Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Ketupat Digantung di Pintu untuk Tolak Bala di Tuban

Menjelang Ramadan, warga Dusun Simbatan, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban membuat ketupat dan lepet. Itu untuk menolak bencana.

Tayang:
Editor: Endah Imawati
ahmad zaimul haq
Masyarakat mencari ketupat sebelum Ramadan. 

Di tengah-tengah merebaknya wabah di berbagai daerah tidak menyurutkan semangat penduduk daerah paling barat wilayah Jawa Timur yaitu Kabupaten Tuban untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. Warga di Dusun Simbatan, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban melaksanakan tradisi Kupatan Ruwah, Rabu (8/4/2020).

Uniknya, selepas dikendurikan, dua jenis ketupat, yaitu kupat dan lepet digantung di atas pintu utama rumah-rumah warga. Itu sebagai tolak-bala atau penangkal bencana.

Kupatan Ruwah merupakan tradisi membuat ketupat di saat Sya’ban yang secara turun temurun dilakoni penduduk Dusun Simbatan. Tradisi itu dilaksanakan sekitar dua minggu sebelum puasa Ramadan tiba.

Ruwah merupakan penamaan bulan Sya’ban versi Jawa. Dalam kebudayaan Jawa, nama-nama bulan atau yang disebut sasi diawali dengan Sasi Suro (Asy-Syura). Berdasarkan urutannya, Sasi Ruwah atau Sya’ban menempati urutan ke delapan pada kalender Jawa. Sedangkan, urutan sasi selanjutnya yaitu Sasi Pasa atau bulan puasa, baru tiba pada Sasi Riyoyo (Syawal).

Oleh karena itu, pada dua pekan terakhir Sya’ban sebelum memasuki bulan puasa itulah momentum tradisi Kupatan Ruwah berlangsung. Namun demikian, Kupatan Ruwah tidak serta merta berlangsung selama dua pekan, tetapi hanya dipilih satu hari saja. Sosok yang berhak menentukan hari pelaksanaan Kupatan Ruwah adalah pemuka agama desa atau sering disebut modin desa.

Ketika modin desa telah menentukan hari itu, maka seluruh warga setempat menyepakatinya. Seperti ketupat pada umumnya, ketupat di Sasi Ruwah dibuat dengan janur (daun muda pohon kelapa) dan lontar (daun pohon siwalan). Ada pula yang dibuat dengan bungkus daun pisang.

Bentuknya ada tiga macam, yaitu menyerupai persegi, lonjong memanjang, dan lonjong agak gemuk. Ketiga bentuk ketupat itu memiliki nama yang berbeda. Ketupat persegi memiliki nama kupat, ketupat lonjong memanjang disebut lepet, lalu ketupat yang dibungkus dengan daun pisang disebut alu-alu.

Dari segi rasanya pun berbeda. Ketupat persegi memiliki rasa seperti lontong karena berbahan dasar beras tanpa campuran bumbu, sedangkan lepet dan alu-alu memiliki rasa gurih karena berbahan dasar beras ketan dicampur kelapa parut dan ditaburi sedikit garam.

Proses memasak ketupat juga cukup mudah hanya dengan merebusnya selama kurang lebih empat jam. Parmi (56), warga Dusun Simbatan mengatakan, membuat ketupat harus sabar.

Nggodhok kupat sing bener patang jam, nek kurang kupate gelis mambu, nek kesuwen yo gosong,” tuturnya saat ditemui Rabu (8/4/2020). Artinya, merebus ketupat yang paling tepat itu empat jam lamanya, kalau kurang dari itu ketupat bisa cepat basi dan jika terlalu lama memasaknya bisa gosong.

Dina Kupatan Ruwah di Dusun Simbatan disepakati dilaksanakan Rabu sore (8/4/2020). Pagi hari warga setempat mulai merebus ketupat masing-masing. Biasanya ketupat yang dibuat menyerupai persegi yang terbuat dari janur dan lontar dibuat sehari sebelumnya. Bungkus lepet dan alu-alu dibuat secara langsung sebelum ketupat direbus.

Tahun-tahun sebelumnya setelah ketupat siap, para warga membawa ketupat dan berkumpul di rumah kepala desa untuk doa bersama atau kenduri ketupat yang dipimpin oleh modin desa. Sayangnya, untuk perayaan tradisi Kupatan Ruwah tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Warga setempat menaati imbauan pemerintah untuk tidak mengadakan kerumunan demi menghindari penyebaran corona. Kepala desa dan modin desa mengimbau agar warga setempat berdoa di rumah masing-masing atau melaksanakan kenduri Kupatan Ruwah bersama keluarga di rumah.

Tamu (63), salah satu warga berkata, “Kundangane nomah wae. Ora nomahe petinggi, wayahe corona.” Artinya ialah kenduri ketupat Sya’ban dilaksanakan di rumah saja karena sedang musim wabah corona.

Meskipun ketupat dikendurikan di rumah masing-masing, tradisi menggantung dua jenis ketupat, yaitu kupat dan lepet di atas pintu utama rumah setiap warga tidak terlewatkan. Warsini (59) juga melakukannya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved