Citizen Reporter

Suasana Unik Kampung Arab di Ampel

Wisata religi Ampel di Surabaya menjadi oase bagi yang menginginkan ketenangan batin. Suasananya juga menarik karena menjadi pertemuan banyak budaya.

citizen reporter/Siti Zulaikah
Pintu masuk ke wisata religi Sunan Ampel. 

Di antara riuhnya gerak perekonomian di Surabaya, ada sudut yang menenangkan siapa pun yang datang ke sana. Itulah kawasan wisata religi Sunan Ampel.

Begitu masuk kawasan Jalan Sasak dan sekitarnya, suasana yang terasa cukup unik. Ada banyak etnis Timur Tengah berbaur dengan etis Tionghoa, Madura, dan Jawa. Keunikan di Ampel itu akan dirasakan ketika mendengarkan mereka berkomunikasi. Logat yang digunakan beragam. Indah sekali.

Terletak di Surabaya bagian utara, tepatnya di Jalan Petukangan I, Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, lokasi itu sangat mudah dijangkau. Wilayahnya dikenal dengan sebutan Kampung Arab. Akulturasi budaya yang sangat kuat tampak antara komunitas terbesar Timur Tengah dan komunitas lokal Madura, Jawa, dan Tionghoa. Budaya-budaya mudah berbaur di kawasan Ampel dengan bahasa keseharian di Kampung Arab.

Yang dirasakan pertama selain mendengarkan warga berkomunikasi, aroma yang muncul di sepanjang jalan adalah wangi. Wanginya khas parfum Timur Tengah.

Ketika dikunjungi, Minggu (5/4/2020) sekitar pukul 10.00, suasana tidak seperti biasa. Ampel dalam situasi normal seperti tidak pernah tidur. Siang dan malam sama ramainya. Pengunjung kawasan wisata religi itu selalu memadati sekitar makam. Karena situasi saat ini serba terbatas, Ampel tampak lebih lengang meskipun tetap ada penjual makanan, busana, perlengkapan salat yang buka.

Kawasan itu menjadi berkumpulnya budaya, pusat perekonomian, dan masyarakat multikultur. Jalan Panggung dan Sasak adalah lokasi akses perekonomian di kawasan Ampel.

Kawasan wisata Ampel menawarkan beberapa spot wisata religi, kuliner, wisata belanja, dan wisata sejarah. Sebagai penyuka wisata religi ada Masjid Sunan Ampel. Itu termasuk masjid tua di Indonesia dan merupakan cagar budaya Surabaya. Ratusan peziarah setiap hari berkunjung, bahkan ribuan di saat acara-acara tertentu.

Selain masjid, para peziarah bisa mengunjungi makam Sunan Ampel beserta istri dan kerabat yang terletak di kompleks masjid. Makam Mbah Sonhaji (Mbah Bolong) dan Mbah Soleh yang merupakan pembantu Sunan Ampel, makam Pahlawan Nasional KH Mas Mansyur, dan makam beberapa syuhada haji.

Mereka yang menyukai wisata kuliner bisa menikmati beberapa makanan khas Timur Tengah. Roti maryam, pukis, kebab, beberapa makanan olahan kambing seperti gule kacang hijau, nasi tomat, nasi briyani, dan nasi kebuli yang khas dan lezat tiada tanding yang dijual di gang-gang dan restoran.

“Jika ingin menikmati sajian khas Timur Tengah, di sini tempatnya. Suasananya mendukung. Jangan heran, porsinya biasanya besar,” kata Marta, salah satu pengunjung.

Penyuka wisata belanja bisa menikmati indahnya pernak-pernik aksesori dan produk yang menggambarkan budaya Timur Tengah. Busana muslim, sarung, hijab, baju koko, beragam aroma minyak wangi, dan perlengkapan ibadah banyak tersedia. Berbagai kitab dan berbagai jenis kurma juga bisa didapatkan dengan mudah.

Jika menyukai wisata sejarah, ada beberapa peninggalan bangunan zaman pemerintahan Belanda. Surabaya bagian utara adalah bagian penting pertumbuhan ekonomi dengan pelabuhan Tanjung Perak yang ada di dekat kawasan wisata. Ada empat bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya, yaitu Rumah Sakit Al-Irsyad, Hotel Kemadjoean, Rumah Tinggal Keluarga Oesman Nabhan, dan Sekolah Al-Irsyad.

Suasana semakin indah di saat malam tiba. Lantunan ayat-ayat suci terdengar dari musala-musala sekitar masjid. Peziarah khusyuk melantunkan surat Yasin. Beberapa peziarah berdiam di dalam masjid. Bertumpuk buku yang memuat surat Yasin disediakan di wilayah masjid.

Siti Zulaikah
Guru SDN Rangkah IV Surabaya
Zulaikah703@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved