Berita Jember

Daya Beli Masyarakat Rendah Karena Corona, Jember Kembali Mengalami Deflasi

Covid-19 telah menyebabkan daya beli masyarakat Jember menurun. Dampaknya, Jember pun mengalami deflasi.

surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Jalan menuju pasar Tanjung di Jember ditutup portal. Pembatasan kegiatan perdagangan di pasar telah menyebabkan daya beli masyarakat menurun hingga akhirnya Jember mengalami deflasi. 

SURYA.co.id | JEMBER - Penurunan harga bawang putih dan telur ayam ras memicu deflasi bulan Mei 2020 di Kabupaten Jember.

Selain dua komoditas itu, cabai rawit, minyak goreng, dan emas perhiasan, juga turut memicu deflasi. Kelima komoditas tersebut menjadi penyumbang tertinggi deflasi di Jember untuk bulan Mei.

Hal ini terlihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Mei 2020 yang diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, Selasa (2/6/2020). Disampaikan dalam rilis tersebut, Kabupaten Jember mengalami deflasi 0,03 persen di bulan Mei 2020.

Dari rilis yang disampaikan BPS, sepuluh komoditas penyumbang deflasi adalah bawang putih, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, emas perhiasan, tomat, gula pasir, telepon seluler, pisang, dan kemeja katun pria.

Deflasi tersebut dipicu karena turun harganya sejumlah komoditas di atas. Harga komoditas turun karena dipicu panen raya yang membuat stok melimpah.

"Juga ada dampak pembatasan terhadap pasar dan wilayah distribusi barang di berbagai daerah sehingga Jember sebagai salah satu produsen bahan pangan, stok barangnya masih banyak, sehingga harga turun. Di sisi lain, juga ada daya beli masyarakat rendah," ujar Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Jember Candra Birawa, Selasa (2/6/2020).

Rendahnya daya beli masyarakat ini dampak dari pandemi Corona yang saat ini melanda Indonesia.

Khusus untuk harga emas, Candra menambahkan, harga emas dunia masih tinggi di bulan Mei. Namun jika dibandingkan bulan sebelumnya ada penurunan harga emas dunia. Meskipun harga emas perhiasan turun di bulan Mei jika dibandingkan bulan April, ada trend masyarakat Jember tidak membeli emas di bulan tersebut. Masyarakat banyak menjual emas daripada membelinya. Penjualan emas itu untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, karena adanya penurunan pendapatan.

Hal itulah yang diduga menjadi pemicu kenapa emas perhiasan memicu deflasi di bulan Mei 2020 di Kabupaten Jember, meskipun secara akumulasi year on year (yoy) emas perhiasan masih memicu inflasi.

Sebelumnya, di bulan April, Kabupaten Jember juga mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Kondisi IHK bulan Mei 2020 ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan bulan Mei 2019 dan 2018. IHK Jember bulan Mei 2019 mengalami inflasi sebesar 0,64 persen.

Pada bulan Mei 2019 dan bulan Mei 2020 ada fenomena yang sama yakni Bulan Ramadan atau Puasa. Namun ada situasi yang berbeda pada Ramadan bulan Mei 2019 dan bulan Mei 2020 yakni pandemi Corona.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved