Sabtu, 18 April 2026

Berita Kesehatan

Cara Mengobati Darah Tinggi Pakai 6 Bahan Herbal Rumahan, Mudah Didapat dan Tak Perlu Ribet

Berikut Cara Mengobati Darah Tinggi Pakai 6 Bahan Herbal Rumahan, Mudah Didapat dan Tak Perlu Ribet

Tribun Jateng
Ilustrasi: Cara Mengobati Darah Tinggi Pakai 6 Bahan Herbal Rumahan, Mudah Didapat dan Tak Perlu Ribet 

SURYA.co.id - Ada beberapa bahan herbal rumahan yang ternyata ampuh mengobati tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Tekanan darah tinggi bisa menyebabkan beberapa penyakit kronis jika tak segera diobati.

Seperti stroke, serangan jantung, kehilangan penglihatan, dan juga bisa mempengaruhi ginjal serta fungsi kognitif.

Kita tidak bisa merasakan hipertensi. Bahkan banyak orang yang bahkan tidak tahu mereka memiliki darah tinggi.

Hipertensi bisa muncul tanpa gejala fisik, yang diam-diam merusak pembuluh darah dan menyebabkan ancaman kesehatan yang serius.

Cara Mengobati Asam Urat Pakai Ramuan Herbal Berbahan Dasar Nanas & Madu, Simak Langkah-langkahnya

Cara Mudah Mengobati Rematik Pakai 7 Jenis Bumbu Dapur, Mudah Didapat dan Bebas Bahan Kimia

Tak melulu obat-obatan kimia, tekanan darah tinggi juga bisa diobati dengan beberapa bahan herbal rumahan.

Melansir dari Nova dalam artikel '7 Pengobatan Rumah untuk Turunkan Tekanan Darah Tinggi', berikut ulasannya.

1. Buah dan sayuran

Banyak buah dan sayuran yang sarat dengan senyawa penting yang terbukti efektif dalam mengendalikan tekanan darah tinggi

Seperti wortel, tomat, kentang, lemon, pisang, dan melon merupakan makanan sehat yang bisa menstabilkan tekanan darah tinggi kita.

2. Teh jahe, kapulaga, dan teh kembang sepatu 

Teh sehat ini termasuk teh yang efektif untuk mengurangi tekanan darah tinggi

Teh ini bisa menjaga tekanan darah terkendali. 

3. Madu 

Madu memiliki beragam khasiat penyembuhan. 

Penelitian menunjukkan jika madu efektif untuk menurunkan tingkat gula darah. 

Ini merupakan cara sederhana yang juga bisa mengobati tekanan darah tinggi

Dikatakan jika madu juga memiliki efek menenangkan pada pembuluh darah. 

Untuk mendapatkan khasiatnya, kita hanya perlu mengonsumsi madu murni tanpa campuran apapun. 

4. Herbal 

Rempah-rempah dan biji-bijian menunjukkan hasil ajaib dalam mengobati tekanan darah tinggi

Bawang putih diketahui membantu mengencerkan darah dan mencegah penyumbatan pada pembuluh darah. 

Biji bunga matahari juga bisa menurunkan kadar kolesterol.

Ekstrak biji seledri,biji rami, cakar kucing, kunyit, biji semangka, dan biji fenugreek termasuk bahan lain yang diketahui efektif dalam pengobatan hipertensi

5. Air kelapa 

Minuman sehat ini bisa memberi kita dosis potasium yang membantu menurunkan tekanan darah. 

Air kelapa merupakan minuma alami yang bisa memberikan dorongan kesehatan dan vitalitas serta membantu mengendalikan tekanan darah. 

6. Dark chocolate 

Makanan enak ini bisa membantu kita mengendalikan tekanan darah tinggi

Sebagian kecil coklat hitam akan membantu mengendalikan tekanan darah

Di samping itu, konsumsi makanan dengan nutrisi yang tidak terjaga, berpotensi untuk memperburuk kondisi penyakit yang diderita.

Banyak orang mengabaikan jumlah kalori di dalam makanan yang disantapnya.

Selain sulit untuk meraih berat badan ideal, hal tersebut bisa berdampak buruk bagi mereka yang memiliki hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Padahal, menjaga berat badan ideal ataupun mengurangi berat badan, dapat membantu penderita mengontrol tekanan darah tinggi.

Dilansir dari Laman Alodokter, berikut 4 makanan yang menjadi  pantangan bagi para penderita darah tinggi

1. Makanan mengandung lemak jenuh dan lemak trans

Lemak jenuh dan lemak trans merupakan dua musuh utama yang menjadi pantangan darah tinggi.

Salah satu makanan yang banyak disukai yang yang kaya akan lemak jenuh adalah kulit ayam.

Selain itu, beberapa jenis makanan kaya lemak jenuh termasuk daging merah, mentega, dan susu tinggi lemak.

Terlalu banyak mengonsumsi lemak jenuh dan lemak trans bisa berdampak buruk bagi penderita tekanan darah tinggi.

Keduanya dapat meningkatkan kandungan LDL atau kolesterol jahat.

Melonjaknya kadar kolesterol jahat menjadikan kondisi penderita tekanan darah tinggi semakin memburuk, dan rentan terkena penyakit jantung koroner.

2. Makanan kemasan

Pizza yang dibeli dalam kemasan beku, umumnya lebih berisiko karena ditambahkan lebih banyak garam dibanding pizza yang langsung disantap.

Padahal garam dan natrium sangat berbahaya jika dikonsumsi berlebihan bagi penderita darah tinggi.

Selain itu, makanan dalam kemasan yang juga perlu diperhatikan konsumsinya termasuk sup atau saus dalam kemasan.

Dalam satu kaleng sup kemasan mengandung natrium hingga 900-2.000 mg.

Disarankan untuk mengonsumsi sup atau saus rendah garam yang dibuat sendiri dari bahan-bahan segar.

3. Kopi dan minuman berkafein lainnya

Tak hanya makanan yang menjadi pantangan penderita tekanan darah tinggi, ada juga minuman yang perlu menjadi perhatian, yaitu kopi, teh, dan soda.

Ketiga minuman tersebut mengandung kafein yang dapat berkontribusi buruk bagi penderita hipertensi.

Kafein adalah zat yang mampu menaikkan kadar tekanan darah secara sementara.

Penderita tekanan darah tinggi sebaiknya menanyakan kepada dokter apakah perlu membatasi minuman berkafein atau tidak.

Tapi, alangkah baiknya membatasi minuman tersebut hanya 200 mg per hari.

Jumlah tersebut setara dengan secangkir kopi racik (brewed coffee) dengan kapasitas 355 ml.

4. Acar

Mungkin banyak yang menyukai makanan yang dilengkapi dengan acar sayuran.

Namun, biasanya agar tahan lama dan enak, acar biasanya diberi garam.

Tentu kandungan garam berlebihan dapat berefek buruk bagi kesehatan penderita hipertensi.

Sebagai langkah antisipasi, acar yang bisa dijadikan pilihan adalah acar mengandung garam di bawah 100 miligram.

Bagi penderita tekanan darah tinggi, menjalani gaya hidup sehat adalah salah satu kunci untuk memelihara tekanan darah tetap stabil.

Konsultasikan dengan dokter untuk mendapat rekomendasi pola makan yang tepat bagi penderita tekanan darah tinggi.

Selain menghindari beragam makanan pantangan darah tinggi di atas, penderita hipertensi juga perlu berolahraga teratur, menurunkan berat badan yang berlebih, dan mengelola stres dengan baik.

Pengobatan hipertensi penting untuk mengurangi risiko kematian karena biasanya berhubungan dengan penyakit jantung.

Obat darah tinggi pun harus dikonsumsi rutin dan tepat dosis untuk manfaatnya bisa dirasakan.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk diagnosis tekanan darah tinggi?

Hipertensi didiagnosis melalui teknik tes tekanan darah.

Teknik ini harus dilakukan beberapa kali untuk memastikan hasil yang akurat.

Jika tekanan darah tinggi, dokter mungkin meminta kita untuk memeriksa kembali dan melacaknya berulang kali secara berkala.

Bila tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg dalam pemeriksaan biasa, dokter akan mendiagnosis kita mengidap tekanan darah tinggi.

Jika kita menderita penyakit kronis, misalnya diabetes atau penyakit ginjal, dan tekanan darah lebih 130/80 mm Hg, kita juga terdiagnosis hipertensi.

Dokter akan meminta kita untuk berbaring terlentang untuk mengukur tekanan darah Anda.

Tekanan darah akan lebih rendah pada anak-anak daripada orang dewasa dan akan meningkat secara bertahap seiring bertumbuhnya anak.

Kita perlu bertanya kepada dokter untuk mengetahui lebih jelas tentang tekanan darah yang normal.

Perlu dipahami juga, hasil bacaan tekanan darah di dokter dan di rumah bisa berbeda.

Pasalnya, jika Anda merasa gugup setiap berada di rumah sakit atau di tempat praktik dokter, tekanan darah dapat naik pada setiap kunjungan.

Sehingga, tentu saja hasil yang terlihat dari pemeriksaan dokter pun menunjukkan tekanan darah yang tinggi.

Fenomena ini disebut juga “white coat hypertension”. Karena itu, dokter mungkin ingin mengukur tekanan darah kita lebih dari satu kali, dan jauh dari ruang praktik.

Ini akan membantu menentukan apakah kita hanya mengalami "white coat hypertension", atau kita benar-benar memiliki tekanan darah tinggi.

Jika kita memiliki "white coat hypertension", kemungkinan risiko tekanan darah tinggi bisa terus meningkat di masa depan.

Oleh karena itu, penting untuk memeriksa tekanan darah ke dokter atau ahli kesehatan lain setidaknya setiap 6-12 bulan.

Sumber: Nova
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved