Senin, 18 Mei 2026

Mahdi Betjak Tuangkan Romansa Kehidupan Tukang Becak Lewat Lukisan

Sebagai seniman yang juga penarik becak, Mahdi Betjak punya perspektif sendiri soal kehidupan para penarik becak yang ia tuangkan lewat lukisan

Tayang:
Penulis: Christine Ayu Nurchayanti | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
Pameran lukisan karya Mahdi Betjak di Rumah Singgah Barata Jaya 3 Surabaya, Selasa (3/3/2020). Pameran yang berjudul Tempo Hari ini akan berlangsung hingga Sabtu (14/3/2020). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Penarik becak sekaligus seniman asal Surabaya, Mahdi Betjak, kembali menggelar pameran tunggal bertajuk 'Tempo Hari'.

Berlangsung mulai Sabtu (29/2/2020) hingga Sabtu (14/3/2020) mendatang, pameran ini bertempat di Kerjasama59, Jalan Baratajaya Surabaya.

Setidaknya terdapat 27 lukisan yang ia usung, semuanya memotret kehidupan tukang becak dan keresahan yang ia pendam.

Semua karya yang ia pamerkan tidak memiliki judul. Mahdi ngin pengunjung bisa memberinya sesuai interpretasi masing-masing.

Salah satu karyanya melukiskan seorang pengayuh becak yang membawa dua penumpang, laki-laki dan perempuan. Langit di belakang mereka berwarna abu-abu. Beberapa tiang listrik terlihat, kabel menjuntai di antaranya.

"Lukisan ini menceritakan seorang tukang becak yang seharusnya pulang. Namun, tiba-tiba seseorang yang sakit perut datang dan minta diantarkan. Maka dengan riang hati, si tukang becak mengantarkan," katanya sambil menunjuk lukisan bermedia akrilik di atas kanvas berukuran 44 × 73 sentimeter.

Lukisan lain menggambarkan seorang perempuan mengenakan baju biru dan laki-laki berbaju merah. Keduanya tampak menari, sang perempuan menggerakkan sampur di tangannya.

"Lukisan ini menggambarkan aksi teatrikal. Di belakang mereka ada becak dan sepeda onthel. Menggambarkan keseharian saya sebagai tukang becak sekaligus seniman," ungkap pria yang mulai berkarya tahun 80'an ini.

Dalam melukis, Mahdi Betjak menghadirkan figur yang seolah terdistorsi. Ia mengaku menjadikannya sebagai ciri khas.

"Saya ingin berbeda dengan pelukis yang lain. Oleh karena itu bentuknya saya buat seperti ini," imbuhnya.

Selain distorsi, citra becak dan perempuan tampak kental dalam sejumlah karya-karyanya.

"Kalau becak memang identik dengan keseharian saya. Sementara bagi saya, perempuan ialah manusia terindah dalam dunia seni dan sastra. Keduanya seringkali hadir dalam karya saya," Mahdi Betjak mengungkapkan.

Untuk warna, seniman bernama asli Madi ini banyak mengusung kelabu menuju gelap. Banyak figur ia lukiskan berbaju merah.

"Warnanya sesuai dengan warna perasaan saya yang cenderung gelap. Sementara, merah merepresentasikan luapan hati yang marah. Banyak hal yang menghambat tukang becak. Bahkan, hari ini hampir semua jalur (jalan) tidak boleh dilewati," katanya.

Ia mendapat inspirasi di sela-sela waktunya menunggu penumpang. Sesekali ia membuat sketsa, di waktu lain ia juga menulis puisi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved