dengan membeli produk dari salah satu Manajer Investasi dengan dana kelolaan terbesar di Indonesia. Perlu dilihat juga kinerja historikal produk yang baik atau dapat mengalahkan tolok ukurnya.
Sementara itu, Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana menyatakan, sebenarnya setiap saat adalah waktu tepat membeli reksa dana, karena reksa dana pada umumnya adalah instrumen investasi jangka panjang. Namun, kalau dilihat dari outlook-nya, reksa dana saat ini memang sedang dalam valuasi yang cukup rendah dan menarik untuk diinvestasikan. Selain soal IHSG, Jemmy juga melihat market Indonesia merupakan salah satu emerging market dengan imbal hasil yang cukup menarik dan cenderung diminati oleh investor asing.” Hal ini merupakan salah satu mengapa sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli reksa dana,” katanya.
Agar sukses berinvestasi, Jemmy menyarankan investor untuk dapat berinvestasi reksa dana secara berkala, sehingga dapat mengurangi potensi risiko yang dapat timbul. “Kami juga menyarankan untuk dapat mendiversifikasi portfolio investor ke beberapa kelas aset reksa dana, contohnya sebagian ke reksa dana saham dan sebagian lagi ke reksa dana pasar uang,” tandasnya.
Secara lebih rinci, Jemmy menjelaskan perbedaan reksa dana pasar saham dan pasar uang.
Menurutnya, reksa dana saham adalah reksa dana dengan portfolio efek berbasis saham, umumnya porsi sahamnya berkisar di antara 1 - 80% minimal, dan sisanya lagi adalah cash dengan kisaran minimal 1-20% dari total portfolio.
Risiko yang terkandung di reksa dana saham tergolong tinggi, tentu dengan potensi return yang lebih tinggi dibandingkan kelas aset yang lain. Profil risiko yang disarankan adalah agresif dengan jangka waktu investasi sekitar 5 tahun atau lebih.
Sedangkan reksa dana pasar uang adalah reksa dana dengan portfolio efek berbasis deposito, maupun utang jangka pendek dengan durasi di bawah 1 tahun.
Risiko yang terkandung di reksa dana pasar uang cenderung rendah, dengan potensi return yang tidak terlalu tinggi juga dibandingkan dengan kelas aset yang lebih berisiko. “Profil risiko yang disarankan adalah konservatif dengan jangka waktu investasi sekitar 1 tahun atau lebih,” ujarnya.
Ivan Jaya menambahkan reksa dana dibagi menjadi reksa dana terbuka dan tertutup. Reksa dana terbuka adalah reksa dana yang dapat dibeli dan dijual sewaktu-waktu setiap hari bursa. Sedangkan reksa dana tertutup dapat dibeli dan dijual pada waktu yang telah ditentukan. Yang paling umum di Indonesia adalah reksa dana terbuka.
Reksa dana terbuka dibagi menjadi beberapa jenis tergantung isi portofolionya. Jenis-jenis dari reksa dana terbuka yang paling umum antara lain reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan reksa dana saham.
Ivan pun memberikan rekomendasi portofolio investasi berdasarkan profil risikonya. Untuk profil risiko konservatif, alokasi aset dalam kondisi normal maupun saat pandemi sebaiknya pada pasar uang (60%), pendapatan tetap (35%), dan saham 5%.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/rti-business-di-kantor-perwakilan-bursa-efek-indonesia-jatim.jpg)